NovelRead
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 5

Dia segera menarik kembali pandangannya dan menatap Alice. Nadanya kembali tenang. "Soal yang tadi, jangan dipikirkan. Aku suka kamu, itu sudah cukup. Aku keluar sebentar, mau telepon." Dia bergegas mengejar ke luar. Alice berdiri di tempat, menatap pintu yang kini kosong. Bibirnya bergerak sedikit, tapi pada akhirnya dia bahkan tidak sanggup memunculkan senyum mengejek diri sendiri. Pesta ulang tahun ini, sedetik pun dia tidak sanggup bertahan lebih lama. Dia berbalik pergi. Baru saja sampai di jalur kendaraan di depan hotel, sebuah sosok mengadangnya. Itu Kathy. Matanya masih sedikit merah, tapi ekspresi di wajahnya sudah kembali terkontrol, membawa tatapan menilai dari atas. "Nyonya Alice, sudah mau pergi?" Kathy menatapnya, suaranya lembut, tapi tiap kata menusuk. "Tokoh utama pesta ulang tahun pergi lebih dulu, kurang pantas, 'kan? Atau kamu melihat Dicky mengejarku, suasana hatimu jadi nggak enak?" Alice tidak ingin meladeni. Dia memutar badan, berniat melewatinya. "Jangan pergi dulu." Kathy mengulurkan tangan menghalangi. "Kita bicara sebentar. Tentang Dicky, tentang pernikahan kalian yang konyol itu. Aku rasa kamu perlu tahu beberapa hal ...." "Minggir." Suara Alice dingin. "Kenapa, merasa bersalah? Tahu kalau kamu menduduki posisi yang bukan hakmu?" Kathy tidak mau mengalah, bahkan melangkah maju dan mencengkeram pergelangan tangan Alice. "Aku kasih tahu ya, Dicky sama sekali ...." "Lepaskan!" Alice berusaha keras melepaskan diri. Keduanya saling tarik-menarik di pinggir jalur kendaraan. Kathy mengenakan sepatu hak tinggi. Kakinya tampak terpeleset, dia berteriak kaget dan tubuhnya terhuyung ke belakang. Dia refleks mencengkeram lengan Alice dengan kuat. Alice ikut kehilangan keseimbangan. "Aaah!" Suara rem yang melengking dan benturan keras hampir terdengar bersamaan! Dalam kekacauan itu, Alice hanya merasakan hantaman kekuatan besar. Dunia berputar. Dahi dan pipinya terasa perih menyengat, cairan hangat langsung memburamkan pandangannya. Teriakan Kathy terdengar di dekat telinganya. Rasa sakit dan pusing menelannya. Dalam kesadarannya yang kabur, dia merasakan orang-orang mengerumuninya, suara riuh, sirene ambulans .... Dalam keadaan setengah sadar, dia seolah melihat sosok Dicky bergegas datang. Di wajah yang biasanya tenang dan dingin itu, untuk pertama kalinya muncul kepanikan yang jelas. Lalu dia mendengar percakapan terputus-putus, seakan datang dari tempat yang sangat jauh. "Pak Dicky, kedua korban sama-sama mengalami luka berat dan perlu segera dioperasi, tapi ruang operasi tinggal satu. Nyonya Alice terluka di bagian wajah, lukanya cukup dalam. Kalau nggak segera ditangani, bisa meninggalkan cacat permanen. Nona Kathy terluka di tangan. Kalau nggak segera ditangani, bisa memengaruhi kemampuannya bermain piano." Lalu, dia mendengar suara Dicky. "Selamatkan Kathy dulu. Tangannya masih harus main piano." "Kalau begitu Nyonya Alice ...." "Nggak perlu dipedulikan. Bagi dia, penampilan memang nggak penting!" Tidak penting. Kata itu seperti pisau yang menusuk jantung Alice. Ya. Karena jelek, jadi tidak penting .... Pandangan matanya menghitam dan dia benar-benar pingsan. Saat sadar kembali, dia sudah berada di ruang rawat inap. Di sisinya tidak ada seorang pun. Alice menyentuh wajahnya, terasa perban tebal membalutnya. Pintu didorong terbuka. Kathy masuk bersama sekelompok teman. Tangannya juga diperban, tapi wajahnya penuh senyum. "Alice." Dia berjalan ke sisi ranjang, menatapnya dari atas ke bawah. "Katanya lukamu parah, wajahmu sampai tersayat. Aku kira kali ini pasti akan cacat. Nggak disangka, dokter yang dicarikan Keluarga Tandayu cukup hebat, ternyata bisa menyembuhkanmu." "Hanya ya, meskipun sudah sembuh, tetap nggak bisa menutupi wajah jelekmu. Perban setebal itu cocok sekali dengan poni dan kacamatamu, sama-sama mengganggu." Pria dan wanita di belakangnya tertawa. Alice memejamkan mata, dia bahkan malas untuk melihat mereka. "Pergi." Kathy belum sempat bicara, gadis di sampingnya yang mengenakan setelan merah muda dan rambut keriting sudah lebih dulu meledak emosinya. "Sikap apa itu? Kathy berbaik hati menjengukmu, kamu malah berani menyuruhnya pergi? Kamu bukan hanya jelek, kelakuanmu juga seburuk ini! Benar-benar memalukan!" Alice membuka mata, menatap dingin gadis itu, lalu mengalihkan pandangannya ke Kathy. "Bawa anjing-anjingmu pergi. Tempat ini nggak menyambut kalian." "Kamu bilang siapa anjing?" Wajah gadis berbaju merah muda itu merah padam karena marah. Dia menerjang ke depan dan mengangkat tangan, hendak menampar wajah Alice! Wajah Alice sedang terluka, gerakannya tidak leluasa. Tepat saat tamparan itu hampir mendarat .... "Ah, Yenny, nggak baik memukul seorang pasien." Seorang pria yang mengenakan kemeja bunga menahan gadis berbaju merah tua itu. Usianya sekitar dua puluh tujuh atau dua puluh delapan tahun, sorot matanya genit. Pandangannya menyapu tubuh Alice di ranjang rumah sakit dari atas ke bawah, sudut bibirnya terangkat dengan senyum penuh niat buruk. "Ini Nyonya Alice, ya? Wataknya lumayan keras juga. Tapi aku punya cara ampuh untuk menghadapi orang yang keras kepala." Dia melangkah maju mendekati ranjang. Tatapannya lancang. "Aku sudah sering melihat wajah jelek yang temperamental sepertimu. Kamu hanya perlu dibereskan pria. Sekeras apa pun, kalau sudah ditiduri pasti jadi patuh." Sambil berkata begitu, dia pun langsung mengulurkan tangan untuk membuka selimut Alice!

© NovelRead, hak cipta dilindungi Undang-undang

Booksource Technology Limited.