NovelRead
Open the NovelRead App to read more wonderful content

Bab 2 Kamu Gadis Malam Itu

Ataukah ini hanya halusinasi karena dia terlalu ketakutan dan terlalu menderita? Tania mengulurkan tangan untuk meraih lengan pria itu. Tania memohon, "Aku bunuh orang .... Tolong selamatkan aku ... aku nggak mau mati .... Tolong ...." Pria itu menyadari kejanggalan Tania. Sorot matanya berubah muram. "Kamu diberi obat?" "Kumohon ... tolong selamatkan aku ...." Kesadaran dan perilaku Tania sepenuhnya di luar kendalinya. Melihat pipi Tania yang kemerahan dan menderita, mata pria itu bagaikan macan tutul. Dia menggendong Tania dan berjalan cepat menuju tempat tidur besar di dalam. Saat berada dalam pelukan pria itu, hati Tania terasa lebih tenang. Sambil memegang erat baju pria itu, Tania memohon, "Tolong selamatkan aku ... aku nggak mau mati ...." Pria itu membaringkan Tania di tempat tidur, lalu menunduk memandanginya. Wajah Tania dihiasi rona merah yang tak wajar karena efek obat. Anehnya, aroma yang terpancar dari tubuh Tania terasa familier bagi pria itu. Seperti aroma yang terpancar dari gadis di pinggiran kota malam itu .... Aroma ini membangkitkan sedikit kegerahan dalam dirinya. Dia dengan lembut mengusap bibir Tania. Pria itu pun menundukkan kepala .... Memang sensasi yang familier! Sorot mata pria itu makin gelap. Sentuhan lembut gadis itu langsung membuatnya terpikat. Pria itu menanggalkan pakaian Tania. Tubuh sang gadis yang indah dan putih halus terbentang di hadapannya. Sorot matanya kelam tak berujung. ... Setelah selesai, pria itu bangkit dan menyalakan lampu dinding kamar tamu. Cahaya lembut dan hangat menerpa wajah gadis di tempat tidur. Pipinya merah merona dan halus, bagai bunga salju yang baru mekar, menggoda untuk dipetik. Tania terlalu lelah hingga tertidur pulas. Dengan mata terpejam, dia terlihat patuh dan tenang. Bulu matanya yang melengkung bagai sayap tipis tampak sangat indah. Di bawah cahaya lampu, barulah pria itu melihat dengan jelas wajah sang gadis. Mata pria itu yang gelap memicing. Ternyata dia? Istri yang dipilihkan Nenek untuknya? Sesudah berpakaian rapi, pria itu berjalan keluar dari kamar. Pengawalnya, Wendra, segera mendekat. "Bos, orang yang memberimu obat malam itu adalah Calvin. Sekarang dia berada di kamar Suite Naga hotel ini. Apa perlu ke sana?" Mata pria itu tajam dan dingin. Dia mencibir, "Dia begitu sayang aku si keponakannya ini, tentu harus aku temui." Kemudian, pria itu melirik pengawal di belakang dan bertanya dengan suara dingin, "Orang di dalam sudah mati?" "Bagian belakang kepalanya pecah akibat pukulan dan kehilangan banyak darah, sudah dibawa ke rumah sakit." Wendra menyerahkan sebuah ponsel pada pria itu. "Ini ponsel yang ditemukan di dalam." Pria itu mengambil ponsel tersebut dan menatapnya dengan cuek. Teringat pada wanita di dalam kamar, dia bertanya dengan suara berat, "Masih belum ketemu gadis malam itu?" Wendra memasang ekspresi sukar. "Nggak ada CCTV di sekitarnya, jadi aku hanya bisa tanyakan ke penduduk desa sekitar. Mereka bilang gunung itu berhantu. Biasanya nggak ada yang berani masuk ke hutan, apalagi di malam hari, seorang gadis pula ...." Pria itu melemparkan tatapan dingin padanya. "Kamu curiga aku tidur dengan hantu wanita?" Wendra terdiam. Dia tidak berani menduga seperti itu. "Terus cari. Apa pun caranya, harus temukan dia." Pria itu melangkah menuju lift, berencana menemui Calvin Tambunan yang memberinya obat malam itu. Suite Naga terletak di lantai sembilan. Pada saat ini, dua wanita muda dan cantik berdiri di depan lift lantai sembilan. Mereka adalah kakak tiri Tania, Hannah Yovent, serta adik tiri Tania, Helen Yovent. Ayah Tania, Samuel Limanto, adalah menantu matrilokal. Sepuluh tahun lalu, ibu Tania, Amelia Yovent, meninggal karena sakit. Samuel langsung membawa pulang selingkuhannya, Yuni Ramba, beserta kedua putrinya ke rumah Keluarga Yovent. Bahkan dengan tak tahu malunya, Samuel membuat kedua putrinya menyandang marga Yovent. Tania pun berubah dari putri sulung Keluarga Yovent menjadi putri kedua Keluarga Yovent. Saat itu, Tania baru mengetahui ayahnya telah lama mengkhianati ibunya. Sementara Hannah sedang membaca buku harian yang dipegangnya, Helen berceloteh dari samping, "Ini buku harian Tania. Aku selalu bawa sejak temukan ini di kamarnya dulu. Kak, Tania diperkosa, di pinggiran kota. Pelakunya pria desa sekitar. Simpan buku harian ini, nanti bisa dipakai untuk paksa Tania bantu kita ...." Saat Hannah menutup buku harian setelah membacanya, dia menemukan sebuah kancing manset tertempel pada sampul buku harian tersebut. Pinggiran kancing manset ini bertaburan berlian kecil, terlihat sederhana tetapi mewah. Itu jelas produk khusus yang dibuat sesuai pesanan. Kancing manset ini terlihat agak familier, sepertinya pernah dilihat di suatu tempat. Hannah kembali membaca buku harian. Barulah diketahui bahwa ini kancing manset yang direbut Tania dari lengan pria yang telah merebut keperawanannya. Pria itu pasti bukan pria desa seperti yang dikatakan Helen. Sekaya-kayanya seorang pria desa, pasti tidak akan memesan kancing berlian semahal ini untuk sekadar manset. Hannah menutup buku harian. Dia melayangkan tatapan tidak senang yang dibuat-buat pada Helen. "Helen, bagaimanapun, Tania saudari kita. Kita hidup serumah selama bertahun-tahun. Kita nggak seharusnya tertawakan Tania atas insiden seperti ini. Jangan bilang ke siapa-siapa tentang ini. Buku catatan ini aku simpan dulu. Akan kukembalikan padanya nanti." Helen mencibir dengan sinis. "Hanya kamu yang anggap dia saudari. Aku nggak pernah anggap dia saudariku." Kemudian, Helen mengusap daun telinganya hanya untuk menemukan itu kosong. Sebelah antingnya hilang. Itu anting edisi terbatas yang dia ambil dari kamar Tania! Dengan muka panik, Helen berseru, "Kak, antingku pasti jatuh di kamar tamu. Aku pergi ambil sekarang. Tunggu aku." Tepat ketika Helen pergi, pintu lift terbuka. Sambil berjalan ke dalam lift, Hannah yang dengan tak berdaya memandang Helen pergi tidak menyadari ada orang yang melangkah keluar dari lift. Wendra memberinya jalan. Tanpa sengaja, dia menabrak siku Hannah yang memegang buku harian sehingga buku harian itu langsung jatuh ke lantai. Hannah membungkuk ingin mengambilnya, tetapi buku itu sudah diambil oleh sebuah tangan kekar dengan ruas jari yang jelas. Hannah mendongak dengan heran, tepat berhadapan dengan sebuah wajah yang sangat tampan. Matanya membelalak. Javier Budiman? Mengira melihat hantu, Hannah ketakutan hingga wajahnya pucat, dan meringkuk di dinding. Dengan mata terbelalak, Hannah ketakutan memandangi pria di hadapannya. Pria itu menunduk. Sorot mata yang kelam tertuju pada kancing manset itu. Berdiri sedekat ini, Hannah bisa mencium aroma sejuk dari tubuh sang pria. Pria ini benar-benar sangat memikat. Hannah baru menyadari, lampu di koridor mencetak bayangan mereka di karpet. Ada bayangan, berarti bukan hantu. Hannah pun terkejut. Pria paling memikat dan paling berwibawa di Kota Morin ternyata tidak mati! Jika demikian, upacara pernikahan simbolik Tania dengan pria ini hari ini, bukankah menjadi pernikahan sungguhan? Seketika, api kecemburuan membakar hati Hannah. "Dari mana kancing manset ini?" Javier mendongakkan tatapan dan menuntut jawaban dengan sikap dingin.

© NovelRead, All rights reserved

Booksource Technology Limited.