NovelRead
Open the NovelRead App to read more wonderful content

Bab 4

Pakaian itu terkoyak, menampakkan tubuh Nadia yang penuh luka. Darah terus merembes keluar, terlihat begitu mengerikan. Gerakan tangan Darian mendadak terhenti, sorot matanya dipenuhi rasa bersalah. "Sayang ... maafkan aku ... " Sejak hari itu, Darian menemaninya sepanjang waktu tanpa pernah menjauh seolah takut Nadia pergi. Namun pendampingan itu lebih terasa seperti sebuah kurungan. Hingga pada hari keempat, Darian mengangkat sebuah cincin berlian dan berlutut dengan satu lutut di hadapannya. "Sayang, enam hari lagi adalah hari pernikahanku." "Meski kamu bukan pengantinnya, di hatiku selalu ada kamu." Nadia terdiam, lalu tertawa kecil tanpa suara. Sepasang matanya yang besar menatap Darian seolah sedang melihat sebuah lelucon. Namun pada akhirnya, dia tetap mengangguk, membiarkan Darian menyematkan cincin itu di jari manisnya. Melihat sikapnya yang menurut, Darian tersenyum puas dan memeluknya ke dalam dekapan. "Begitu dong, sayangku yang baik hati." Dua hari berikutnya, mereka seolah kembali ke masa-masa mesra seperti dulu, seakan semua yang terjadi hanyalah mimpi buruk yang tak pernah ada. Hingga hari keenam, Darian benar-benar merasa tenang dan tak lagi mengekangnya. Setelah Darian pergi keluar rumah, Nadia pun mulai menyiapkan beberapa "hadiah besar" untuknya. Semuanya akan diberikan pada hari pernikahannya. Malam itu, Darian tidak pulang. Saat fajar menyingsing, Nadia tiba-tiba tersentak bangun ketika seember air disiramkan ke tubuhnya. Dia tersentak membuka mata. Rasa sakit yang menusuk sekujur tubuhnya membuatnya langsung sadar sepenuhnya. Baru saat itu dia menyadari, cairan yang menyiram tubuhnya bukan air biasa, melainkan air garam. "Oh, sudah bangun rupanya?" Nadia mendongak mengikuti arah suara itu. Yang menyambut pandangannya adalah wajah Elita yang tersenyum penuh kemenangan. Di belakang perempuan itu, berdiri dua pria bertubuh kekar. Sekilas saja Nadia langsung mengenali mereka. Keduanya adalah pengawal yang dulu dia pilih sendiri untuk Elita. Saat itu, Elita pernah menangis padanya, mengeluh bahwa dirinya sering diikuti dan diganggu orang tak dikenal. Hati Nadia luluh. Tanpa ragu, dia segera mengatur agar dua pengawal tersebut ditugaskan khusus untuk melindungi Elita. Tak pernah terlintas di benaknya bahwa niat baik yang dulu dia berikan justru berubah menjadi senjata yang melukainya sendiri. Elita menyilangkan tangan di dada, menatap Nadia dari atas ke bawah dengan sikap merendahkan, sorot matanya penuh penghinaan. "Elita, kamu sudah gila, ya?!" Nadia bangkit hendak menuju kamar mandi untuk membilas air garam di tubuhnya. Namun baru saja mencapai pintu, rambutnya ditarik keras dari belakang oleh Elita. "Sepertinya pelajaran yang kamu dapat waktu di taman dulu masih belum cukup. Kenapa berandalan itu nggak sekalian saja menghabisimu?" Elita mendekat, suaranya dingin dan tajam. "Sudah tahu Darian punya tunangan, tapi masih nggak tahu malu tinggal di sini." "Orang rendahan seperti kamu memang murahan. Demi uang, apa saja mau kamu lakukan, ya?" Hati Nadia bergetar. Jadi berandalan-berandalan itu ternyata memang suruhan Elita. Namun saat ini dia sama sekali tak punya tenaga untuk menanggapi. Air garam di tubuhnya meresap ke luka-luka yang terbuka, membuat rasa sakitnya nyaris memicu kejang di sekujur badan. "Minggir!" Dia