NovelRead
Open the NovelRead App to read more wonderful content

Bab 5

Saat kembali sadar, Nadia mendapati dirinya terbaring di atas ranjang besar, dikelilingi suasana yang sama sekali asing. Saat kebingungan masih menyelimuti pikirannya, pandangannya jatuh pada Darian yang tertidur di sampingnya. Wajah samping pria itu tetap terlihat lembut dan tampan, membuat Nadia sesaat kehilangan arah, seolah semua yang terjadi belakangan ini hanyalah mimpi buruk. Dia mengangkat tangannya, ingin menyentuh wajah itu. Namun gerakan kecil tersebut justru menarik luka-luka di tubuhnya. Rasa sakit yang menusuk tajam seketika menyeretnya kembali ke kenyataan yang kejam. Merasakan pergerakannya, Darian mendadak membuka mata dan buru-buru menggenggam tangannya dengan penuh penyesalan. "Sayang ... " Hidung Nadia terasa perih, dan matanya langsung basah, air mata jatuh tanpa bisa dicegah. Dia menepis tangan Darian dan berusaha bangkit, tetapi baru saja bergerak, tubuhnya mendadak membeku. Rambut panjang dan tebal yang seharusnya menjuntai di kedua sisi kini lenyap tanpa sisa. Dengan tangan gemetar, dia menyentuh kepalanya. Saat ujung jarinya menyentuh kulit kepala, sensasi asing itu membuat seluruh tubuhnya bergetar. Kepala yang dulu dipenuhi rambut lebat kini hanya tersisa permukaan licin yang dingin. Tanpa peduli air mata yang membasahi wajahnya, Nadia memalingkan kepala dan menatap Darian lurus-lurus dengan sorot mata keras dan penuh tekad. "Ke mana rambutku?" Tatapan penuh tuntutan dari Nadia membuat hati Darian bergetar pelan. Raut bersalah pun tampak jelas di wajahnya. Dia mengatupkan bibir, lalu berkata dengan suara lembut ... "Sayang, rambutmu penuh dengan lem super dan sama sekali nggak bisa dibersihkan. Lagi pula, tunanganku juga sangat marah saat melihat kondisi rambutmu. Nggak ada pilihan lain selain mencukurnya habis." "Tapi tenang saja, aku sudah menyuruh orang untuk membuatkan wig khusus, dan dijamin sama persis dengan rambutmu yang dulu ... " Setelah itu, Darian mengangkat tangan dan menyentuh wajah Nadia, lalu dengan lembut menyeka air matanya. Namun, semakin diseka, air mata itu justru semakin deras. "Darian, apa sekarang kamu puas melihatku seperti ini? Inikah hasil yang kamu inginkan?!" "Cintamu hanya membawa luka buatku. Kamu benar-benar pembohong!" Ucapan Nadia terdengar kacau, sementara air mata deras terus jatuh dari sudut matanya. Tak peduli seberapa keras Nadia memakinya, Darian hanya mendengarkan dalam diam, menerima seluruh luapan emosinya tanpa membantah sedikit pun. Saat melihat luka Nadia kembali mengeluarkan darah akibat perlawanan yang terlalu keras, Darian bangkit, mengambil kain kasa di sampingnya, lalu membalut lukanya kembali. Rambut di dahinya jatuh menutupi mata, membuat Nadia tak mampu melihat ekspresinya. Dia hanya bisa merasakan bahwa setiap gerakan Darian begitu lembut dan penuh perhatian. Rentetan pukulan bertubi-tubi membuat emosi yang berkecamuk di hati Nadia hampir sepenuhnya runtuh. "Aku nggak tertarik menjadi simpananmu." "Kita akhiri saja hubungan ini. Ini yang terbaik untuk kita berdua." Jakun Darian bergerak perlahan, sorot matanya tertutup lapisan dingin. "Nggak mungkin." Suaranya rendah, sarat dengan ketegasan yang tak memberi ruang untuk dibantah. "Tanpa aku, laki-laki di luar sana akan menggerogotimu sampai nggak bersisa." "Tetaplah di sisiku dan patuh. Itu satu-satunya pilihan terbaik bagimu." Melihat Nadia masih menatapnya dengan keras kepala, Darian bangkit berdiri. Kedua tangannya menahan wajah Nadia, memaksanya menatap lurus ke arahnya. "Sayang, kamu akan selalu menjadi milikku ... selamanya." "Aku nggak akan membiarkanmu pergi, meski aku harus mengikatmu dengan rantai." Jantung Nadia berdegap keras. Dia menunduk dan baru menyadari sebuah alat terpasang di pergelangan kakinya. Dengan mata menyala penuh amarah, Nadia menatap Darian dan berteriak ... "Darian, apa sebenarnya yang ingin kamu lakukan? Ini sudah termasuk kejahatan!" Menghadapi tudingannya, Darian hanya terkekeh pelan. Ujung jarinya menyusuri pipi Nadia dengan gerakan lembut namun menyesakkan. "Aku hanya ingin orang yang kucintai tetap berada di sisiku selamanya. Di mana letak kejahatannya?" Dia menunduk, hendak meraih bibir Nadia, namun dering ponsel yang tiba-tiba dan tajam memotong suasana. Nama Elita muncul di layar, seketika mengikis kegilaan di mata Darian. Dia hanya meninggalkan satu kalimat singkat, "Istirahatlah yang baik," lalu berbalik dan keluar dari ruangan. Pintu tertutup keras. Di kamar yang sunyi, hanya Nadia yang tersisa sendirian. Dengan panik, Nadia meraba-raba kasur mencari ponselnya, tetapi baru sadar benda itu sudah tidak ada di sisinya. Dia segera turun dari tempat tidur dan menyisir seluruh sudut kamar, mencari jalan keluar. Namun rasa takut langsung mencengkeram hatinya. Semua jendela telah tertutup rapat, dan selain pintu yang terkunci mati, tidak ada satu pun celah untuk melarikan diri. Keputusasaan menyeret hatinya semakin dalam. Tiba-tiba, dia meraih lampu meja di sampingnya dan menghantamkannya ke lantai dengan keras. Gelas, kotak obat, hiasan, apa pun yang bisa dijangkau, dia hancurkan satu per satu, melampiaskan rasa sakit yang menggerogoti dadanya. Entah berapa lama berlalu hingga tenaganya benar-benar terkuras, suara Darian mendadak terdengar dari dalam kamar. "Sudah tenang, sayang?" "Jangan pernah berpikir untuk pergi. Kamar ini dipantau kamera 360 derajat. Aku melihat setiap gerakanmu dengan jelas." "Istirahatlah. Besok pagi aku akan datang lagi." Nadia terduduk di lantai. Perlahan, napasnya menjadi stabil, dan pandangannya yang semula kacau mulai jernih kembali. Dalam kondisi sendirian tanpa bantuan, memberontak hanya akan sia-sia. Pada akhirnya, dia kembali naik ke tempat tidur, menarik selimut menutupi kepala, lalu tertidur dalam kelelahan. Saat dia terbangun kembali, Darian sudah duduk di sisi tempat tidur, menatapnya dengan senyum samar di mata.

© NovelRead, All rights reserved

Booksource Technology Limited.