Bab 13
Di bawah sisa cahaya matahari terbenam, dua sosok yang berdiri di depan gerbang halaman membuat seluruh langit seolah tertutup bayangan. Setelah lebih dari empat bulan, Stefano kembali melihat Wenny dan putranya. Hatinya menegang seketika. Dia refleks ingin pergi, tetapi sentuhan hangat tangan kecil Winda di telapak tangannya membuat tubuhnya perlahan menegak.
Bayangan ketakutan yang dulu muncul setiap kali bertemu Wenny kini perlahan menghilang. Ekspresi Stefano tetap tenang, tanpa emosi, saat dia melangkah menuju halaman.
Di sinilah kampung halamannya, rumahnya, sekaligus tempat penghiburan jiwanya, yang memberinya dukungan terbesar.
Wenny mengerutkan kening, berkata dengan nada bicara yang sangat menjengkelkan, "Sudah puas bikin ulah? Cepat bereskan barangmu dan pulang bersamaku."
Stefano sampai tertawa dingin mendengar nada arogan dan sok berkuasanya itu. Perlahan dia berbalik, menatap Wenny, lalu berkata dengan datar, "Wenny, izinkan aku mengingatkan, kita sudah hampir lima bulan

Klik untuk menyalin tautan
Unduh aplikasi NovelRead untuk membuka konten yang lebih menarik
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda