NovelRead
Open the NovelRead App to read more wonderful content

Bab 7

Mungkin karena perceraian sudah di depan mata, Stefano tak lagi merasa terganggu oleh mereka, meski hatinya tetap dingin. Wenny sudah tinggal di luar selama belasan hari, menunggu Stefano menunduk lebih dulu. Namun Stefano tidak lagi seperti dulu, menangis dan memohon agar dia tidak pergi. Pria itu berubah total, menjadi sangat dingin dan acuh tak acuh. Sekalipun Wenny tidak terlalu pintar, dia tetap mengerti bahwa Stefano telah berubah. Entah kenapa, di hatinya muncul rasa panik yang tak bisa dijelaskan. Stefano yang penurut memang menjengkelkan, bahkan pernah beberapa kali mengajukan cerai. Namun, Stefano yang dingin justru membuatnya gelisah. Bukan karena Wenny terlalu peduli padanya, melainkan hanya merasa kasihan. Wenny sangat tahu betapa Stefano mencintainya dan tidak mungkin meninggalkannya, karena itulah dia berulang kali melukainya tanpa rasa takut. Kali ini dia pulang lebih awal untuk memberinya jalan kesempatan, berharap Stefano tidak lagi membuat masalah. Dia kira, dengan membawa anaknya pulang, Stefano akan berterima kasih sambil menangis dan menyesal. Tapi apa yang dia lihat? Ekspresi kecewa yang sama sekali tidak disembunyikan di wajah Stefano. Bukankah seharusnya dia sedang menunggu mereka pulang? Wajah Wenny jadi muram, lalu dia tertawa dingin dan berkata. "Sepertinya kamu nggak senang kami pulang. Apa di rumah kamu pelihara wanita lain?" Stefano tidak menanggapi, hanya berbalik dan berjalan ke arah gudang. Jelas-jelas Wenny yang berselingkuh, tapi justru menyamakan Stefano dengan dirinya. Stefano merasa berkata satu kalimat lagi pun hanya buang-buang waktu. Masih ada tiga hari sebelum dia pergi, dan dia tidak ingin terus berurusan dengan wanita ini. Wenny menatap punggung pria itu, ekspresinya berubah-ubah. Perasaan kehilangan kendali itu makin kuat. Kegelisahan yang belum pernah dia rasakan sejak menikah menyerbu hatinya, terutama ketika melihat Stefano berjalan terpincang-pincang. Di benaknya terlintas masa lalu, saat Keluarga Subrata bangkrut. Semua orang pergi, bahkan Sandy yang paling dia cintai pun meninggalkannya. Hanya Stefano yang tetap berada di sisinya. Sudah lama Stefano tidak peduli dengan pikiran Wenny. Dia berdiam di gudang sampai malam, mengira pada jam segini mereka berdua pasti akan pergi mencari Sandy. Namun saat keluar, dia justru tertegun melihat hidangan yang sudah tersaji di atas meja. Wenny sibuk di dapur dan berkata, "Tinggal satu sup lagi, sebentar lagi jadi." Stefano berdiri terpaku, ekspresinya rumit. Ini adalah pemandangan yang dia impikan selama bertahun-tahun, sebuah rumah yang hangat. Sayangnya, semuanya sudah terlambat. Stefano duduk, menatap makanan di depannya, tetapi tidak menyentuhnya. Wenny yang biasanya dingin kini berubah sikap, lalu bertanya dengan penuh perhatian, "Ada apa?" Stefano berkata datar, "Alergi makanan laut." Satu meja itu penuh dengan hidangan laut favorit Sandy. Wenny mengingat semua kesukaannya, tetapi selalu mengabaikan Stefano. Wajah Wenny tampak tidak enak, ingin meledak marah, tetapi dia menahannya. Sejak Stefano tidak lagi ribut dan bertengkar, Wenny merasa makin tidak bisa menebaknya. Seperti pasir yang digenggam, makin erat digenggam justru makin lolos. Dia merasa mungkin selama ini sudah terlalu keras pada Stefano atau mungkin rasa iba yang muncul dari kenangan pernah susah bersama membuat Wenny tidak lagi melanjutkan amarahnya, sampai-sampai dia menahan diri untuk tidak menyiramkan makanan itu ke tubuh Stefano. Stefano merasa terharu, dan juga agak terkesima melihat kemampuan Wenny menahan diri kali ini. Bahkan tidak terbiasa. Untuk pertama kalinya, Wenny mengambilkan makanan untuknya dan berkata bahwa dia telah banyak menderita selama ini. Stefano sampai hampir tak mengenali perempuan di hadapannya. Di samping, Zian membelalakkan mata, tidak percaya ibunya bisa bersikap sebaik itu pada seorang pengasuh. Wenny mengeluarkan dua lembar tiket opera dari tasnya, opera yang paling disukai Stefano, lalu berkata, "Waktu ulang tahunmu kemarin aku nggak menemanimu, kali ini aku ganti." Stefano menatap tiket opera itu, tetapi tidak menerimanya. Apakah ini ketulusan yang datang terlambat? Stefano tidak merasa demikian. Menurutnya, mungkin aktingnya kurang sempurna sehingga Wenny menyadari sesuatu. Ini cuma taktik lama, menyakiti dulu, lalu pura-pura berbaik hati. Wenny baru saja hendak bicara, ketika terdengar langkah kaki dari luar. Sandy datang tanpa diundang, membawa satu kantong mainan. Zian bersorak gembira, langsung melompat ke punggung Sandy dan bersorak, "Terima kasih, Papa!" Ekspresi Wenny agak berubah, lalu buru-buru berkata, "Zian, jangan sembarangan memanggil!" Zian mendongak, berkata sambil mendengus, "Aku mau Om Sandy jadi papaku, aku nggak suka pengasuh pincang." Wenny sampai pucat karena marah, lalu menarik anaknya ke kamar untuk diberi pelajaran. Sandy melirik sekilas, lalu pandangannya jatuh pada tiket opera itu. Rasa dengki muncul di hatinya, lalu dia tersenyum sinis. "Kamu pikir kamu menang? Selanjutnya, akan kutunjukkan padamu, siapa yang sebenarnya paling dipedulikan oleh Wenny!"

© NovelRead, All rights reserved

Booksource Technology Limited.