Bab 8
"Aluna, cepat pergi ke pabrik tua di Kota Metis! Salsa diculik oleh Raffi!"
Raffi adalah musuh bebuyutan Arga dan selalu berseteru dengannya.
Saat Aluna tiba, banyak anak buah Arga sudah mengamankan area sekitar pabrik tua itu, tapi mereka tidak berani bertindak karena takut membahayakan sandera.
Wajah Arga, yang biasanya sinis dan acuh, kini tertutup bayangan gelap. Begitu melihat Aluna, Arga langsung meraih pergelangan tangannya dengan sekuat tenaga hingga membuatnya sakit.
"Raffi secara khusus memintamu," ucap Arga dengan suara dalam, "Pergilah dan bertukar dengan Salsa."
Hati Aluna bergetar hebat. Sebelum sempat dia menolak, Arga buru-buru menambahkan, "Tenang saja! Aku sudah bernegosiasi dengan dia. Dia nggak akan menyentuhmu! Kamu hanya perlu ... menemaninya mengobrol dan bertahan selama tiga hari saja."
Tiba-tiba nadanya melunak, dan matanya memancarkan kelembutan yang begitu Aluna kenal. "Aku tahu kamu masih menyukaiku. Kalau kamu mau pergi kali ini, aku janji akan berkencan denganmu sehari."
Aluna menatapnya, dan ingin sekali mengatakan kepadanya ...
Bahwa dia tidak menyukainya lagi.
Aluna sama sekali tidak ingin melakukan hal semacam itu untuknya.
Namun ... dia tidak bisa.
Perjanjian itu bagaikan belenggu yang mengekang tenggorokannya.
Dia tidak bisa menentang misi Jordan, atau membocorkan kebenarannya.
Selain itu, dia sangat mengenal Arga. Meski dia menolak, pria itu pasti akan mencari cara untuk memaksanya pergi, demi Salsa.
Rasa putus asa membanjiri dirinya, bagai gelombang yang menenggelamkan.
Akhirnya, Aluna hanya menundukkan pandangannya, dan berkata dengan suara lembut bak asap tipis, "Baik. Aku akan pergi."
Arga menghela napas lega. Dia meraih kepala Aluna dan ingin menepuknya, tapi tangannya terhenti di udara, dan akhirnya dia hanya berkata pelan, "Tiga hari lagi aku akan menjemputmu."
Aluna diantar oleh orang-orang Arga ke lokasi yang ditentukan oleh Raffi.
Begitu masuk, dia langsung tahu bahwa janji Arga soal Raffi "tidak menyentuhnya" hanyalah lelucon belaka.
Raffi menatapnya dari atas ke bawah dengan pandangan jijik. "Aluna, pertama kali aku lihat kamu, aku langsung terangsang! Aku hanya janji pada Arga untuk nggak menyentuh tubuhmu, tapi aku nggak pernah bilang aku nggak akan menggunakan cambuk, 'kan? Coba bayangkan, kalau daging cantikmu dicambuk sampai merah, itu pasti menggairahkan sekali."
Dia sama sekali tidak peduli dengan perlawanan Aluna, dan memerintahkan anak buahnya untuk mengikatnya.
Cambuk dingin yang disertai desiran angin menghantam tubuh Aluna dengan keras.
Nyeri hebat langsung menyapu sarafnya. Aluna mengatup giginya erat-erat agar tidak menjerit kesakitan.
"Ya! Ekspresi ini yang kuinginkan. Keras kepala! Sangat menggairahkan!" Raffi semakin terangsang, dan cambuknya mendarat lebih rapat dan keras. "Dulu waktu aku mau mengambilmu dari Arga, si berengsek itu melindungimu seperti harta yang berharga! Dia bahkan sampai menabrakku pakai mobil dan membuatku terbaring di rumah sakit selama berbulan-bulan!"
"Sekarang? Haha! Demi pacar barunya, dia dengan mudah menukarmu! Kekasih lama memang nggak ada apa-apanya dibanding yang baru! Benar, 'kan? Hm?"
Cambuk itu bagai ular berbisa, menggerogoti tubuh dan harga diri Aluna sedikit demi sedikit.
Aluna hampir pingsan karena sakit. Namun, sejak awal hingga akhir, dia tetap menggigit bibir, tanpa mengucap sepatah kata pun.
Tiga hari itu terasa seperti siksaan di neraka selama tiga tahun.
Saat akhirnya dia dilepaskan, tubuhnya sudah dipenuhi luka bekas cambukan.
Dengan tubuh yang nyeri luar biasa, dia menyeret dirinya kembali ke apartemen kecil itu. Dengan tangan gemetar, dia membersihkan dan mengobati lukanya sendiri. Setiap inci kulitnya menjerit kesakitan.
Keesokan harinya, Arga datang.
Melihat kondisi Aluna yang tampak tak terlalu terluka, dia menghela napas lega. Mungkin dia merasa bahwa Raffi masih bisa dipercaya.
Aluna menutup matanya, dan tak menjelaskan bekas cambukan yang tersembunyi di balik pakaiannya.
Apa gunanya menjelaskan?
Apa mungkin Arga akan merasa iba?
"Untuk apa kamu datang ke sini?" Suara Aluna serak dan lelah.
"Untuk mengajakmu kencan. Ayo, cepat. Hari ini aku bohong pada Salsa, dan bilang ada urusan di kantor. Jadi aku harus pulang tepat waktu."
Hati Aluna kembali terkejut.
Dulu, saat bersamanya, Arga sering pulang larut malam tanpa kabar.
Sekarang, demi Salsa, dia bahkan memperhatikan waktu agar bisa pulang tepat waktu.
Ternyata, dia memang benar-benar mencintai Salsa dengan sepenuh hati.