NovelRead
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa
Suamiku Hidup KembaliSuamiku Hidup Kembali
Oleh: NovelRead

Bab 1 Menikah dengan Orang yang Telah Meninggal

Tania Yovent menikah, dengan orang yang telah meninggal. Pernikahan diadakan di Hotel Sandem bintang lima. Tania mengenakan gaun pengantin beserta kerudung, menyelesaikan upacara pernikahan simbolik yang megah sambil menggenggam foto almarhum Javier Budiman. Javier Budiman, sang penguasa Keluarga Budiman, serta CEO Grup ZHT. Kabarnya berwatak keras dan kejam, orang yang sangat berpengaruh dan berkuasa di Kota Morin. Pria yang angkuh dan dingin ini dilaporkan meninggal sebulan lalu. Nenek Silvia ingin memilihkan istri untuknya dan mengadakan upacara pernikahan simbolik. Akan tetapi, tak satu pun orang di Kota Morin yang bersedia menikah dengan orang yang telah meninggal. Ayah Tania adalah pengecualian! Demi keuntungan, dia mengancam Tania dengan nyawa kakak laki-lakinya dan memaksanya menikahi Javier. Petang hari, resepsi pernikahan usai. Tania naik ke mobil yang menuju kediaman Keluarga Budiman. Tania duduk tenang di dalam mobil, menundukkan pandangan ke foto almarhum yang dia genggam. Pria dalam foto itu memiliki fitur wajah yang sempurna, dengan bibir tipis yang sensual. Kedua matanya kelam, serta tajam dan dingin. Bahkan sebagai foto kenangan, aura bawaan yang mulia dan kuat itu tetap terasa. Saat Tania menunduk melihat foto, sepasang mata elang itu seolah-olah juga menatapnya. Jantung Tania berdebar-debar. Tania tak berani terus melihat, lalu memalingkan kepala ke luar jendela. Belakangan ini, Tania mudah mengantuk. Pemandangan yang terus bergerak mundur membuatnya pusing. Tania bersandar pada jendela, menutup mata untuk beristirahat. Dia pun tertidur dan kembali mengalami mimpi buruk itu .... Di dalam hutan yang gelap gulita, Tania tergelincir hingga tubuhnya berguling menuruni lereng. Senter entah terlempar ke mana. Sekelilingnya gelap seperti mulut raksasa yang menganga. Tania panik ingin mengeluarkan ponsel, tetapi sebelum sempat, sepasang lengan kuat sudah mengurungnya. Sosok tinggi besar mendekat dan menindihnya. Tania tidak bisa melihat wajah pria itu, hanya merasakan napas pria itu yang panas, seperti api membakarnya. Pria itu mencium Tania. Dengan perasaan takut dan putus asa, Tania melawan. Pria itu menimang wajah Tania. Suaranya serak dan rendah, "Jangan menangis, aku akan bertanggung jawab." Tania terbangun. Tubuhnya gemetar hebat. Tania langsung duduk tegak sambil terengah-engah, memandang sekeliling kabin mobil dengan takut dan bingung. Menyadari dirinya tidak berada di hutan itu, Tania diam-diam merasa lega. "Nyonya, apa kamu baik-baik saja?" Melihat Tania ketakutan, sopir meliriknya dengan cemas melalui kaca spion. "Ya." Tania menhapus keringat halus di keningnya. Sekitar sepuluh menit kemudian, mobil berhenti di kediaman Keluarga Budiman. Kediaman Keluarga Budiman bergaya arsitektur istana klasik, megah dan penuh aura misteri yang mendalam. Nenek Silvia keluar menyambut. Tebersit kekaguman di matanya ketika melihat Tania. Dia makin puas dengan gadis ini. Anaknya dengan Javier pasti pintar dan cantik. Sebelum upacara pernikahan simbolik, Tania dibawa ke rumah sakit untuk menjalani inseminasi