NovelRead
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 10

Salsa sedang memeluk tubuh Arga, menangis tersedu-sedu hingga wajahnya basah oleh air mata. "Arga! Kamu akhirnya sadar! Maafkan aku, ini semua salahku ... kalau saja aku nggak keras kepala, kamu nggak akan sampai begini ... kamu nggak menyalahkanku, 'kan?" Wajah Arga masih pucat, tetapi dia mengangkat tangan dan dengan lembut mengusap rambut Salsa. Suaranya lemah, namun penuh kelembutan. "Bodoh. Aku sangat mencintaimu, mana mungkin aku menyalahkanmu?" Dia terdiam sejenak, menatap wajah Salsa yang tampak letih dengan mata sembap, lalu bertanya dengan nada penuh rasa sayang, "Kamu berjaga semalaman tanpa tidur? Pasti capek, ya? Lain kali, biarkan perawat saja yang mengurus hal-hal melelahkan seperti ini. Aku nggak mau kamu kelelahan." Tubuh Salsa sedikit menegang. Tatapannya berkilat sesaat, lalu dia berkata dengan suara lembut dan manja, "Aku nggak tenang kalau meminta perawat melakukannya ... dokter juga bilang harus orang terdekat yang mengawasi dengan saksama." Kata-kata itu tampaknya menyentuh Arga hingga ke dasar hatinya. Di matanya, tampak perasaan cinta dan keharuan yang begitu pekat yang nyaris meluap. Dengan lembut, dia mengangkat wajah Salsa, lalu mengecup bibirnya. Beberapa saat kemudian, dia terkekeh pelan dengan dan berbisik pelan dengan nada memanjakan, "Sudah berapa kali berciuman, tapi masih juga lupa cara bernapas? Nggak apa-apa, nanti suamimu ini pelan-pelan akan mengajarimu ... " Aluna tidak sanggup melihat lebih jauh. Dia berbalik diam-diam dan pergi tanpa suara. Saat tiba di depan rumah sakit, dia hendak memesan taksi untuk pulang, tapi tiba-tiba Salsa berlari tergesa dari belakang. "Tunggu!" Aluna menghentikan langkahnya. Salsa berhenti di hadapannya, napasnya masih tersengal, wajahnya tampak canggung dan gelisah. "Tadi aku ... melihat bayangan orang di depan pintu. Ternyata memang kamu. Semalam ... terima kasih sudah merawat Arga." Salsa menggigit bibirnya, suaranya merendah, nyaris bergetar. "Dia ... dia bangun dan mengira akulah yang menjaganya semalaman. Aku ... aku hanya ingin dia lebih menyayangiku, jadi aku nggak menyangkalnya ... maaf. Aku nggak berniat merebut apa yang seharusnya menjadi milikmu ... " Aluna menatap gadis di hadapannya, dan merasa sangat lelah. Dia menggeleng pelan. "Nggak apa-apa. Kalian adalah sepasang kekasih. Kalau itu bisa membuat hubungan kalian lebih dekat, ya bagus." Salsa terdiam, menatap Aluna dengan wajah penuh keterkejutan. "Kamu ... kamu sama sekali nggak marah? Kamu benar-benar mencintainya sampai sejauh itu sampai bisa memberi tanpa menuntut apa pun? Bahkan saat pengorbananmu diambil orang lain pun kamu nggak peduli?" Bibir Aluna sedikit terbuka, tetapi tak satu pun kata langsung keluar. Rasa tak berdaya kembali menyesak dadanya. Kenapa semua orang selalu mengira dia mencintai Arga sampai tidak bisa melepaskan diri? Namun dia tidak bisa menjelaskannya. Akhirnya, dengan nada datar dia hanya berkata, "Terserah kamu mau berpikir apa." Setelah itu, Aluna tidak lagi menoleh ke arah Salsa. Dia menghentikan sebuah taksi dan meninggalkan tempat yang membuat dadanya terasa sesak. Keesokan harinya, visa Aluna akhirnya terbit. Di saat yang sama, asisten Jordan datang tepat waktu dan menyerahkan sebuah kartu bank yang berisi 20 miliar ke tangannya. "Nona Aluna, Pak Jordan menyampaikan terima kasih atas kerja keras Anda selama lima tahun ini. Semoga ke depannya semuanya berjalan lancar." "Terima kasih." Aluna menerima kartu itu. Perasaannya bercampur aduk, antara pahit dan getir, namun di balik semuanya, terselip rasa lega, seolah satu babak panjang dalam hidupnya akhirnya benar-benar berakhir. Dia menyaksikan asisten itu naik mobil dan pergi. Tepat pada saat itu, sebuah mobil sport yang begitu