Bab5
Suasana tegang di kamar membuat semua orang menahan napas.
Aku menjerit tanpa kendali. Amarah hampir meruntuhkan kewarasanku.
Aku berjuang mati-matian, mencoba melepaskan diri darinya.
"Keenan, apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku!"
Aku menjerit, suaraku dipenuhi rasa kesal dan marah.
Namun Keenan seolah tidak mendengar. Dia tetap menindihku dengan kuat. Napasnya berat, berbaur antara gairah yang memuncak dan antusiasme yang membara.
"Kamu selalu memandang rendahku bukan? Di matamu, aku bukan siapa-siapa!"
Dia menggeram rendah, memuat rasa tersinggung dan amarah.
Mendengar tuduhannya, aku terkejut. Aku tidak menyangka dia menyimpan begitu banyak rasa tidak puas terhadapku.
Awalnya aku mengira dia hanya sementara tidak dapat menemukan pekerjaan, jadi aku sangat toleran terhadapnya dan bahkan membayarkan sewa rumahnya selama dua bulan.
Tak disangka dalam benak Keenan, aku orang yang merasa lebih tinggi dan meremehkannya.
Aku mencoba menenangkan diri dan menjelaskan, tapi Keenan tidak memb

Klik untuk menyalin tautan
Unduh aplikasi NovelRead untuk membuka konten yang lebih menarik
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda