NovelRead
Open the NovelRead App to read more wonderful content

Bab 4 Pria Semalam Itu Aku

Orang yang berbicara adalah Kakek Herman. Kakek Herman menatap tajam ke arah Nenek Silvia. "Saham perusahaan nggak boleh diberikan padanya!" "Sudah tertulis jelas dalam surat wasiat Javier, kalau terjadi sesuatu padanya, saham perusahaan dan semua asetnya diserahkan padaku untuk diurus." Nenek Silvia bersikap sangat tegas. "Nggak bisa kamu berikan pada orang luar!" Kakek Herman sangat marah. Keturunannya belum punah semua, saham perusahaan tidak boleh diberikan pada seorang gadis belia! "Tania adalah istri Javier, bukan orang luar." "Dia dinikahkan setelah Javier meninggal, dan nggak ada surat nikah. Istri macam apa itu?" Nenek Silvia tersenyum tipis seraya menyangkal, "Maaf mengecewakanmu, surat nikah mereka sudah jadi kemarin." Kakek Herman pun merasa sesak dada saking gusar. Sambil memegang dadanya, Kakek Herman menunjuk Nenek Silvia dan menghardik, "Kamu ...." Istri keduanya, Natasha Hartanto, bergegas maju. Satu tangan memeluk bahu Kakek Herman, satu tangannya lagi dengan lembut mengusap dadanya untuk menenangkannya. Natasha berlagak seperti istri soleh dengan sangat sempurna. Kakek Herman mempunya dua orang istri. Istri pertamanya adalah Nenek Silvia, sedangkan istri keduanya adalah Natasha. Ayah Javier adalah anak Nenek Silvia, tetapi meninggal bersama istrinya dalam kecelakaan mobil saat Javier berusia lima belas tahun. Natasha mempunyai tiga putra dan satu putri. Ketiga putranya telah menambah banyak cucu, yang semuanya ingin merebut harta Javier. Natasha memasang senyum palsu saat menanyai Tania, "Tania, kalau perusahaan diserahkan padamu, apa kamu bisa mengelolanya?" Tania balas menatap Natasha dan bicara lugas, "Aku nggak bisa kelola perusahaan, tapi tim dari Grup ZHT akan membantuku." Seketika, ekspresi Natasha menjadi masam. Dia memelototi Tania dengan gusar. Siapa yang tidak tahu anak buah Javier setia padanya? Jika perusahaan diserahkan pada Tania, perusahaan tetap bisa berjalan normal tanpa perlu campur tangan Tania. Seperti sekarang, meski Javier telah meninggal lebih dari dua puluh hari, harga saham perusahaan terus melonjak. Perusahaan yang sangat menguntungkan seperti itu tidak boleh jatuh ke tangan gadis hina ini! Kakek Herman memandangi Nenek Silvia dengan dingin sembari membentak, "Kukatakan sekali lagi, saham perusahaan nggak boleh diberikan pada orang luar!" Nenek Silvia acuh tak acuh. Dia membalas, "Kalau aku berikan saham pada Tania, kelak Tania akan berikan pada anak Javier. Kalau aku berikan saham padamu, apa bisa kembali di kemudian hari?" "Anak Javier?" Seperti mendengar lelucon besar, Kakek Herman menatapi Nenek Silvia seperti melihat orang gila. "Javier sudah mati, punya anak dari mana?" Nenek Silvia mendengus. "Sebelum upacara pernikahan, aku bawa Tania untuk inseminasi buatan dan sudah berhasil." Omongan Nenek Silvia sungguh menggemparkan. Kakek Herman mengepalkan tangan erat-erat. Sorot matanya yang kelam dan tak dapat ditebak tertuju pada perut Tania. Natasha menggertakkan gigi tanpa bicara. Kilatan dingin melintas di matanya. Dia harus segera menyingkirkan gadis hina ini! Selena juga menggertakkan gigi dengan