NovelRead
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 9

Aluna ingin menolak dan berkata bahwa dia tidak membutuhkan kencan untuk menebus rasa bersalah seperti itu. Namun Arga sudah lebih dulu menarik pergelangan tangannya dan membawanya masuk ke mobil. Kencan yang Arga maksud ternyata hanyalah membawanya ke taman hiburan terbesar di kota. Namun sepanjang perjalanan, perhatiannya tak pernah benar-benar tertuju pada Aluna. Arga terus memegang ponselnya dan sibuk menjawab telepon dari Salsa dengan nada lembut seolah sedang menenangkan seseorang. "Sayang, aku benar-benar sedang rapat." "Mau kue stroberi dengan krim dobel?" "Mana mungkin aku nggak merindukanmu? Setiap detik aku selalu memikirkanmu." Seperti bayangan yang tak diperlukan, Aluna berjalan di sisinya, menyaksikan bagaimana Arga mencurahkan seluruh kesabaran dan kasih sayangnya pada perempuan lain. Dia ingin mengatakan bahwa sejak awal dia memang tidak ingin datang ke kencan ini. Lebih baik semua ini diakhiri saja, agar Arga bisa kembali menemani Salsa. Namun sebelum sempat berkata apa pun, seseorang yang begitu dikenalnya tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Itu Salsa. Matanya bengkak karena menangis, suaranya bergetar saat berbicara, "Kamu bilang sedang rapat, ternyata kamu malah keluar berkencan dengannya? Arga, kalau kamu masih menyukainya ... kita putus saja." Selesai berkata demikian, Salsa langsung berbalik dan berlari pergi. "Salsa!" Arga seketika panik. Dia segera mengejarnya, meraih tangannya, dan menariknya kembali. "Ini nggak seperti yang kamu pikirkan. Dengarkan penjelasanku. Waktu itu dia menggantikanmu menemani Raffi, jadi aku berjanji menemaninya satu kali kencan sebagai imbalan. Ini cuma kompensasi, nggak lebih. Jangan salah paham." Namun Salsa terus memberontak, menangis, dan sama sekali tidak percaya. Tepat saat itu, sebuah papan iklan raksasa di samping mereka mendadak longgar, lalu ambruk dan jatuh ke arah tempat Salsa berdiri. "Awas!" Arga refleks mendorong Salsa menjauh dengan segenap tenaga yang dia miliki. Papan iklan yang berat itu menghantam Arga dengan keras. Tubuhnya roboh seketika, terkapar di genangan darah. "Arga!" Suasana di lokasi langsung berubah kacau balau. Ambulans datang dengan sirene meraung nyaring. Takut sesuatu yang lebih buruk terjadi pada Arga, Aluna pun akhirnya tetap ikut ke rumah sakit. Di luar ruang operasi, Salsa terus menangis, sampai-sampai hampir kehabisan napas. Mendengar tangisan itu, Aluna tak kuasa menahan diri untuk berbicara, "Sudahlah, jangan menangis lagi. Menangis nggak akan menyelesaikan apa pun." Salsa terisak, suaranya tersendat, "Aku tahu ... sebenarnya waktu dia bilang itu cuma kompensasi, aku sudah percaya. Aku hanya ... terbiasa dimanja olehnya. Aku cuma ingin dia membujukku sedikit lebih lama. Aku nggak menyangka dia akan celaka. Kalau saja aku tahu jadi begini, aku nggak akan membuat keributan ... " Tak lama kemudian, lampu ruang operasi akhirnya padam. Dokter keluar dan mengatakan bahwa operasinya berjalan lancar. Namun malam ini adalah masa observasi krusial. Harus ada orang yang berjaga semalaman, memperhatikan obat-obatan dan infus, karena hal itu menentukan apakah pasien bisa segera sadar. Aluna mengembuskan napas lega dan bersiap pergi. Namun Salsa tiba-tiba menarik tangannya, matanya dipenuhi permohonan dan kepanikan. "Jangan pergi ... aku ... aku nggak bisa merawat orang sakit. Aku takut salah langkah ... tolong, malam ini temani aku menjaga dia, ya?" Aluna menatap wajah Salsa yang pucat dan tak berdaya, lalu melirik Arga yang masih terbaring tak sadarkan diri. Pada akhirnya, dia tetap mengangguk. Malam itu, Aluna nyaris tidak tidur. Dia mengukur suhu tubuh Arga, mengawasi infus, membersihkan badan, dan mengganti perban. Semua perawatan yang rumit dan melelahkan dia lakukan seorang diri. Sementara Salsa, dia bersandar di tepi ranjang, dan tak butuh waktu lama, dia pun tertidur kelelahan. Hingga fajar hampir menyingsing, Aluna benar-benar kelelahan sampai kelopak matanya terasa berat. Barulah saat itu Salsa terbangun dan menggantikannya. "Kamu istirahat saja. Biar aku yang menjaga di sini," kata Salsa. Aluna memang sudah berada di batas kemampuannya. Dia mengangguk, lalu berbalik hendak menuju ruang istirahat di ujung lorong untuk memejamkan mata sejenak. Namun tiba-tiba dia teringat bahwa berkas medis Arga sepertinya tertinggal di meja perawat, sehingga dia pun kembali untuk mengambilnya. Saat baru saja tiba di depan pintu ruang rawat, melalui kaca kecil di daun pintu, Aluna melihat sesuatu yang membuat langkahnya terhenti. Arga sudah sadar.

© NovelRead, hak cipta dilindungi Undang-undang

Booksource Technology Limited.