NovelRead
Open the NovelRead App to read more wonderful content

Bab 6

Wajah Wenny tampak buruk. Dia meninggalkan acara dengan tergesa-gesa dan menolak Sandy, semata-mata karena masih tersisa sedikit rasa bersalah di hatinya. Namun kini, melihat Stefano memasang wajah datar seperti orang mati saja sudah membuatnya kesal. Dia mengerutkan kening, mengeluarkan sebuah kotak hadiah dari tasnya, lalu melemparkannya ke sofa. "Kalau bukan karena kamu, depresi Sandy nggak akan kambuh, dan aku juga nggak perlu menemaninya untuk menenangkan diri. Kamu bukannya minta maaf, malah nguntit sampai ke restoran. Jijik, tahu nggak?" Stefano bahkan tidak melirik hadiah itu. Pandangannya tertuju pada wajah Wenny, memikirkan kapan wanita itu akan mengungkit soal perceraian. Agar dia bisa segera mengemasi barang dan pergi. Sayangnya, Wenny seolah lupa kejadian di restoran, malah membalikkan fakta dan menimpakan semua kesalahan kepadanya. Stefano menghela napas dalam hati. Sepertinya mustahil mengakhiri pernikahan ini secepatnya, masih harus menunggu dua puluh hari lagi. Ekspresi Wenny sedikit berubah. Dulu, setiap kali dia marah, Stefano pasti panik dan langsung mengalah. Bahkan jika dia memutarbalikkan fakta, Stefano tetap akan terus meminta maaf. Saat ini Stefano jelas berada di depannya, tetapi rasanya seperti sangat jauh, sulit untuk ditebak. Wenny tidak suka perasaan kehilangan kendali atas Stefano. Dengan tidak senang, dia berkata, "Sudah berkali-kali aku bilang, aku dan Sandy hanya teman. Kenapa kamu terus mempermasalahkannya? Daripada begitu, lebih baik gunakan pikiranmu untuk meningkatkan diri, bukan?" Stefano tersenyum, mengangguk, lalu berkata, "Kamu benar, aku memang harus meningkatkan diri." Wenny tertegun. Dia merasa Stefano pasti sedang cemburu, tapi dia juga sungkan untuk menyinggung soal restoran. Akhirnya dia mengamuk dan membalikkan semua barang di atas meja. Stefano hanya menatapnya dengan tenang, tidak menghentikannya. Wenny menggertakkan gigi dan berkata, "Bisakah kamu berhenti memasang wajah masam? Setiap kali pulang ke rumah aku sudah sangat lelah, masih harus melihat ekspresi seperti itu. Pikirkan baik-baik, tanpa aku, apa kamu bisa hidup mewah seperti sekarang? Kalau bukan demi anak, aku sudah lama mengusirmu. Orang nggak berguna sepertimu akan mati kelaparan di jalan!" Mendengar serangan pribadi dari Wenny, Stefano tidak membantah. Dengan pasrah, dia berkata, "Bukankah sudah kubilang, sungguh nggak apa-apa." Wenny terdiam. Dalam hatinya, dia menganggap Stefano sedang cari gara-gara. Dia sudah pulang untuk menjelaskan, itu saja sudah merupakan kemurahan hati yang luar biasa. Lalu kenapa Stefano harus bikin masalah terus? "Ingat baik-baik, kamu berutang permintaan maaf pada Sandy. Kalau nggak minta maaf, selamanya kamu tinggal di gudang! Tahu nggak sekarang kamu seperti apa? Seperti tikus got!" Wenny naik ke lantai atas dengan marah. Zian melotot ke arah Stefano, mendongakkan kepalanya, lalu berkata dengan jijik, "Kamu orang jahat, bikin Om Sandy dan Mama marah. Kenapa masih numpang di rumah ini? Cepat cerai dan pergi! Aku mau Om Sandy jadi papaku." Stefano menatap mata anaknya dan tersenyum, lalu berkata, "Tenang saja, Om Sandy akan segera menjadi papamu." Setelah itu, dia masuk ke gudang, menghitung hari menuju kepergiannya. Zian datang mengetuk pintu, memerintahkannya untuk menghangatkan susu. Menghadapi anak yang tidak tahu berterima kasih itu, Stefano memejamkan mata dan hanya berkata, "Pergi cari Om Sandy-mu." Zian sangat marah. Sambil memukul pintu, dia terus memaki. Stefano sekarang sudah kebal. Dia