NovelRead
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa
Pertemuan KembaliPertemuan Kembali
Oleh: NovelRead

Bab 3

Di ranjangku dan Faris, aku malah melihatnya menindih tubuh Niken dengan napas berat. Rambut panjang Niken tergerai menutupi bantalku. Kedua lengannya merangkul erat leher Faris. Aku berdiri tanpa alas kaki di depan pintu. Beruang kecil di lenganku pun terjatuh ke lantai. Aku tidak paham dengan apa yang mereka lakukan saat itu. Tapi dadaku terasa sakit melihatnya. Dua orang di atas ranjang itu langsung menjauh begitu melihatku. Faris memakai celana piyamanya dengan kelabakan. Wajahnya terlihat panik. "Luna, Luna, aku ... semalam aku ... aku mabuk, aku ... " Niken juga bergegas memakai piyamanya, lalu berjalan ke depanku. Dia kemudian meminta maaf dengan suara tercekat. "Maaf ... Kak Luna, maaf ... kami ... " Aku melihat wajahnya yang sudah basah oleh air mata, lalu mengulurkan tangan untuk menyekanya. Tubuh Niken membeku. Dia lalu memelukku erat dan menangis tersedu di bahuku. "Maaf ... maaf, Kak Luna ... " "Aku nggak bisa mengendalikan hatiku ... aku nggak bisa. Aku sudah bersalah ke Kakak ... " Dia menangis tersedu sampai piyamaku basah. Faris berdiri di samping, kedua matanya tampak semerah darah. Dia menunduk dan tampak putus asa. Keesokan harinya, Niken menyeret koper dan hendak pergi. Faris berdiri terdiam di ruang tamu. Sementara Daffin mencengkeram erat ujung celananya. Kedua mata Niken sudah berkaca-kaca. Saat sudah di depan pintu, Daffin tiba-tiba menangis keras. "Tante Niken jangan pergi! Jangan pergi! Jangan!" Air mata Niken akhirnya jatuh juga. Dia berjongkok dan mengusap lembut kepala Daffin, sambil berkata dengan suara serak. "Daffin, nurut sama Ayah ya, jadi anak yang baik." "Tante sudah berbuat salah dan harus pergi." Daffin menangis tersedu. "Kalau begitu, Tante tinggal minta maaf saja." "Ibu pernah bilang, anak baik akan minta maaf kalau sudah tahu salah dan mau berubah." Air mata Niken malah makin deras. Dia menggeleng pelan tanpa mengatakan apa-apa. Dia lalu menoleh ke arah Faris, lalu berpesan dengan suara lembut. "Lain kali kalau ada acara makan-makan kantor, jangan banyak minum." "Kalau memang harus minum, jangan lupa pulang dan suruh Bu Linda buatkan sup penggar." "Obat maagmu ada di laci ketiga nakas samping ranjang. Jangan lupa diminum kalau nggak enak badan." "Kamu gampang batuk kalau lagi perubahan musim. Sudah aku siapkan obat herbal buat kamu ... " Niken terus bicara dengan cerewet. Sementara Faris mendengarkan. Kedua matanya jadi ikut berkaca-kaca. Akhirnya, Niken beralih menatapku. Tatapannya terlihat rumit. Ada rasa bersalah, rasa enggan melepas, dan ... sedikit kebencian. "Kak Luna." Suaranya begitu pelan saat melanjutkan, "Lain kali ... aku akan datang lagi menjengukmu." Aku memeluk boneka sambil mengangguk pelan. Niken menyeret kopernya, lalu pergi melewati pintu utama. Faris dan Daffin menatap punggungnya, mereka terdiam lama. Daffin yang masih terisak itu pun bertanya. "Ayah, kenapa Tante Niken nggak boleh jadi ibuku?" Tubuh Faris sontak membeku. Dia lalu menunduk menatap putranya. "Kamu mau dia jadi ibumu?" "Mau!" Daffin mengangguk-angguk. Setelah itu dia baru ingat kalau masih ada aku di sampingnya. Dia menatapku dengan rasa bersalah. Melihatku asyik main boneka, dia menambahkan ucapannya dengan suara pelan. "Dia lebih baik daripada Ibu sekarang. Dia mau main denganku dan mendongengiku, bahkan memasakkan makanan enak ... " "Kalau dia jadi ibuku, Ayah juga senang, 'kan?" Aku menunduk, jari-jariku mengorek mata plastik boneka tanpa sadar. Faris terdiam sesaat, sebelum akhirnya berlari keluar. "Ayah! Ayah mau ke mana?" Tidak ada suara dari luar pintu. Daffin duduk lagi di sofa dengan murung. Aku meletakkan bonekaku dan berjalan ke jendela besar. Di luar sana terlihat Faris yang mengejar Niken. Niken tampak kaget. Sebelum dia sempat mengatakan sesuatu, Faris lebih dulu memeluknya, lalu menciumnya. Sinar mentari begitu terik, membuat mataku sampai silau dan perih. Aku mengangkat tangan, menyentuh dadaku. Air mataku lalu mengalir begitu saja. Tidak lama kemudian, Faris kembali sambil menggenggam tangan Niken. Dia bilang kalau Niken tidak akan pergi. Daffin pun melompat kegirangan. Aku ikut tersenyum. Rumah ini kembali terasa harmonis lagi. Faris menyiapkan kamar baru bernuansa tuan putri untukku. Sementara Niken pindah ke kamar yang dulu kutempati bersama Faris. Dua album foto merah yang berisi fotoku dan foto Faris di laci, kini di ganti dengan album foto yang hanya tinggal fotoku saja. Daffin mulai memanggil Niken dengan sebutan Ibu. Hari itu, mereka bertiga sedang tidak ada di rumah. Bu Linda mengelap meja sambil menatapku. "Memang dasarnya bodoh ya bodoh. Suamimu nikah sama wanita lain, tapi kamu masih asyik main di sini dan nggak peduli."

© NovelRead, hak cipta dilindungi Undang-undang

Booksource Technology Limited.