Bab 472
Merry terlihat sangat menyedihkan.
Bahkan Shayne yang biasanya kejam pun merasa agak kasihan.
Merry masih sakit dan mungkin agak keterlaluan kalau terus memaksanya.
Akan tetapi, ekspresi Merry yang jelas-jelas penuh tekad terus terbayang di benak Shayne dan dia merasa sudah saatnya membiarkan wanita itu menyerah secepat mungkin.
Sudah wajar baginya untuk melakukan segala cara demi mencapai tujuannya.
"Sudahlah, jangan menangis." Suara pria itu melembut dan dia mencium air mata di sudut mata Merry.
Merry mengepalkan tangan erat-erat dan memejamkan mata dalam diam.
Air mata membasahi bulu mata dan hati Merry penuh kekecewaan.
Gelombang kebencian mulai membuncah di dalam hatinya.
Mengapa Shayne melakukan ini padanya?
Atas dasar apa dia memperlakukannya seperti ini?
...
Hari ini Merry benar-benar lelah.
Entah kapan dia tertidur.
Saat bangun, dia melihat langit sudah gelap di luar. Shayne sedang tertidur pulas di sofa bangsal.
Ada satu ranjang lagi di ruang luar bangsal, tempat biasanya Sha

Klik untuk menyalin tautan
Unduh aplikasi NovelRead untuk membuka konten yang lebih menarik
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda