NovelRead
Open the NovelRead App to read more wonderful content
Pertemuan KembaliPertemuan Kembali
By: NovelRead

Bab 5

Saat aku sadar kembali, aku sudah dalam kondisi terikat di sebuah gudang terbengkalai. Niken ada di sampingku. Dia sepertinya lebih dulu terbangun dan sedang berusaha melepaskan ikatannya. Saat melihatku sudah bangun, tatapan matanya terlihat rumit. Dia lalu mencoba menenangkanku dengan lembut. "Kak Luna sudah bangun? Jangan takut ... " Aku menggerakkan bibir dan menatapnya linglung. Kemudian, pintu besi yang ada di ujung gudang pun terbuka dengan diiringi suara berderit. Ada tiga orang pria berwajah garang yang berjalan masuk. "Wah, kalian sudah bangun?" Pemimpin para preman itu punya bekas luka di wajahnya. Dia menatap kami dengan tatapan mesum. "Wanita Faris ... ck, ck. Mereka memang cantik-cantik." "Tapi entah berapa harga yang berani Pak Faris keluarkan." Niken tiba-tiba mendongak dan mencoba berusaha tetap tenang. "Kalian tahu kan kalau menculik itu tindakan kriminal serius? Cepat bebaskan kami! Keluarga Lupito nggak akan membiarkan kalian begitu saja!" Pria dengan bekas luka di wajah itu menganggap ucapan barusan lelucon belaka. Dia tertawa bersama dua komplotannya. "Kami sudah berani menculik kalian, mana mungkin kami masih takut sama Keluarga Lupito? Sudah, jangan banyak bicara!" "Telepon Faris dan minta dia siapkan uang tunai 100 miliar. Suruh antarkan ke dermaga terbengkalai di pinggiran barat kota jam dua belas malam ini." "Telat satu menit, atau berani lapor polisi ... " Pria itu lalu berjongkok dan memegang dagu Niken dengan jari kotornya. "Aku akan mengirimkan jari istrinya satu per satu." "Kamu berani?" Niken kaget sekaligus marah. Dia memalingkan wajah demi menepis tangan pria itu, bahkan meludahinya. "Jangan sentuh aku!" Pria dengan bekas luka di wajah itu pun tersinggung. Dia balas menampar keras wajah Niken. Tamparan itu membuat Niken sampai tersungkur ke samping. Ada darah di sudut bibirnya. "Niken!" Melihatnya ditampar, dadaku terasa sesak dan berteriak tanpa sadar. "Wah, si bodoh ini baik hati rupanya." Salah satu penculik berjalan mendekat sambil tersenyum, lalu menendangku dengan kaki. Aku tidak tahu apa artinya diculik dan apa itu bahaya. Aku hanya tahu kalau Niken itu temanku, dan mereka menamparnya sampai dia menangis. Makanya begitu para penculik itu mendekatiku, aku menerjang ke depan dan menggigit pergelangan tangannya dengan keras. "Aah!" Penculik itu menjerit keras seperti hewan yang disembelih. Dia berusaha melepaskan tangannya sekuat tenaga. Aku menggigitnya keras dan mulutku langsung bisa merasakan anyir darah. "Sia*an! Lepas! Dasar wanita gila! Lepaskan!" "Sia*an!" Penculik yang kugigit itu akhirnya berhasil menarik tangannya yang sudah berdarah-darah. Dia marah besar dan mengangkat pipa besi. "Cukup!" Pria dengan bekas luka di wajah itu menghentikannya. Dia lalu menatapku. "Si bodoh ini memang gila ... Bawa orang merepotkan ini ke gudang bawah tanah dulu. Jangan sampai di menghalangi rencana kita!" Mereka menarikku kasar agar berdiri, lalu menyeretku paksa. Mereka membuka pintu besi berkarat di pojok gudang, lalu melemparku ke dalam. Aku terjatuh ke tanah yang dingin dengan keras. Sekujur tulang di tubuhku terasa remuk. Pintu besi di atas kepalaku ditutup dengan bantingan keras. Aku terbaring di tanah, tubuhku gemetar ketakutan. Entah sudah