Bab 8
Pada akhirnya Elisa menandatangani kontrak.
Sebagai imbalan atas sikap patuh Elisa, Kevin mengantarnya ke rumah sakit dan mengatur tim medis terbaik untuk merawatnya.
Selama dua hari ini, Elisa seperti boneka yang disuntik dan diberi obat .... Kondisi tubuhnya perlahan-lahan membaik, tapi luka psikologisnya semakin memburuk.
Pada hari keenam, rasa semangat Elisa perlahan-lahan kembali.
Sekretaris Kevin datang pagi-pagi sekali, lalu mengatakan bahwa dia akan membawa Elisa untuk mengemas barang-barang milik Alysa.
Elisa menyetujui hal ini.
Rumah itu tidak bisa dipertahankan, tapi dia harus mengambil benda-benda milik ibunya.
Saat membuka gerbang halaman, Elisa melihat Nita memerintah para pelayan untuk merendam barang-barang milik Alysa dalam bak besar berisi darah, bahkan terdapat beberapa ekor ayam yang mati tergeletak di samping.
"Apa yang kalian lakukan?!"
Mata Elisa membelalak marah, dia ingin menerjang ke depan, tapi dihentikan oleh pengawal.
"Tenangkan dirimu!"
Nita bersembunyi di belakang Kevin dengan takut-takut.
"Maafkan aku, Elisa. Aku terus mimpi buruk selama dua hari ini. Orang pintar bilang ini karena roh ibumu sedang menakutiku. Dia suruh aku untuk rendam barang-barang ibumu dalam darah ayam agar bisa usir kejahatannya."
"Tutup mulutmu!"
Tubuh Elisa bergetar dengan marah.
"Dasar binatang buas! Kalian kirim aku ke tempat rehabilitasi, rebut rumah ibuku, bahkan hancurkan barang peninggalannya agar dia nggak bisa istirahat dengan tenang!"
"Pria bajingan! Wanita jalang! Cepat keluar dari rumahku!"
Teriakan Elisa memenuhi rumah ini.
Wajah Nita memucat, dia menarik ujung baju Kevin dengan hati-hati. "Lupakan saja, aku akan ambil semua barang itu dan mencucinya sampai bersih. Aku cuma ketakutan sampai nggak bisa tidur dan jantungku berhenti berdetak."
"Nggak perlu."
Kevin menepuk tangannya, lalu berkata dengan lembut.
Dia menoleh ke arah Elisa dan menatapnya dengan dingin. "Rumah ini sudah jadi rumahku sekarang, aku berhak atur semua benda yang ada di dalam. Ibumu nggak bisa tenang setelah kematiannya dan menginginkan nyawa Bibi Nita. Aku harus menyingkirkannya."
Menyingkirkannya ....
Tidak disangka Kevin berkata seperti ini pada orang yang hampir menjadi ibu mertuanya.
Air mata Elisa mengalir dengan deras.
Elisa tiba-tiba teringat dengan masa pertunangan mereka. Sebelum pergi ke rumah Keluarga Muran, Kevin sengaja mendatangi makan Alysa.
Tidak disangka pria angkuh sepertinya akan berlutut di depan makam.
Itu adalah pertama kalinya Kevin menggenggam tangannya.
Pria itu berjanji di depan kuburan. "Bibi, aku adalah menantumu, Kevin Muran. Aku janji akan jaga Elisa dengan baik dan nggak akan membiarkannya menderita. Aku akan anggap Anda sebagai ibuku sendiri dan sering datang ke sini."
Beberapa hari baru berlalu ....
Janji itu masih ada.
Hanya saja, orang yang membuat janji sudah tidak lagi sama.
Hari ini adalah hari tergelap Elisa setelah kematian ibunya.
Dia seperti orang gila yang tulangnya dihancurkan. Elisa berusaha melindungi satu-satunya kenangan yang tersisa, tapi hanya bisa melihat barang peninggalan ibunya berlumuran darah ayam ....
Saat Nita hendak mengeringkan barang-barang itu dan membakarnya, darah langsung menggenang di mata Elisa.
"Aku mau bunuh kalian! Aku pasti akan bunuh kalian!"
Dia meraung dengan keras, suaranya serak karena berteriak.
Hanya saja ini semua masih belum berakhir.
Saat barang terakhir dibakar, Elisa berlutut di tanah dan memeluk abu sambil menangis tersedu-sedu. Tiba-tiba Nita yang sedang istirahat mual karena bau darah dan menjerit dengan keras.
"Apa yang terjadi, Nita?"
"Ah! Jantungku sakit sekali! Rasanya seperti ditusuk sesuatu! Kepalaku ... juga sangat sakit, seperti mau pecah!"
"Aku akan bawa kamu ke rumah sakit!"
"Nggak perlu, panggil orang pintar itu ke sini. Sepertinya aku dirasuki oleh roh jahat lagi, gejalanya sama persis seperti sebelumnya ...."
Terjadi kekacauan di dalam ruangan.
Nita dikelilingi oleh Kevin, puluhan pengawal yang tinggi dan sekelompok pelayan yang sedang sibuk. Elisa merasa tidak berdaya meski hatinya dipenuhi dengan kebencian.
Awalnya Elisa ingin pergi dengan barang yang belum terbakar, tapi sebuah mobil sedan hitam tiba-tiba melaju ke arah pintu.
Setelah itu, sekretaris turun dari mobil.
Saat melihat guci porselen putih yang dia bawa, Elisa merasa tubuhnya seperti disambar petir.
Itu ... adalah abu ibunya!