geram. Tiba-tiba, dia melihat bekas merah di lengan Tania. Dia buru-buru maju dan menarik lengannya. "Lihat bekas merah di tubuhnya! Malam pernikahan semalam, dia nggak tahan kesepian, pasti pergi selingkuh dengan pria liar!" Pada saat ini, tatapan semua orang tertuju pada lengan Tania. Bekas merah di lengan Tania disertai sedikit keunguan. Bekas yang tercetak di kulit putih halusnya sungguh meninggalkan kesan kasmaran. Orang yang berpengalaman langsung tahu apa yang terjadi. Tania meronta ingin mendorong Selena. Akan tetapi, Selena sangat yakin bahwa bekas di tubuh Tania adalah ulah Ferdi. Jika tahu tentang ini, apakah Nenek Silvia masih akan memberikan harta pada Tania? Untuk lebih meyakinkan, kilatan senyum kemenangan melintas di mata Selena. Dia meraih kerah baju Tania dan menariknya dengan kuat. Sreek .... Bahu serta di bawah tulang selangka Tania penuh bekas ciuman. Bekas ciuman dengan berbagai tingkat kedalaman itu sangat mencolok. Melihat bekas ciuman itu, semua orang mulai menyerang Tania. "Ini pasti bekas saat bercinta dengan pria, 'kan? Sudah kuduga, dia masih muda, mana bisa tahan menjanda? Tapi di malam pernikahan saja berani selingkuh, benar-benar nekat." "Meskipun Javier sudah meninggal, nggak boleh nikahkan wanita nggak setia seperti ini. Cih, mana ada inseminasi buatan yang berhasil secepat ini? Kalau kubilang, anak dalam perutnya sama sekali bukan anak Javier. Hamil anak pria liar masih mau bagi harta Keluarga Budiman? Mana ada hal seenak itu di dunia ini?" "Harus tes DNA, pastikan apakah anaknya benaran anak Javier atau bukan." Kata demi kata menusuk hati. Terutama saat menyebut tes DNA, Tania merasa tenggorokannya seperti dicekik. Rasa takut yang tiba-tiba muncul membuat wajahnya pucat. Dia sendiri pun tidak tahu apakah anak dalam perutnya anak Javier atau bukan. Jika anaknya bukan anak Javier, Nenek Silvia akan mengusirnya dari rumah Keluarga Budiman. Nanti ayahnya akan lebih leluasa mengancamnya, bahkan mungkin memutus biaya pengobatan kakaknya. Otak Tania berdengung dan kacau. Untuk sesaat, dia tidak tahu harus berbuat apa. Tanpa memberinya kesempatan untuk bereaksi, Selena langsung mencecar, "Tania, anak dalam perutmu bukan anak Kak Javier, 'kan?" Seketika, sorot mata Nenek Silvia menjadi sangat tajam. "Tania, ke mana kamu semalam? Anak dalam perutmu itu, anak Javier atau bukan?" "Nenek, aku ...." Melihat Tania terbata-bata, Selena menduga dia tidak berani menyebutkan pria semalam. "Apa itu anak pria semalam?" Nenek Silvia tampak makin emosi. Nada suaranya menjadi lebih tegas. "Tania, anak dalam perutmu itu anak Javier atau bukan?" Kakek Herman juga memandang tajam ke arah Tania. "Siapa pria semalam?" Siapa pria semalam? Dada Tania terasa sesak. Ujung jarinya gemetar. Dia tidak tahu siapa pria semalam. Dia hanya tahu tubuhnya sangat tidak nyaman. Dia mengira pria itu adalah Javier .... Melihat Tania terdiam, Kakek Herman memelototinya sambil berteriak marah, "Sampai sekarang, kamu masih lindungi pria itu? Katakan, siapa pria semalam?" "Pria semalam itu aku." Tiba-tiba, suara yang dingin, tajam, dan penuh wibawa menggema. Bagai petir yang mengguncang semua orang!

© NovelRead, All rights reserved

Booksource Technology Limited.