mendorong Elita dengan keras, lalu berlari masuk ke kamar mandi dan menguncinya. Air hangat mengalir deras, membasuh tubuhnya. Elita terhuyung akibat dorongan itu dan terjatuh keras ke lantai. Amarahnya memuncak, namun justru berubah menjadi tawa dingin. Dia menoleh pada para pengawal di sampingnya dan berteriak tajam. "Seret dia keluar!" Dua pengawal itu segera maju dan menendang pintu kamar mandi hingga terbuka. Dua pria itu dengan kasar menarik Nadia keluar, lalu menyeretnya hingga terhempas ke hadapan Elita. Nadia jatuh terduduk di lantai, rasa sakit dan keputusasaan bercampur di matanya. Pisau yang dulu dia berikan pada Elita untuk melindungi diri, kini justru menikam dirinya sendiri tanpa ampun. "Jadi, kamu Nadia? Bukankah yang kamu inginkan cuma uang? Ini aku beri!" Elita mengeluarkan setumpuk uang dari tasnya dan melemparkannya ke wajah Nadia. Akibat tarikan kasar itu, darah terus merembes dari luka-lukanya, bercampur dengan air yang membasahi tubuhnya, menetes ke lantai. Rasa sakit yang luar biasa membuat pandangannya mulai kabur dan kesadarannya goyah. "Elita, kamu tahu siapa aku? Aku ... " Belum sempat Nadia menyelesaikan kalimatnya, tamparan Elita sudah mendarat di wajahnya. "Plak!" Elita melangkah maju, menjambak rambut Nadia, lalu berkata dengan nada meremehkan. "Aku nggak peduli siapa kamu. Aku ini putri Keluarga Zaraya, tunangan Darian. Apa yang bisa kamu lakukan padaku?" Sambil berbicara, Elita memainkan rambut Nadia, sorot matanya dipenuhi rasa iri. "Rambutmu terawat sekali. Pasti nggak sedikit uang Darian yang kamu habiskan, ya?" Usai berkata demikian, Elita mengeluarkan sebotol lem super, lalu menuangkannya tanpa sisa ke kepala Nadia. Cairan lengket itu mengalir dari puncak kepalanya, merembes ke bawah, membuat Nadia bahkan tak berani membuka mata. Nadia terhuyung berusaha melawan, tetapi Elita mencengkeramnya dan menyeretnya keluar, lalu melemparkannya dengan kasar ke arah tangga. "Tadi kamu berani mendorongku. Sekarang aku juga akan mendorongmu jatuh dari tangga ini." Menahan rasa sakit yang menyiksa di sekujur tubuhnya, Nadia tetap menatap Elita dengan keras kepala. "Elita, kamu sama sekali nggak pantas disebut putri keluarga terpandang. Kamu cuma preman kasar!" "Kalau Darian kembali dan melihat wajah aslimu, apa kamu nggak takut?" Ucapan itu menusuk tepat sasaran. Wajah Elita yang sejak awal sudah diliputi amarah kini berubah semakin menyeramkan. Elita tiba-tiba mengangkat kakinya dan menendang Nadia dengan keras. Tubuh Nadia langsung terlempar, berguling menuruni tangga seperti layang-layang yang putus talinya. Tubuhnya terus menghantam anak tangga satu demi satu, rasa sakitnya seperti ditusuk ribuan jarum sekaligus, hingga napas pun terasa nyaris terhenti. Tiba-tiba, pintu utama yang tertutup rapat didorong terbuka dengan keras. Darian muncul di ambang pintu. Nadia tergeletak di lantai. Dengan sisa kesadarannya, dia berkedip pelan, dan pandangannya bertemu dengan mata Darian yang merah menyala. Dia melihat Darian berlari ke arahnya, namun justru melewatinya begitu saja, dan langsung menuju Elita. Darian berbicara padanya dengan suara lembut dan penuh perhatian. Nadia menatap pemandangan itu dengan mata terbelalak, tak percaya. Detik berikutnya, kesadarannya lenyap sepenuhnya, tenggelam ke dalam kegelapan pekat.

© NovelRead, All rights reserved

Booksource Technology Limited.