NovelRead
Open the NovelRead App to read more wonderful content

Bab 8

Stefano menatap Sandy dengan tenang, dengan jelas merasakan kecemburuannya, lalu menggelengkan kepala. "Sebenarnya, apa yang perlu kamu perebutkan? Aku sudah nggak peduli lagi." Sandy mencibir, "Enak sekali bicara. Katanya nggak peduli, tapi masih bertahan dengan Wenny. Menurutku, kamu hanya nggak rela melepaskan kemewahan. Waktu itu aku sengaja menyuruhnya membawa pulang bubur seafood, memaksamu memakannya. Bagaimana rasanya?" Tubuh Stefano terguncang hebat. Dia menatap Sandy, hatinya dipenuhi kesedihan. Bahkan Sandy pun ingat bahwa dia alergi makanan laut, sementara Wenny dengan bodohnya dimanfaatkan tanpa menyadarinya. Seberapa tidak pedulinya Wenny terhadap dirinya sebenarnya? Belum sempat Stefano berbicara, Wenny keluar bersama putranya dan berkata dengan tegas, "Stefano, aku sudah menasihati Zian. Selama ini aku memang terlalu memanjakannya. Aku mau ganti baju dulu, nanti kita pergi menonton pertunjukan tari." Sandy buru-buru berkata, "Wenny, aku datang ke sini sebenarnya ingin mengajakmu nonton film." Wenny tertegun, raut wajahnya tampak serbasalah. Samar-samar dia merasakan ada yang tidak beres dengan Stefano, itulah sebabnya dia berniat memperbaiki hubungan. Jika dia kembali memihak Sandy, mungkin Stefano benar-benar akan pergi. Meskipun Wenny yakin sepenuhnya bahwa Stefano tidak akan tega meninggalkannya. Setelah berpikir sejenak, dia menggeleng dan berkata, "Lain kali saja. Bagaimanapun, aku sudah ada janji duluan dengan Stefano." Setelah itu, dia naik ke atas untuk berganti pakaian. Ekspresi Sandy berubah. Dia mengepalkan tinjunya dengan marah. Dulu Wenny selalu menurut padanya, tetapi kali ini tidak. Dia merasakan adanya ancaman, lalu menatap Stefano dengan garang. "Sebenarnya cara apa yang kamu pakai?" Stefano tidak ingin bersaing dalam urusan cinta demi seorang wanita rendahan. Itu tidak layak menghabiskan energinya. Namun, sikap diamnya di mata Sandy justru terlihat seperti provokasi. Ekspresi Sandy berubah menjadi gila. Dia mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tas mainan, dan di dalamnya jelas terlihat bubur seafood. Tanpa memberi Stefano kesempatan bereaksi, dia menerjang ke arah pria itu. Dia berusaha memasukkan bubur seafood itu dengan paksa ke dalam mulut Stefano. Stefano tengkurap di lantai sambil muntah-muntah. Namun, alergi tingkat lima itu bereaksi sangat cepat. Tenggorokannya langsung melepuh, dan seluruh tubuhnya dipenuhi ruam merah, bahkan lebih mengerikan daripada sebelumnya. Dia sudah tidak bisa bernapas dan gemetar di lantai. Sandy menyeringai kejam. "Aku akan buat kamu tahu, siapa yang sebenarnya paling dipedulikan Wenny." Setelah berkata demikian, dia berbaring di lantai dengan ekspresi menantang. Saat Wenny turun dari lantai atas, Sandy menjerit dan berguling-guling di lantai. Wajah Wenny langsung berubah drastis. Melihat dua pria yang tergeletak di lantai, suaminya yang tubuhnya dipenuhi ruam merah dan tidak bisa bernapas, serta cinta pertamanya yang memegangi kepala sambil menangis kesakitan. Dia tidak tahu harus memilih siapa. Stefano sudah hampir kehabisan napas. Dokter sebelumnya mengatakan bahwa dalam waktu dekat dia tidak boleh kambuh lagi, jika tidak, nyawanya akan terancam. Sambil menahan rasa sakit, dia berkata, "Wenny, cepat bawa aku ke rumah sakit, kalau nggak aku akan mati." Wenny buru-buru mengangguk. Namun saat ia mengeluarkan ponsel, teriakan Sandy memotong tindakannya. "Wenny, aku tiba-tiba merasa sangat sakit, aku nggak ingin hidup lagi, kepalaku seperti mau meledak." Zian menunjuk Stefano dan berteriak, "Mama, tadi dia memprovokasi Om Sandy sampai penyakitnya kambuh. Dia mau melihat siapa yang lebih Mama pedulikan. Keadaannya sekarang cuma pura-pura. Ayo cepat kita bawa Om Sandy ke rumah sakit!" Wajah Wenny berubah. Dia menatap Stefano dengan marah, "Kamu benar-benar mengecewakanku. Tadinya aku berniat menebus kesalahanku padamu, tapi sekarang sepertinya nggak perlu lagi." Setelah berkata demikian, tanpa memberi Stefano kesempatan menjelaskan, dia langsung membawa Sandy pergi. Pandangannya pada Stefano dipenuhi hawa dingin dan amarah, tetapi saat beralih ke Sandy, penuh dengan cinta dan perhatian. Stefano terbaring di lantai, menatap kosong ke langit-langit, hatinya dipenuhi keputusasaan tanpa batas. Ketika Zian memutarbalikkan fakta demi Sandy, dunianya jatuh ke dalam kegelapan tanpa akhir. Wenny sekali lagi meninggalkannya di rumah untuk menunggu ajal. Stefano tak bisa menahan diri untuk mentertawakan dirinya sendiri. Mengapa dia masih saja menyimpan harapan pada wanita itu? Dengan sisa tenaga, dia merangkak ke gudang, mengambil obat yang pernah diresepkan dokter sebelumnya, lalu segera meminumnya. Gejalanya akhirnya mereda, memberinya waktu berharga untuk bertahan hidup. Stefano menelepon ambulans, lalu tak sanggup bertahan lagi dan pingsan. Saat terbangun, yang dia lihat masih dokter penanggung jawab yang sama. Mereka saling menatap, dan Stefano tersenyum pahit. Dokter itu mengangkat bahu. "Anak muda zaman sekarang memang suka main-main ya? Menjadikan nyawa sebagai bahan lelucon." Stefano tidak membantah. Dia hanya menatap ke luar jendela, lalu perlahan menutup mata. Pada hari berakhirnya masa tenang perceraian, Stefano keluar dari rumah sakit. Wenny tidak menelepon. Sepertinya dia sedang merawat Sandy. Stefano kembali ke rumah. Di lantai masih tersisa bubur seafood yang dipakai Sandy untuk membunuhnya. Sudah mengering, dan tampak seperti wajah yang mengejek. Dengan ekspresi datar, dia pergi ke gudang mengambil koper yang sudah lama dia siapkan, meletakkan surat perjanjian perceraian di atas meja, lalu keluar dari rumah. Berdiri di depan gerbang, Stefano menoleh ke belakang. Tempat yang memuat tujuh tahun perasaan dan lima tahun pernikahan ini, sudah waktunya diakhiri secara tuntas. Angin pagi berembus, disinari cahaya matahari keemasan. Stefano merentangkan kedua lengannya dan menghirup udara paling segar dalam tujuh tahun terakhir. Dia sudah bercerai, dia bebas. Stefano bahkan tidak ingin tinggal sedetik pun lagi di penjara kotor ini, dan juga tidak ingin berpamitan terakhir kali dengan Wenny. Saat dia tanpa ragu memihak Sandy dan untuk kedua kalinya hampir membunuhnya. Stefano merasa, seumur hidup mereka tak perlu bertemu lagi. Dengan kecepatan paling tinggi, dia tiba di stasiun kereta cepat, mengeluarkan tiket yang sudah dia beli sejak lama, lalu duduk di ruang tunggu. Stefano duduk dengan tenang, menghitung waktu. Tinggal belasan menit lagi sebelum pemeriksaan tiket. Kembali ke tempat asal, memulai hidup barunya. Tiba-tiba, ponselnya berdering. Wenny menelepon dan memarahinya, [Stefano, hatimu benar-benar kejam! Gara-gara kamu, Sandy kambuh depresinya. Kamu bukannya datang minta maaf, malah bersembunyi. Aku kasih tahu, kalau kamu nggak datang berlutut minta maaf, aku akan menceraikanmu!] Stefano tersenyum dan berkata, "Sesuai keinginanmu." Dari samping terdengar suara pengumuman. [Di mana kamu?] Nada suara Wenny tiba-tiba berubah, terdengar agak panik. Stefano langsung memutus telepon, mengeluarkan kartu SIM, dan melemparkannya ke tempat sampah. Kemudian dia membawa kopernya menuju pintu pemeriksaan tiket. Kali ini, dia tidak menoleh lagi.

© NovelRead, All rights reserved

Booksource Technology Limited.