hanya ingin segera meninggalkan rumah yang tidak punya kasih sayang dan tidak memiliki kehangatan ini. Dia memandang ke luar lewat jendela kecil, menatap langit malam, pikirannya sudah melayang jauh. Dia mulai merindukan kampung halamannya. Seolah ingin menghukum Stefano atas ketidakpatuhannya, Wenny membawa anaknya menghilang selama beberapa hari. Tak perlu ditebak, pasti pergi menemui Sandy. Wenny ingin menggunakan cara ini untuk membuat Stefano menderita. Sebelum pergi, dia memperingatkan bahwa jika Stefano tidak pergi berlutut meminta maaf kepada Sandy, dia tidak akan pernah pulang. Stefano hampir saja mengatakan kalau tidak pulang malah lebih baik. Namun dia menahannya. Masa tenang sebelum perceraian hampir berakhir, dia tidak ingin menimbulkan masalah tambahan. Dia membereskan rumah hingga rapi. Saat tidak ada kegiatan, dia berbaring di halaman sambil berjemur, menikmati waktu dengan santai. Tengah malam, Stefano menerima sebuah video provokatif yang dikirim oleh Sandy. Di dalam rumahnya, mereka bertiga mengenakan piama keluarga dan bermain perang bantal. Kedua orang dewasa itu memeluk kepala kecil Zian, tersenyum cerah dan tampak begitu bahagia. Sandy terus menggunakan video-video semacam ini untuk menyulut emosi Stefano, berharap dia segera angkat kaki. Stefano tidak membalas, malah memesan makanan mahal. Wenny tidak menunggu permintaan maaf dari Stefano. Dia justru makin marah. Beberapa hari ini dia terus tinggal di rumah Sandy, bahkan menempatkan pria itu di posisi manajemen tinggi di perusahaan. Dia sengaja memamerkan kemesraan di media sosial, menulis kata-kata ambigu. Stefano hanya merasa geli. Kenapa tidak langsung mengumumkannya saja secara resmi? Oh ya, dia lupa, Wenny belum bercerai. Stefano sendiri yang akan segera mewujudkan keinginannya itu. Seiring hari-hari berlalu, Stefano sudah sepenuhnya kebal terhadap provokasi Wenny. Bahkan ketika anaknya sakit flu dan Wenny sengaja menyuruhnya mengantar obat, dia tetap bersikap acuh. Dia hanya berkata singkat, kalau sakit, pergilah ke dokter, lalu tidak menghiraukannya lagi. Wenny murka. Sebelum dia sempat memaki dengan kata-kata kasar, Stefano sudah lebih dulu menutup telepon. Daripada menguras energi untuk orang yang tidak peduli, lebih baik memperlakukan diri sendiri dengan baik. Tersisa tiga hari lagi sebelum masa tenang perceraian berakhir. Stefano sangat menantikannya. Selama hari-hari ketika ibu dan anak itu tidak ada di rumah, dia menjalani hidup dengan sangat nyaman. Ini adalah masa paling menyenangkan dalam tujuh tahun terakhir. Selain itu, dia sudah berencana menjual saham yang ada di tangannya, agar tidak kesulitan hidup setelah kembali ke kampung halaman. Wenny selalu meremehkan kemampuannya, menyebutnya tidak berguna. Namun dia sama sekali tidak memikirkan, saat perusahaan Keluarga Subrata bangkrut dulu, siapa yang menegosiasikan kontrak demi kontrak dengan menenggak gelas-gelas minuman keras berkadar tinggi. Dia juga lupa bahwa Stefano selalu memiliki lima persen saham perusahaan. Setiap tahun, dari dividen saja, dia mendapat pemasukan yang tidak sedikit. Stefano sudah berencana menjual saham itu, dan saat ini sedang mencari pembeli yang cocok. Karena dia sudah memilih untuk pergi, dia berniat memutus semua hubungan dengan mereka sepenuhnya. Malam ini, dia sengaja memesan sebotol anggur bagus. Mendengar suara langkah kaki di luar, dia mengira pesanan makanannya sudah tiba, lalu bangkit untuk membuka pintu. Namun saat pintu dibuka, yang dia temui justru Wenny dan anaknya.

© NovelRead, All rights reserved

Booksource Technology Limited.