NovelRead
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 4

Di meja perawat di sebelah, terdengar bisik-bisik rendah. "Kamu lihat nggak? Yang tadi itu adalah putra dari Keluarga Wiranata!" "Yang dia gendong itu pacar barunya? Wah, baru lecet sedikit di jari, pria itu sampai menyuruh seluruh dokter di rumah sakit untuk menanganinya? Gadis itu benar-benar dimanjakan!" "Pacar? Bukankah katanya Arga nggak pernah memberi status resmi pada siapa pun? Bagaimana dengan gadis yang lima tahun bersamanya dulu?" "Ini beda! Katanya, demi menyenangkan gadis ini, dia rela mempertaruhkan nyawanya! Kemarin dia juga sudah mengumumkan hubungannya di media sosial! Ini benar-benar pertama kalinya dia melakukan itu ... " Aluna hanya mendengarkan dengan tenang, menatap kosong cairan infus yang menetes perlahan. Karena demamnya tidak turun, dokter menyarankan dia untuk dirawat semalam guna observasi. Sore harinya, setelah selesai pemeriksaan, dia keluar dari ruang periksa dan tanpa sengaja bertemu Arga di tikungan koridor. Sepertinya dia baru saja menenangkan Salsa, dan raut wajahnya masih menyimpan sedikit kelembutan. Saat melihat Aluna, Arga terlihat terkejut sejenak, kemudian mengerutkan alis. "Aluna?" Suaranya terdengar jelas tidak sabar dan penuh salah paham. "Kenapa kamu ada di sini lagi? Kemarin aku sudah bilang dengan jelas, kita sudah selesai. Sekalipun kamu berusaha mengikutiku, itu sia-sia. Kita nggak mungkin bersama lagi. Berhenti buang-buang tenaga." Aluna merasa lemas karena demam. Dia malas berdebat dan hanya menjawab dengan suara serak, "Aku nggak mengikutimu. Aku demam tinggi dan datang ke rumah sakit untuk diinfus." Dia berhenti sejenak, lalu menambahkan, "Tenang saja, aku nggak akan mengganggumu lagi." Setelah mengatakannya, dia mengira Arga akan pergi dengan puas. Namun, saat mendengar itu, alis Arga justru mengerut lebih dalam. Dia menatap wajah Aluna yang tenang bahkan sedikit dingin, dan tiba-tiba teringat saat Aluna sakit dulu. Dia selalu manja di pelukannya, merengek agar diberi obat dan ditemani di ranjang. Sekarang Aluna berkata tidak akan mengganggunya lagi? Padahal inilah yang Arga inginkan, tapi entah kenapa, muncul rasa marah tak jelas di hati Arga yang membuatnya tidak nyaman. Dia menatap Aluna beberapa detik, lalu akhirnya tidak berkata apa-apa. Dengan ekspresi dinginnya, dia langsung berjalan melewati Aluna. Keesokan harinya, Aluna merasa sedikit lebih baik dan pergi untuk mengurus surat keluar rumah sakit. Namun loket pembayaran sudah ramai dipadati orang-orang yang gaduh dan ribut, seperti sedang terjadi masalah. Tiba-tiba, orang-orang di kerumunan itu menjerit histeris. "Ada orang gila! Cepat lari!" Seorang pria mengacungkan pisau buah, bertingkah seperti orang gila, dan menyerang siapa saja yang ditemuinya. Seketika, suasana di tempat itu menjadi kacau balau. Aluna terkejut dan secara refleks mundur untuk menjauh dari tempat kacau itu. Tepat saat dia berbalik, pintu lift terbuka dan Arga keluar sambil menggandeng Salsa. Di waktu yang hampir bersamaan, pria yang membawa pisau tadi melihat mereka. Sepertinya dia menemukan targetnya. Dengan mata memerah, pria itu langsung menyerang Arga. Di tengah kekacauan, ada orang yang menabrak Aluna dari belakang dengan keras. Tubuhnya yang masih lemah karena sakit langsung kehilangan keseimbangan dan jatuh terhuyung-huyung ke depan. Dia terjatuh tepat berada di depan Arga, menghalangi serangan itu. Seketika ... Bilah pisau yang dingin langsung menancap di perut Aluna. Begitu rasa sakit yang menusuk datang, dia melihat mata Arga dipenuhi kejutan dan ketidakpercayaan yang luar biasa.

© NovelRead, hak cipta dilindungi Undang-undang

Booksource Technology Limited.