NovelRead
Open the NovelRead App to read more wonderful content
Pertemuan KembaliPertemuan Kembali
By: NovelRead

Bab 4

Aku mendongak sambil mengerutkan kening. Faris pernah bilang kalau kata 'bodoh' adalah umpatan. Kalau ada yang menyebutku seperti itu, aku harus memukulnya. Makanya aku berdiri dan berjalan menghampiri Bu Linda, lalu menampar wajahnya. Bu Linda memegangi wajahnya, dia merengut marah. "Kamu! Dasar bodoh! Beraninya menamparku!" Bu Linda gemetar saking marahnya. Tapi dia tetap tidak berani membalas. Dia kembali mengumpat sambil melotot. "Cih! Kamu masih menganggapmu nyonya muda? Suami sama anakmu saja sudah nggak mau lagi sama kamu!" "Tunggu saja, beberapa hari lagi mereka akan mengusirmu. Aku mau lihat akan seperti apa nasibmu nanti!" "Nggak akan!" Aku membantah keras, tapi di dalam hatiku terasa sedikit panik. Bu Linda lalu mengejek. "Pak Faris sudah menikahi Bu Niken. Kamu cuma akan jadi istri yang nggak diharapkan!" "Bu Niken yang akan jadi istri sah. Dia yang akan jadi ibu baru Tuan Muda Daffin. Siapa yang masih mau menerima si bodoh sepertimu!" Bu Linda terus saja berkata kalau Faris tidak lagi mau menerimaku dan mau mengusirku. Makin mendengarnya membuatku makin marah sekaligus takut. Aku nggak bodoh! Faris pernah bilang kalau dia tidak akan pernah meninggalkanku! Aku balik badan dan berlari keluar. Aku harus menemui Faris. Aku mau mendengar dari mulutnya sendiri. Sopir terlihat ragu saat melihatku panik. Tapi akhirnya dia tetap menyalakan mobil. Mobil itu berhenti di sebuah taman indah yang ramai orang. Aku melihat Faris berdiri di panggung. Dia memegang cincin dan memakaikannya di tangan Niken. Daffin berdiri di samping sambil memegang kotak cincin. Dia tampak senang saat memanggil Niken dengan panggilan Ibu. Orang-orang yang ada di sana juga terlihat tertawa sambil bertepuk tangan. Aku menerobos kerumunan dan berjalan maju. Aku mau bilang kalau Bu Linda orang jahat. Dia bilang kamu nggak lagi mau menerimaku, dia bohong! Tapi sebelum aku sempat mengatakannya, ekspresi Faris sudah berubah serius. Dia langsung mencengkeram lenganku. "Luna! Kenapa kamu bisa keluar? Siapa yang bawa kamu ke sini?" Suaranya terdengar panik sekaligus marah. "Luna, kurasa kamu sama sekali nggak bodoh." "Kamu sengaja, ya? Kamu datang mau mengacaukan semuanya, 'kan?" Aku terdiam memandang Faris. "Nggak ... " Aku membela diri dengan suara pelan. Air mataku akhirnya terjatuh. "Pergi sana!" Faris menunjuk ke luar, wajahnya memucat. "Cepat sana! Cepat! Jangan sampai aku melihatmu lagi!" Dia bahkan mendorongku. Aku terhuyung mundur beberapa langkah, bahkan nyaris saja terjatuh. Daffin berlari mendekat. Dia menatapku dengan tatapan jijik. "Ayah, kenapa dia begini ... bikin malu saja ... " Aku menatap wajah Faris yang marah, lalu melihat Daffin yang menatapku jijik. Orang-orang di sekitar juga mulai menunjuk-nunjuk sambil berbisik ... Rasanya begitu menyedihkan, amat menyedihkan. Aku berbalik dan berlari pergi. Ternyata benar apa kata Bu Linda. Faris sudah nggak menginginkanku lagi. Entah sudah berapa lama berlalu, langit sudah berubah jadi gelap. Aku berhenti dan baru sadar kalau rumah-rumah di sekitarku tampak asing. Aku tersesat. Saat itu, aku mendengar suara yang seperti suara Niken. "Kak Luna! Kak Luna!" Dia datang mencariku! Aku membuka mulut karena mau menjawab. Tiba-tiba, ada tangan besar yang menutup mulut dan hidungku dengan keras dari belakang.

© NovelRead, All rights reserved

Booksource Technology Limited.