NovelRead
Open the NovelRead App to read more wonderful content

Bab 6

"Sudah bangun?" Setelah tatapan singkat itu, Nadia menahan segala perlawanan di matanya dan memasang sikap patuh. "Darian, aku sudah memikirkannya matang-matang. Aku ... aku bersedia tetap tinggal di sisimu selamanya." Darian mengangkat alisnya. Sepasang mata hitamnya yang dalam menatap wajah Nadia dengan penuh penilaian. "Apa kamu serius?" Nadia mengangguk, memasang ekspresi seolah telah berdamai dengan kenyataan. "Iya." "Malam ini aku memikirkan banyak hal. Dunia di luar memang terlihat bebas, tapi belum tentu lebih aman dibandingkan berada di sisimu." Melihat keraguan di mata Darian belum sepenuhnya sirna, Nadia kembali berbicara. "Namun aku juga punya syarat. Mulai sekarang, apa pun yang kamu berikan pada Elita, kamu harus memberiku yang lebih mahal dan lebih baik darinya." Setelah cukup lama terdiam, Darian akhirnya angkat bicara. "Hanya itu syaratmu?" "Dan kamu juga harus menjamin, orang yang paling kamu cintai selamanya hanya aku." "Janji padaku, kamu nggak boleh jatuh cinta padanya." Nadia bangkit, menggenggam tangan Darian erat-erat, dan menatap wajahnya tanpa berkedip. Tatapannya penuh kesungguhan. "Selain itu, sebelum kamu menikah, kamu harus selalu berada di sisiku. Apa pun yang terjadi, kamu nggak boleh meninggalkanku." "Aku ingin kamu memikirkanku setiap saat. Bahkan ketika berada di lokasi pernikahanmu, di hatimu hanya boleh ada aku seorang." Darian sedikit mengangkat alis, sudut bibirnya melengkung membentuk senyum tipis. "Kalau tiba-tiba ada rapat mendadak atau urusan penting yang nggak bisa ditunda?" Sudut bibir Nadia sedikit mengerucut, nada suaranya mengandung ketidakpuasan, namun terdengar seperti sedang merajuk. "Kalau begitu, bawa aku bersamamu." "Aku ingin semua orang tahu kalau kamu milikku, hanya milikku seorang." Melihat sikapnya yang penuh rasa memiliki itu, kecurigaan di hati Darian perlahan memudar. Meski begitu, dia sengaja mengernyitkan dahi, berpura-pura ragu. "Sayang, kamu tahu sendiri aku akan segera menikah. Ada beberapa kesempatan yang nggak pantas jika aku membawamu." Begitu mendengarnya, mata Nadia langsung memerah. Dia tiba-tiba menerjang ke dalam pelukan Darian, kedua tangannya memeluk pinggang pria itu erat-erat. "Aku nggak peduli!" "Aku cuma tahu aku mencintaimu, dan aku nggak mau berpisah darimu walau sesaat." Darian menunduk dan menatap sosok di dalam pelukannya. Bulu matanya terkulai, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu. Saat merasakan tubuh Nadia yang bergetar halus, hatinya pun melunak, bercampur rasa perih dan sayang. Dia menepuk punggung Nadia perlahan. Sudut bibirnya tak kuasa menahan senyum, lalu dengan suara rendah dia berkata ... "Aku juga mencintaimu. Aku nggak akan pernah meninggalkanmu." Beberapa hari berikutnya, Darian benar-benar seperti yang dia janjikan, selalu menemani Nadia di sisinya. Berbelanja, bepergian, berpetualang ... apa pun yang ingin dilakukan Nadia, Darian selalu menemaninya. Waktu berlalu begitu cepat, hingga tibalah hari pernikahan. Di pagi hari, Darian mengenakan pakaian resmi, dan dengan berat hati mencium dahi Nadia. Saat dia hendak pergi, pinggangnya tiba-tiba ditahan erat oleh Nadia. "Darian, aku nggak ingin kamu pergi." Darian tersenyum penuh kehangatan, memutar badan dan memeluk Nadia ke dadanya, sambil mengelus kepalanya dengan lembut. "Sayang, ini hanya untuk menjalani prosesi saja. Aku akan segera kembali menemuimu." Nadia menyandarkan kepala di dada Darian, suaranya terdengar pelan dan sendu. "Kalau kamu pergi, cuma tersisa aku sendiri di vila seluas ini dan nggak ada satu pun hiburan. Aku nggak mau sendirian ... " Dia mengangkat sedikit wajahnya, matanya memerah, dan tersenyum getir. "Tapi sudahlah ... aku nggak mau merepotkanmu. Pergilah." Mendengar itu, Darian merasa hatinya tersayat. Dia mengembuskan napas panjang dengan lembut. "Bersikap baiklah dan tunggu aku kembali." Sambil berkata begitu, Darian mengeluarkan ponsel dari saku jasnya dan menyodorkannya ke depan Nadia. Nadia sempat ragu, lalu mengulurkan tangan untuk mengambilnya. Namun Darian tidak langsung melepas. Dia menurunkan suaranya dan memberi peringatan. "Sayang, kamu pasti akan bosan sendirian di rumah. Ini, aku kembalikan ponselmu supaya kamu bisa menghabiskan waktu dengan nyaman. Tapi sebaiknya kamu jangan macam-macam." Dia mendekat sedikit dan berbisik di telinga Nadia dengan nada dingin namun lembut. "Sekalipun kamu mencoba macam-macam, percuma saja. Ini Perida. Tanpa izinku, nggak akan ada seorang pun yang berani membawamu pergi." Setelah itu, Darian mencium pipi Nadia, lalu berbalik dan meninggalkan kamar. Di luar terdengar suara mobil menjauh. Rasa sedih dan kecewa di mata Nadia seketika hilang. Dia cepat-cepat meraih ponselnya. Begitu ponsel dinyalakan, muncul deretan panggilan tak terjawab dari ayah dan kakaknya. Dengan tangan gemetar, Nadia menekan tombol untuk menghubungi ayahnya. Telepon langsung diangkat, dan terdengar suara panik ayahnya di ujung sana. [Nadia, akhirnya kamu mengangkat telepon! Beberapa hari ini kami nggak bisa menghubungimu, aku dan kakakmu sangat khawatir!] Tak lama kemudian, suara panik kakaknya terdengar di telepon. [Nadia, kamu sekarang di mana? Apa terjadi sesuatu? Katakan sekarang juga!] Mendengar kekhawatiran ayah dan kakaknya, mata Nadia langsung basah oleh air mata. Dengan suara bergetar, dia menceritakan semua yang baru saja terjadi, termasuk fakta bahwa dia dipenjara di tempat itu. Setelah mendengar ceritanya, ayah dan kakaknya langsung marah besar. [Nadia, Ayah sudah mengirim pengawal ke sana, mereka akan segera sampai!] [Aku dan kakakmu juga sedang naik helikopter sekarang. Kita akan menuntaskan semua ini untukmu!] Tak lama setelah telepon berakhir, pengawal yang dikirim ayahnya sudah sampai. Mereka memanjat jendela masuk dan dengan cepat melepas alat pelacak di pergelangan kaki Nadia. "Nona Nadia, kami akan langsung membawamu pergi." "Nggak, aku masih ada urusan sebelum pergi." Nadia menarik napas panjang. "Bawa aku ke lokasi pernikahan Darian." Dia ingin melihat sendiri, apakah Darian masih bisa menerima jika yang menikahinya ternyata hanyalah seorang pengganti.

© NovelRead, All rights reserved

Booksource Technology Limited.