dikenalnya melesat cepat dan berhenti di hadapannya. Arga turun dari mobil. Tatapannya tajam menyapu sedan hitam yang baru saja menjauh, alisnya sedikit berkerut. "Siapa orang tadi?" tanyanya sambil menatap Aluna, sorot matanya penuh selidik. Jantung Aluna berdegap sesaat, tetapi wajahnya tetap tenang. "Pemilik rumah. Dia datang untuk menagih uang sewa." Keraguan di mata Arga belum sepenuhnya sirna. Namun jelas ada hal yang lebih penting baginya saat ini, sehingga dia tidak melanjutkan pertanyaan itu. "Besok malam, Salsa mengadakan pesta ulang tahun," katanya singkat. "Kamu harus datang." "Masalah di taman hiburan kemarin membuatnya sedikit salah paham. Dia selalu merasa kita masih belum benar-benar putus. Aku ingin kamu mengatakannya sendiri, di depan semua orang, menjelaskan dengan jelas bahwa hubungan kita sudah lama berakhir, supaya dia bisa tenang." Setelah berkata begitu, Arga menunggu reaksi Aluna. Namun ekspresi sedih, penolakan, atau setidaknya keraguan yang dia bayangkan tidak muncul sama sekali. Aluna hanya mengangguk dengan tenang. "Aku mengerti." Sikapnya yang terlalu tenang justru membuat hati Arga terasa tidak nyaman, bahkan sedikit kesal, seperti pukulan yang sudah dia kumpulkan sepenuhnya, tetapi hanya mendarat di atas kapas. Dia menatap Aluna selama beberapa detik, lalu akhirnya berkata kaku, "Kalau begitu, sampai besok." Melihat mobilnya menghilang di tikungan jalan, Aluna berpikir dia tidak akan datang. Saat waktunya tiba, dia akan memilih meninggalkan kota ini untuk memberi tahu semua orang bahwa di antara mereka, segalanya sudah benar-benar berakhir, tanpa sisa, tanpa kemungkinan apa pun lagi. Keesokan harinya, Aluna membawa koper sederhana dan tiba di bandara. Saat menatap layar besar informasi penerbangan di terminal keberangkatan, dia menarik napas dalam-dalam. Ada rasa bebas yang telah lama tak dia rasakan. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Arga masuk. [Kamu sudah sampai mana? Pesta akan segera dimulai.] Aluna mengangkat ponsel, bersiap membalas untuk memberitahunya bahwa dia sudah berada di bandara, akan pergi ke luar negeri, dan mulai saat ini jalan mereka berpisah sepenuhnya. Dengan begitu, Arga dan Salsa pun akhirnya bisa benar-benar merasa tenang. Namun tepat saat Aluna sedang mengetik balasan, sebuah panggilan tiba-tiba masuk. Nama yang tertera di layar membuatnya terkejut. Itu Jordan. Dia ragu sejenak, lalu mengangkat telepon. "Halo, Pak Jordan?" Dari seberang telepon terdengar suara Jordan yang selalu rendah dan dingin, tanpa emosi berlebih. [Kamu di mana?] "Bandara," jawab Aluna sambil menatap gerbang keberangkatan. "Sebentar lagi berangkat." Di dalam telepon terdengar bunyi ujung pena mengetuk permukaan meja beberapa kali. [Jangan pergi.] Nada suara Jordan tiba-tiba mengeras. [Ada satu transaksi yang ingin aku bicarakan denganmu.] Napas Aluna tertahan. "Transaksi apa?" [Lima tahun lalu, aku memberimu sebuah tugas untuk mendekati Arga. Imbalannya 20 miliar.] ujar Jordan dengan tempo tenang, tetapi setiap katanya menghantam jantung Aluna seperti palu berat. [Sekarang, setelah lima tahun, aku ingin memberimu satu tugas lagi.] Dia sengaja berhenti sejenak, seolah memberi Aluna waktu untuk mencerna pembukaan yang mengejutkan itu. Lalu, kata demi kata, jelas tanpa keraguan, dia menjatuhkan bomnya. [Imbalannya, 2 triliun.] Dua triliun? Napas Aluna langsung tertahan. Jarinya menegang, hampir tak mampu menggenggam ponsel. Besarnya angka itu menghantam kesadarannya. Pikirannya seketika kosong, bahkan dia sempat mengira dirinya salah dengar. "A ... apa tugasnya?" Dari seberang telepon, suara Jordan tetap rendah dan menusuk, namun kali ini terselip sesuatu yang sulit dijelaskan. [Menikah denganku.]

© NovelRead, hak cipta dilindungi Undang-undang

Booksource Technology Limited.