NovelRead
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 3

Teks yang singkat tapi menohok itu membuat seluruh ruang VIP heboh. "Wah! Arga hebat sekali! Ini pertama kalinya dia mengumumkan hubungannya secara resmi!" "Benar!" seru seorang teman lain sambil mendekat, "Arga sebelumnya nggak pernah memberi status resmi ke siapa pun!" "Ini benar-benar pertama kalinya!" Arga menyorongkan layar ponselnya ke depan Salsa, tatapan yang biasanya nakal kini dipenuhi kelembutan. "Aku memang belum pernah memberi status resmi pada wanita mana pun. Tapi ... kamu adalah yang pertama. Sekarang, kamu percaya, 'kan?" Wajah Salsa seketika memerah. Dia menunduk malu-malu dan bersembunyi di pelukannya. Aluna menatap adegan itu dengan tenang, lalu berdiri dan meletakkan cek itu perlahan di atas meja. "Semoga kalian berdua bahagia selamanya." Setelah mengucapkan itu, dia berbalik dan pergi tanpa ragu sedikit pun. Melihat Aluna meninggalkan ruang VIP dengan tegas, Arga yang sedang memeluk Salsa sempat menegang sebentar. Tak jauh dari ruangan itu, beberapa pria muda yang sedang mabuk dari ruang sebelah mengadang Aluna. "Halo! Cantik! Kamu dari mana? Kami belum pernah lihat kamu sebelumnya! Ayo minum bareng kami." "Duh, tubuhnya bagus sekali! Ayo, jangan pergi dulu!" Aroma alkohol yang pekat menyeruak, dan beberapa tangan nakal mulai meraba tubuh Aluna. Wajah Aluna berubah dingin. Dengan sekuat tenaga, dia berjuang. "Lepaskan aku! Pergi sana!" "Sialan! Diberi kesempatan baik malah nggak mau!" Salah satu pemuda kaya yang Aluna dorong tampak semakin marah dan menarik Aluna lebih kuat lagi. Di dalam ruang VIP, Dicky mengintip dari celah pintu dan melihat kejadian di luar. Dengan ragu-ragu, dia berkata kepada Arga, "Arga, sepertinya Aluna diganggu pemuda dari Keluarga Sundra ... Mereka mabuk dan bisa melakukan apa saja. Kalau kami yang ke sana, mungkin nggak ada gunanya. Bagaimana kalau ... kamu yang lihat sendiri?" Jari-jari panjang Arga yang masih memainkan gelas langsung berhenti mendengar itu. Saat dia hendak berdiri, Salsa tiba-tiba gemetar di pelukannya. "Arga ... " Wajah Salsa pucat, matanya merah, tapi dia tetap memaksakan senyum. "Tolong bantu Aluna. Bagaimanapun, dia sudah bersamamu selama lima tahun ... " Meski kata-katanya terdengar tulus dan besar hati, jari-jari Salsa mencengkeram ujung baju Arga dengan erat, hingga ruas jarinya memutih. Tatapan Arga seketika melunak. Dia menunduk dan mencium kening Salsa. Suaranya lembut luar biasa. "Bodoh, aku baru pertama kali memberi status resmi pada seseorang, jadi aku harus belajar jadi pacar yang baik." Dia menepuk pipi Salsa dengan lembut. "Salsa, semua rasa aman yang seharusnya dimiliki gadis lain nggak akan kukurangi sedikit pun untukmu." Setelah itu, Arga menatap dingin ke arah orang-orang di sekitarnya dan memerintahkan, "Urusan hidup mati orang lain, bukan urusanku. Tutup pintunya." Pintu ruang VIP yang tebal menutup perlahan, memisahkan mereka sepenuhnya dari keributan dan teriakan di luar. Saat Aluna ditarik oleh beberapa pemuda mabuk ke ruang VIP sebelah, gaun merahnya sudah sobek. Rasa takut menyelimuti seluruh tubuhnya. Dalam keputusasaan, dia meraih sebuah botol kosong dan dengan sekuat tenaga memukulkannya ke kepala salah satu pemuda yang mencoba menindihnya. Saat korban menjerit kesakitan dan yang lainnya terpana, Aluna dengan cepat mendorong mereka. Dengan pakaian setengah terbuka, dia berlari keluar dari ruang VIP sambil tersandung-sandung. Entah sejak kapan hujan deras turun di luar.. Tubuhnya basah kuyup, rambutnya berantakan, pakaiannya kusut. Dia berdiri di tengah hujan dan mencoba menghentikan mobil. Namun melihat penampilannya, sebagian orang di kendaraan yang lewat justru mempercepat laju mereka, dan sebagian lagi menoleh dengan jijik. Tak ada satu pun yang berani berhenti untuk menjemputnya. Akhirnya, Aluna menyerah. Dia melepaskan sepatu hak tingginya dan berjalan tanpa alas kaki menuju apartemennya selangkah demi langkah. Hujan dingin membasahi wajahnya, bercampur dengan air mata rasa malu. Telapak kakinya tergores oleh permukaan jalan yang kasar sehingga setiap langkahnya terasa seperti menginjak pisau. Entah sudah berapa lama berjalan, akhirnya dia tiba di apartemen kecil itu. Dia jatuh terduduk di lantai, menatap bayangan dirinya yang compang-camping di cermin, dengan kaki penuh lepuhan dan luka gores. Dengan tenang, dia membersihkan luka, mengoleskan obat, lalu terjatuh ke tempat tidur dan tertidur pulas karena kelelahan. Keesokan paginya, dia terbangun karena sakit kepala hebat dan tenggorokan yang perih. Setelah mengukur suhu tubuhnya, dia demam tinggi hingga 39,5°C. Di rumah tidak ada obat, dan rasa sakitnya begitu hebat. Dia hanya bisa memaksakan diri untuk bangun dan pergi ke rumah sakit. Dia mendaftar, mengantre, dan diperiksa. Saat akhirnya dia duduk di bangku koridor untuk infus, dia hampir kehabisan tenaga. Tiba-tiba, terdengar keributan di pintu masuk rumah sakit. Sekelompok pengawal berpakaian hitam membuka jalan. Di tengah-tengah, tampak Arga dengan hati-hati menggendong Salsa. Dengan wajah cemas, dia melangkah cepat menuju ruang gawat darurat, dan pemandangan itu menarik perhatian semua orang.

© NovelRead, hak cipta dilindungi Undang-undang

Booksource Technology Limited.