NovelRead
Open the NovelRead App to read more wonderful content

Bab 3 Dia Bersama Pria yang Mirip Javier

Begitu ditanya oleh Javier, Hannah teringat mengapa kancing manset ini terasa familier. Dia pernah melihat pria ini di sebuah pesta perayaan. Kemeja yang dipakainya saat itu memang dihiasi kancing manset ini. Mata Hannah membelalak. Jangan-jangan pria yang merebut keperawanan Tania adalah pria ini? Mengingat Tania dibawa Nenek Silvia untuk menjalani inseminasi buatan sebelum pernikahan dan berhasil, api kecemburuan di hati Hannah makin membara! Otak Hannah berputar cepat. Dia tiba-tiba berlutut di depan Javier, seperti ketakutan, lalu berkata sambil gemetar, "Pak Javier, adikku masih muda dan bandel, sudah punya banyak pacar sebelum nikah denganmu, bahkan hamil nggak tahu anak siapa. Tapi dia paksa ayahku nikahkan dia ke Keluarga Budiman hanya demi uang, nggak ada alasan lain. Dia akan patuh selama Keluarga Budiman memberinya uang yang cukup. Kumohon, jangan jadi hantu dan menakut-nakutinya, juga jangan menakutiku .... Aku takut ...." Di akhir kata, Hannah menangis. Wajah Javier suram menakutkan. Dia memandangi Hannah dengan dingin. Suaranya rendah serta dingin bagai es. "Aku ingin tahu, kancing manset ini kamu dapat dari mana?" Sembari mendongakkan mata berkaca-kaca ke buku harian di tangan Javier, Hannah menjawab dengan sedih dan teraniaya, "Malam tanggal dua puluh tiga ... di hutan pinggiran kota ... aku tarik dari baju pria itu ...." "Malam itu, kenapa kamu bisa di sana?" Hannah mengingat isi buku harian Tania, lalu berucap seraya menangis, "Aku hanya ingin tangkap kepompong jangkrik. Katanya itu bisa sembuhkan kakak sulungku. Sekarang dia masih terbaring di ruang ICU." Javier menundukkan tatapan pada Hannah. Ekspresinya yang teraniaya dan ketakutan membuat hati Javier sedikit terguncang. Malam itu, dia juga menatapnya dengan sorot mata teraniaya dan menangis sambil memohon membiarkan dirinya pergi. Kesuraman raut wajah Javier sedikit berkurang. Dia menarik Hannah berdiri. Nada suaranya juga menjadi lebih lembut. "Bangunlah." Hannah terkejut dalam hati, ternyata pria malam itu benar-benar Javier. Akan tetapi, Hannah memasang ekspresi bingung dan ketakutan saat memandang Javier dengan panik. Melihat wajah Hannah pucat pasi, Javier mengira Hannah menganggapnya hantu. Dia menenangkannya dengan lembut, "Aku nggak mati, kamu nggak perlu takut." ... "Uhuk uhuk ...." Saat Tania bangun keesokan harinya, seluruh tubuhnya sakit. Terutama tenggorokannya, kering dan gatal. Tania memiringkan badan dan berbatuk sambil mendekatkan kepalan tangan ke mulut. Begitu melihat bekas merah di lengannya, Tania termangu. Kemudian, kejadian semalam diputar ulang di benaknya seperti film. Semalam, dia bersama seorang pria .... Pria itu, wajahnya persis dengan Javier! Memikirkan Javier, tubuh Tania langsung merinding. Tania tiba-tiba ingat dia harus menghidangkan teh pada para sesepuh pada pagi hari kedua setelah malam pengantin! Sekarang hari sudah siang, tetapi dia masih di hotel .... Tanpa menghiraukan rasa sakit dan pegal di tubuhnya, Tania terburu-buru memakai pakaian dan berlari keluar dari hotel. Di kediaman Keluarga Budiman. Seluruh anggota Keluarga Budiman sudah pulang. Bahkan pengacara harta warisan Javier, Jihan Wijaya, juga datang. Mereka duduk di sana hampir setengah hari, tetapi tidak kunjung mendengar Nenek Silvia membicarakan masalah pembagian harta. Wajah mereka semua sangat tidak senang. Selena diam-diam mengamati ekspresi mereka, lalu melirik Nenek Silvia yang wajahnya masam karena Tania tidak ada di kamar. Hati Selena berbunga-bunga. Semalam, pengawalnya memukul pingsan Tania, lalu mengirimnya pada Ferdi si gila itu. Sekarang Tania sudah pasti mati disiksa atau cacat karena Ferdi. Tania tidak akan mendapatkan harta warisan Javier. Memikirkan ini, hati Selena sangat lega. Selena berkata sinis sambil memainkan gelang di pergelangan tangannya, "Semalam aku menyadari beberapa kalung edisi terbatasku hilang, pasti dicuri Tania. Dengar-dengar, kehidupan pribadinya berantakan, dan tangannya nggak bersih. Dia nikah dengan mendiang Kak Javier hanya demi uang. Orang dari keluarga kecil seperti itu memang nggak bisa diandalkan. Aku nggak paham, Kak Javier sudah mati, buat apa nikahkan wanita untuknya? Kalau takut Kak Javier kesepian di alam baka, bisa bakarkan boneka kertas saja ...." "Diam! Masih muda sudah lancang dan nggak sopan, benar-benar mempermalukan Keluarga Budiman. Urusanku nggak perlu kamu ikut campur!" Nenek Silvia menatap tajam ke arah Selena. Meskipun sudah tua, wibawa Nenek Silvia masih kuat. Selena dimarahi hingga tidak berani lanjut bicara. Selena hanya bisa merajuk pada Kakek Herman. "Kakek, semua yang kukatakan ini benar apa adanya." Nenek Silvia tersenyum sinis. "Benar apa adanya? Kamu susah payah fitnah Tania, karena mau rebut bagian hartanya, 'kan? Kuberi tahu kamu, aku bisa nikahkan dia ke Keluarga Budiman, aku pun percaya pada kepribadiannya!" Mereka pikir dia terlalu senggang sampai memilihkan istri untuk cucunya yang sudah meninggal? Dia memilihkan wanita untuk meneruskan garis keturunan Javier supaya kelak dapat mewarisi bisnis Javier! Kakek Herman gusar. "Di malam pengantin malah nggak ada di kamar Javier, ini kepribadiannya? Menurutku, omongan Selena benar. Dia pasti kabur." "Aku nggak kabur!" Tepat saat itu, Tania berjalan ke dalam ruang utama. Mata lonjongnya membawa sedikit kemarahan. Dia mengulang kata demi kata, "Aku nggak curi barang, juga nggak kabur!" Lalu, Tania memiringkan badan dan memandangi Selena dengan tatapan dingin. Tania menggenggam erat ponsel di tangannya. Matanya dipenuhi kebencian. Kejadian semalam masih meninggalkan rasa takut padanya. Jika bukan karena diselamatkan pria itu, mungkin sekarang dia sudah mati di hotel. Mentang-mentang adalah cucu perempuan yang paling disayangi Kakek Herman, Selena terus memfitnah Tania, "Kalung-kalung edisi terbatasku itu bernilai puluhan miliar. Siapa yang tahu kamu curi untuk jual atau bukan." Tania membalas dengan sinis, "Sekarang aku adalah istri sah Javier. Ke depannya, mobil dan rumah Javier jadi milikku. Buat apa aku curi perhiasanmu?" Selena tidak menyangka Tania yang tampak mudah diatur justru berani melawannya. Wajah Selena langsung merah karena murka. "Tania, apa yang terjadi?" Nenek Silvia menatap tajam ke arah Tania. Tania tidak lagi menghiraukan Selena. Dia berbalik badan dan memandangi Nenek Silvia dengan penuh penyesalan, lalu berkata lembut, "Nenek, aku terlambat." Nenek Silvia memiliki kesan yang sangat baik pada Tania. Sambil menggenggam tangan Tania, dia langsung bertanya, "Katakan pada Nenek, sebenarnya apa yang terjadi semalam?" Melihat situasi itu, Selena yang takut Tania menceritakan kejadian semalam buru-buru memberi isyarat pada Kakek Herman. Kakek Herman tahu Selena membuat masalah. Dia membalas dengan tatapan tegas, lalu berkata dengan suara berat, "Urusan keluarga kesampingkan dulu. Pak Jihan sudah tunggu lama di sini, biar dia bicara soal Javier dulu." Mana mungkin Nenek Silvia tidak tahu apa isi pikiran mereka? Nenek Silvia tersenyum seraya berujar penuh arti, "Jihan, umumkan surat wasiat Javier." Jihan mengeluarkan tiga dokumen dari tas kerjanya untuk diserahkan pada Nenek Silvia. "Ini surat wasiat yang ditulis Bos semasa hidupnya. Bos berpesan berulang kali padaku, kalau terjadi sesuatu padanya, semua saham Grup Budiman dan aset atas namanya diserahkan sepenuhnya pada Nenek." Nenek Silvia menerima dokumen tersebut. Dia berseru sedih, "Sudah dua kali aku mengantar kematian dini anak-cucuku. Sekarang, harta sudah nggak berarti lagi bagiku. Aku nggak butuh uang ini. Aku hanya ingin Javier kembali ...." Nenek Silvia mendongak. Matanya yang merah menyapu semua anggota Keluarga Budiman. "Aku sudah tua, juga nggak butuh uang sebanyak ini. Hari ini, aku akan serahkan semua hartaku dan harta Javier." Mendengar itu, mata anggota Keluarga Budiman bersinar terang. Masing-masing memperkirakan berapa banyak harta yang bisa mereka dapatkan dan menghambur-hamburkannya setelah diperoleh, sama sekali tidak menyembunyikan keserakahan di hati mereka. "Sahamku dan saham Javier di perusahaan, serta semua aset, akan diberikan pada cucu menantuku, Tania!" Tania menganga kaget sembari memandangi Nenek Silvia dengan bengong. Apa dia salah dengar? Semua harta Javier diserahkan padanya? Seluruh anggota Keluarga Budiman juga mengira pendengaran mereka bermasalah. Mereka memandangi Nenek Silvia dengan mata terbelalak dan tak percaya. "Aku nggak setuju!" seru seseorang dengan tegas.

© NovelRead, All rights reserved

Booksource Technology Limited.