berlalu berapa lama, samar-samar terdengar suara orang berkelahi dari luar. Aku juga mendengar suara teriakan yang familier. "Niken! Niken, kamu di mana!" Faris datang. Faris datang untuk mencari kami ... dia akan menemukanku ... Aku menahan napas dan berusaha mendongakkan kepala. Suara perkelahian di luar mereda perlahan. Aku bisa mendengar suara Faris yang cemas. "Niken! Niken, bangun! Sudah nggak apa, aku sudah datang." Kemudian terdengar suara Daffin yang menangis keras. "Ibu Niken! Ibu! Ibu kenapa?" Suara-suara lain yang saling bersahutan berisik juga terdengar. "Pak Faris, Bu Niken sepertinya pingsan!" "Cepat! Ambulansnya sudah ada di luar!" "Gawat, gudangnya dipasang bom, cepat kabur!" Mereka menemukan Niken dan langsung pergi. Lalu bagaimana denganku? Aku membuka mulut, mau berteriak. Tapi tenggorokanku seperti tersumbat. Aku menggunakan pergelangan tanganku yang terikat untuk memukul dinding bata dingin di sampingku. Duk. Duk. Duk. Suara pukulanku dari dalam gudang bawah tanah terdengar terlalu pelan. Aku mendengar Faris memerintah dengan panik. "Cepat! Bawa ke rumah sakit!" Aku bisa mendengar suara langkah kaki menuju pintu gudang. Cahaya senter juga ikut menjauh. Sinar dari celah lubang gudang bawah tanah juga makin redup. Tidak ... jangan pergi ... aku di sini ... Aku mengumpulkan seluruh tenagaku, lalu membenturkan kepala ke dinding agar bisa menimbulkan suara yang lebih keras. Suara langkah kaki di luar juga seolah berhenti sejenak. Daffin terdengar mengatakan sesuatu dengan kebingungan. "Ayah, sepertinya ... ada suara?" Jantungku terasa mau mencuat keluar. Namun, Faris malah menjawab dengan yakin. "Nggak usah dipedulikan! Mungkin cuma tikus. Niken harus segera diobati!" Suara langkah kaki mereka kembali terdengar menjauh dengan cepat. Temaram cahaya terakhir dari lubang pintu masuk gudang bawah tanah akhirnya menghilang, bersamaan dengan pintu gudang yang tertutup rapat. Kegelapan serta hawa dingin tidak berujung itu pun akhirnya menelanku. Mereka sudah pergi. Mereka melupakanku. Mereka ... benar-benar sudah tidak menginginkanku lagi. Pada akhirnya, dari gudang atas terdengar suara 'tit tit tit' yang mencekam! Lalu ... "Duar!" Suara ledakan yang mengguncang keras pun terdengar. Aku terlempar dan terbentur keras, sampai akhirnya terjatuh lagi ke tanah. Bagian belakang kepalaku terbentur batu. Cairan hangat pun langsung mengalir keluar. Sebelum benar-benar pingsan, hal terakhir yang terlintas dalam benakku adalah kejernihan yang aneh. ... Suara aliran air menyadarkanku dari rentetan kenangan tersebut. Aku mematikan keran dan menatap diriku di cermin. Ledakan itu telah merenggut banyak hal. Tapi juga mengembalikan Luna yang dulu di saat bersamaan. Setelah meninggalkan Kota Sujarbaya, aku merasa kebencian akan terus mengikutiku seumur hidup. Tapi saat aku melihat wajah mereka berdua lagi hari ini, aku pun sadar. Bagian hatiku yang dulu pernah hancur tercabik-cabik, kini rupanya telah sembuh tanpa kusadari. Menyimpan kebencian sangat melelahkan. Langit perlahan terang, kini tinggal aku sendirian di kantor. Aku mengambil jaket dan mau pergi. Tapi tiba-tiba ada bayangan seseorang di pintu. Orang itu berdiri di sana, suaranya tercekat seperti menahan tangis. "Kak Luna ... " Dia terisak sambil memohon. "Bisakah kita ... bicara?"

© NovelRead, All rights reserved

Booksource Technology Limited.