Bab 7
Lorong dipenuhi dengan embusan angin pagi.
Aku melangkah pergi, dan bisa mendengar suara langkah kaki yang mengikuti dari belakang.
"Kak Luna." Niken masih mengikutiku. Suaranya terdengar serak karena menangis, "Jadi ... apa kamu akan kembali?"
Aku menekan tombol lift dan balik bertanya, "Kembali ke mana?"
"Keluarga Lupito." Suaranya terdengar tegang, "Faris dan Daffin ... mereka kangen banget padamu."
Pintu lift terbuka.
Aku melangkah masuk, dia juga ikut.
"Apa kamu mau membiarkanku kembali?" Aku menekan tombol lantai satu sambil menatap pantulan dirinya di pintu lift.
Dia sempat menghindar sebentar dari pandanganku.
"Aku ... " Niken menggigit bibir. "Aku cuma merasa ... bagaimanapun juga, Kakak kan ibu kandung Daffin."
"Cuma itu?" Aku menatap ke angka lantai yang terus berubah.
Keheningan memenuhi lift yang sempit.
Saat lift turun ke lantai tiga, Niken akhirnya berkata pelan, "Nggak apa kalau ... Kakak mau kembali. Anak juga butuh kehadiran ibunya."
"Anak yang mana?" tanyaku.
Dia lan

Klik untuk menyalin tautan
Unduh aplikasi NovelRead untuk membuka konten yang lebih menarik
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda