NovelRead
Open the NovelRead App to read more wonderful content

Bab 2

Diam-diam aku menghubungi beberapa SMA swasta yang mau menerima murid mengulang. Namun, jawaban yang kuterima semuanya sama. "Lavina, maaf, kuota penerimaan murid mengulang sudah penuh." Kabar tentang tidak ada satu sekolah pun yang berani menerimaku menjadi pembicaraan umum di kota ini. Akhirnya Harris yang membawaku pergi. Kereta api melaju menuju kota kecil di selatan yang asing. Riwayat hidup Harris sebenarnya sangat bagus, lulusan jurusan hukum dari universitas terkemuka. Namun, itu sama sekali tidak berguna di Kota Seruni. Setelah lulus dia tidak pernah bekerja, hanya hidup dari dividen perusahaan. Begitu kartu hitam Keluarga Asera dicabut, dia yang sombong berkali-kali mengalami kegagalan. Melihatnya terpuruk, hatiku cemas. Diam-diam aku keluar mencari kerja. Akhirnya aku dapat pekerjaan di sebuah pusat bimbingan belajar. Gaji pertama, aku membeli seekor ikan, sedikit sayur, dan sepotong kecil daging. Ikan yang digoreng kulitnya sobek, sayur yang ditumis agak tua. Meskipun demikian, Harris menghabiskannya dengan bersih. Dia menatapku, tatapan yang rumit. "Vina, seharusnya aku yang ... " Aku segera menyela, berkata dengan nada santai. "Siapa yang menghasilkan lebih banyak atau lebih sedikit, nggak penting. Yang penting adalah, kita terus berjalan ke depan, 'kan?" Dia menatap lama diriku, lalu hanya mengeluarkan suara "Hm" yang lembut. Kemudian, Harris mengikuti ujian hukum. Cara belajarnya hampir menyiksa diri, tidur hanya empat atau lima jam sehari. Kasus pertama, bayarannya hanya beberapa ratus ribu. Kemudian, kasus yang bisa dia tangani semakin banyak, dan aku pun bertanya padanya. "Kamu nggak menyesal hidup begini denganku?" Dia tersenyum, dalam senyum itu tidak banyak kegembiraan, tetapi ada kehangatan nyata yang telah mengendap. "Bertemu kamu, mungkin hal paling beruntung dalam hidupku. Mana mungkin aku menyesal, 'kan?" Dia berbohong. Sulit beralih dari kemewahan kepada kesederhanaan, tidak ada yang ingin terus hidup susah. Meski bagiku, tahun-tahun itu adalah masa paling manis dalam hidupku. Musim hujan pertama di Kota Seruni, dia sibuk menghafal pasal-pasal hukum, tetapi satu-satunya botol penghangat dia selipkan ke selimutku. Honor pertamanya sebagai seorang pengacara jumlahnya tidak besar. Dia menggunakan uang itu membuat sepasang cincin perak tipis. Tangannya agak gemetar, tetapi suaranya sungguh-sungguh saat berkata. "Maaf, untuk sementara kamu cuma bisa pakai ini. Nanti pasti aku ganti dengan yang terbaik." Cincin itu melingkari jari manisku, juga melingkari masa depan kami saat itu. Ulang tahunku yang ke-20, dia dapat kasus di Kota Akasa, jadi harus pergi ke sana selama dua hari. Aku kira dia lupa, sedikit kecewa, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Malam ulang tahun itu, dia berdiri di depan pintu, tampak lelah, memegang erat kue krim kecil sebesar telapak tangan. Kemudian aku baru tahu, setelah menyelesaikan urusannya, dia naik bus terakhir. Masa-masa paling sulit itu, siang dia ke firma hukum, malam terima kerja terjemahan dokumen. Pernah aku tidak tahan, masuk ke ruang kerjanya dan memeluknya dari belakang. Dia menutupi tanganku yang melingkari pinggangnya, tidak mengatakan apa-apa, hanya menggenggam dengan sangat lembut dan sangat erat. Hal-hal kecil itu, seperti pecahan berlian di hari-hari kelabu, merangkai bukti cintanya padaku. Semua orang yang kenal Harris tahu bahwa dia memiliki istri yang sangat dia cintai. Namun, begitu tahu aku hanya lulusan SMA, mereka selalu merasa sayang sekali untuk Harris. Harris selalu tersenyum tenang sambil berkata, "Aku mau ambil air untuk cuci kaki istriku." Tahun-tahun itu, Harris dengan segala cara, meski canggung, menopang langit kecil yang hangat untukku. Hanya saja, kemudian langit berubah warna, gula pun berubah rasa. Dia membeli cincin baru, dan memakaikannya di tangan orang lain.

© NovelRead, All rights reserved

Booksource Technology Limited.