buatan dengan sperma beku. Sudah berhasil. Nenek Silvia sangat gembira atas hal itu. Dia meraih tangan Tania dan berkata dengan penuh kasih, "Kamu sudah nikah dengan Keluarga Budiman, aku nggak akan perlakukan kamu sembarangan." Tania tahu bahwa "perlakuan tak sembarangan" dari Nenek Silvia adalah karena janin dalam kandungannya. Jantung Tania berdegap gelisah. Karena waktu kehilangan keperawanan dan inseminasi buatan terlalu berdekatan, Tania sama sekali tidak tahu apakah anak dalam kandungannya adalah milik pria itu atau hasil inseminasi buatan .... Tania menundukkan pandangan karena tidak berani menatap langsung mata Nenek Silvia. Bulu matanya bergetar halus. "Terima kasih, Nenek." Malam hari tiba. Seluruh kediaman hening hingga membuat orang gelisah. Tania berbaring di tempat tidur besar yang pernah digunakan Javier semasa hidup sambil meringkukkan badan. Memikirkan tunangannya, Martin Gunawan, hati Tania terasa sakit dan sesak. Dalam hidup ini, dia tidak mungkin lagi menjadi pengantinnya. Larut malam, dada Tania terasa berat dan sesak. Perutnya juga mual. Kemudian, Tania bangun dan mengambil ponsel, ingin keluar mencari udara segar. Keluar dari vila, Tania berjalan menuju koridor yang mengarah ke taman belakang. Samar-samar tercium aroma harum melati dari arah taman belakang. Aroma yang menyegarkan itu membawa kesejukan bagi pikiran Tania. Tiba-tiba, terdengar suara familier dari balik hamparan bunga di sisi koridor. Tania seakan-akan tersambar petir. "Martin, sekarang Tania sudah nikah dengan Si Umur Pendek itu. Kakekmu nggak akan marah juga kalau kamu ke rumah Keluarga Yovent untuk batalkan pertunangan. Setelah sudah batal, kita nikah. Dengan begitu, kamu bisa dapat harta warisan Javier si orang mati itu. Aku akan bantu mintakan mobil mewah edisi terbatasnya untukmu. Lalu, vila di Kompleks Samudra Raya, kita ambil untuk dijadikan rumah pernikahan kita." "Selena, menurutmu, siapa yang kelola perusahaan setelah Javier mati?" "Kamu tertarik dengan Grup ZHT?" "Dasar bodoh, Grup ZHT itu grup besar. Siapa yang nggak mau?" "Tapi kamu nggak bermarga Budiman. Kalau nggak, kamu bisa seperti paman keduaku, rebut perusahaannya saat nenek tua itu umumkan wasiat. Nenekku bilang, di hari itu, paman keduaku akan ...." Darah Tania seakan-akan membeku. Hatinya sakit dan kacau. Tunangannya, Martin Gunawan? Sejak kapan Martin berselingkuh dengan Selena Budiman? Mereka bahkan merencanakan cara merebut harta Javier di sini? Rasa dikhianati sangat menyakitkan. Dada Tania sesak, dan merasa sekelilingnya berputar. Tania mengepalkan tangan erat-erat. Dia harus memberi tahu Nenek Silvia tentang rencana mereka! Begitu berbalik, Tania melihat seorang pria berbaju hitam berdiri di belakangnya. Wajah pria itu yang sangar membuat Tania berteriak ketakutan. Tania ingin lari, tetapi saat berbalik, pria berbaju hitam itu menebaskan tangannya yang kekar. Rasa sakit yang hebat tiba-tiba muncul di belakang leher Tania, seperti dipukul benda berat. Matanya berkunang-kunang, lalu dia pingsan. Ketika Tania sadar kembali, seorang pria botak, gemuk, dan jelek sedang menungganginya, hendak membuka kancing bajunya. Mata Tania membelalak karena takut. Dia langsung mendorong pria itu. Alhasil, tangannya yang mendorong pria itu lemas seperti tak bertulang, sama sekali tidak punya tenaga. Melihat Tania sadar, pria itu tersenyum jahat. "Cantik, sudah bangun?" "Siapa kamu?" tanya Tania dengan panik. "Setelah malam ini, kamu akan tahu siapa aku. Selena memberimu padaku. Malam ini, aku akan membuatmu lupa segalanya, hahaha. Cantik, mukamu mulai merah, pasti efek obatnya sudah bekerja." Hati Tania putus asa. Rasa takut dan gusar menyebar dari dadanya. Tania ingat pria ini, Ferdi Roldan. Terkenal akan kegilaannya. Tak sedikit orang yang mati karena dipermainkannya. Selena justru memberikan dirinya yang hamil ke ranjang pria ini, apa berniat membunuhnya? Selena tidak hanya berselingkuh dengan Martin, tetapi juga mencelakakannya. Bahkan memberinya obat. Dia tidak akan membiarkan mereka berhasil! Tania melawan mati-matian. Dia harus pergi dari sini. Jika tidak, dia akan mati di sini. Dalam kepanikannya, Tania melihat lampu meja di samping tempat tidur. Tania mengerahkan semua tenaga yang tersisa di tubuhnya ke lengan kiri. Sambil bergulat, Tania meraih lampu meja dan menghantamkannya sekuat tenaga ke kepala pria itu. Pria itu mendengus kesakitan, lalu terjatuh ke lantai. Darah yang mengalir dari bagian belakang kepalanya dengan cepat menodai lantai. Melihat genangan darah itu, wajah Tania pucat pasi dan seluruh tubuhnya gemetar. Apa dia membunuh orang? Tania turun dari tempat tidur dengan panik. Bahkan tak sempat memakai sepatu, dia terhuyung-huyung melarikan diri dari kamar. Keluar dari kamar, Tania berlari tanpa arah. Melihat pintu kamar sebelah terbuka, dia langsung masuk tanpa pikir panjang. Begitu masuk, Tania jatuh duduk di lantai karena tubuhnya lemas. Dia baru menyadari tubuhnya sangat panas, sangat tidak nyaman. Seluruhnya lemas tak bertenaga. Kepalanya juga pusing dan berat. Tania menggigit bibir bawahnya keras-keras agar tetap sadar. Dia membunuh orang. Dia menghantam kepala pria jelek itu hingga pecah .... Rasa takut yang belum pernah dialami sebelumnya menyelimuti Tania. Tap ... tap ... tap .... Tepat saat ini, suara sepatu menginjak lantai berbunyi di kamar yang hening. Tekanan yang kuat menyebar dari seluruh penjuru kamar. Tak lama kemudian, sepasang sepatu mengkilap muncul di hadapan Tania. Tania mendongak dan melihat wajah pria itu samar-samar. Pria itu memancarkan aura yang sangat kuat dan berbahaya. Pandangan dingin dan tajam pria itu melekat pada wajah Tania selama beberapa detik. Lalu, pria itu berjongkok dan memegang dagu Tania. Niat membunuh yang pekat bergolak di dasar mata pria itu. Suaranya tajam dan dingin. "Katakan, siapa yang mengirimmu?" Tania memandangi pria di hadapannya. Fitur wajah yang tegas dan sempurna itu sungguh memesona. Mata tajam bak elang pria itu memancarkan keperkasaan yang meremehkan segalanya. Di benak Tania yang kacau karena kobaran nafsu tiba-tiba muncul foto almarhum yang dia genggam sepanjang hari siang tadi. Wajah di depan ini tumpang tindih dengan wajah di foto almarhum itu .... Tubuh Tania gemetar tak terkendali. Matanya yang berkabut dipenuhi kekagetan dahsyat. Javier Budiman? Bukankah pria ini sudah mati? Mengapa bisa ada di sini?
Bab Sebelumnya
1/21Bab selanjutnya

© NovelRead, hak cipta dilindungi Undang-undang

Booksource Technology Limited.