NovelRead
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 2

Kathy Larenzi, putri sulung Keluarga Larenzi, cinta pertama Dicky. Keduanya sepadan, tampan dan cantik, pasangan emas yang diakui di kalangan mereka. Tiga tahun lalu, mereka bersiap menikah, tapi saat pemeriksaan pranikah diketahui kalau Kathy tidak bisa punya anak. Bagi keluarga konglomerat papan atas seperti Keluarga Tandayu, keturunan adalah hal terpenting. Oleh karena itu, Keluarga Tandayu menentang dengan keras. Namun Dicky sangat mencintai Kathy dan bersikeras ingin menikahinya. Keluarga Tandayu pun mulai menekan bisnis Keluarga Larenzi secara brutal. Pada akhirnya, Keluarga Larenzi tidak sanggup menahan tekanan. Kathy menangis dan memutuskan hubungan dengan Dicky. Setelah putus, Dicky mulai sering dijodohkan, tapi tidak satu pun wanita yang dia sukai. Sampai dia bertemu Alice, wanita jelek yang terkenal di kalangan mereka. Dengan begitu semuanya jadi masuk akal. Dicky menikahinya sama sekali bukan karena dirinya istimewa, apalagi karena dia melihat sisi batinnya. Melainkan karena dari semua calon hasil perjodohan, Alice adalah yang paling tidak pantas, paling memalukan untuk dibawa keluar, paling bisa membuat Keluarga Tandayu kehilangan muka, serta paling mampu memancing kemarahan dan memaksa orang tuanya berkompromi! Dia sengaja menikahi wanita jelek untuk menantang keluarganya, demi memaksa mereka mengalah dan menyetujui Kathy masuk ke Keluarga Tandayu! Alice menatap tulisan di layar ponselnya, lalu tiba-tiba tertawa. Tertawa sampai air matanya mengalir. Rasa sakit seperti jaring raksasa yang melilitnya erat-erat, semakin lama semakin kencang, nyaris mencekiknya sampai mati. Ibunya pernah berkata, terlalu cantik mudah ditipu. Tapi ternyata, berpura-pura jelek pun tetap bisa ditipu, bahkan dengan cara yang lebih menyeluruh, lebih konyol, dan lebih menyedihkan. Selama tiga tahun ini, kebahagiaan yang dia yakini ternyata hanyalah sandiwara yang dirancang dengan matang. Dia hanya alat yang digunakan Dicky untuk menantang keluarganya. Hanya bidak catur untuk mengekspresikan cintanya pada Kathy. Dia mengira telah bertemu cahaya, padahal cahaya itu hanyalah pantulan cermin yang digunakan untuk menerangi orang lain! Dia duduk di kamar, menangis untuk waktu yang sangat lama. Lalu dia mengusap air matanya, mengambil ponsel, dan menelepon Annisa. Suaranya tenang. "Aku mau bercerai dengan Dicky." Di seberang sana terdiam beberapa detik. "Kamu bilang apa?" Suara Annisa meninggi dengan tidak percaya, seolah tidak yakin dengan apa yang dia dengar. "Alice, dengan wajah seperti itu kamu masih berani minta cerai? Kamu tahu berapa banyak wanita di lingkaran ini yang ingin menikah dengan Dicky?" "Penampilanku seperti apa nggak ada hubungannya dengan Anda," kata Alice. "Pernikahan ini pasti akan aku akhiri. Kalau Keluarga Tandayu nggak setuju, aku akan cari pengacara dan tempuh jalur hukum. Kalau sampai ribut, nggak ada yang diuntungkan." Annisa di seberang sana terdengar murka, tapi Alice bisa menangkap sedikit kelonggaran dan rasa tidak sabar yang tersembunyi dalam nadanya. Memang, Annisa sejak lama tidak menyukai menantu jelek sepertinya. Dia justru ingin Alice cepat-cepat pergi, memberi tempat bagi nona bangsawan yang cantik dan pantas. Di matanya, Kathy tidak pantas untuk Dicky, sedangkan Alice lebih tidak pantas lagi! "Baik!" Annisa akhirnya memutuskan. "Aku akan bantu mengurus perceraiannya. Tunggu beberapa hari." Setelah menutup telepon, Alice menarik napas dalam-dalam, langsung mengurus kepulangan dari rumah sakit, lalu pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, hal pertama yang dia lakukan adalah membuang barang-barang. Dia mengeluarkan semua hadiah dari Dicky selama bertahun-tahun ini, kalung, gelang, cincin, tas. Lalu melemparkannya ke tempat sampah. Seolah membuang kebodohannya selama tiga tahun ini. Beberapa hari kemudian, Dicky pulang. Luka bakar di punggungnya belum sepenuhnya sembuh, gerakannya agak lambat, tapi dia tetap mengenakan setelan rapi, tubuhnya tegap, wajahnya tampan dan bersih. "Kenapa duduk di sini?" tanyanya dengan nada lembut seperti biasa. "Pelayan bilang kamu beberapa hari ini hampir nggak makan." Alice mengangkat kepala dan menatapnya. Dulu, setiap kali melihat wajah ini, jantungnya selalu berdebar, pipinya memanas. Namun kini, yang dia rasakan hanyalah asing dan dingin. Dicky seolah tidak menyadari perubahan di matanya atau mungkin memang tidak pernah benar-benar memperhatikan sorot matanya. Dia melirik kalender di dinding, lalu dengan alami menggenggam tangannya. "Apa karena aku nggak pulang menemanimu jadi suasana hatimu jelek? Hari ini ulang tahunmu. Aku sudah menyiapkan pesta di hotel paling mewah di pusat kota. Masih ada waktu, aku ajak kamu pilih gaun dulu, ya?" Kalau dulu, mendengar dia mengingat ulang tahunnya dan bahkan menyiapkan pesta, Alice mungkin akan senang sampai tidak tahu harus bagaimana. Tapi sekarang, di hatinya hanya ada senyum dingin yang hampa. Namun dia tidak membongkarnya. "Baik," katanya pelan. Dicky mengajaknya ke sebuah butik gaun kelas atas. Begitu masuk, ponsel Dicky berdering. "Kamu pilih dulu, aku angkat telepon sebentar," kata Dicky, lalu berjalan ke samping. Alice tidak terlalu memedulikannya dan naik ke lantai atas untuk memilih gaun. Dia menyukai sebuah gaun panjang warna krem keemasan, sederhana dan elegan. "Gaun ini, tolong dibungkus." Alice berkata pada pegawai toko. "Gaun itu aku ambil." Suara wanita yang lembut tiba-tiba terdengar dari belakang. Alice menoleh. Begitu melihat wanita itu, darahnya seakan langsung dingin setengahnya. Kathy Larenzi. Wajah cerah dan percaya diri sambil bersandar di sisi Dicky di foto, kini hadir di hadapannya. Dia mengenakan setelan krem, rambut panjang bergelombang, riasan sempurna, dengan aura superior yang alami. Dia menatap gaun krem keemasan di tangan Alice sambil tersenyum tipis.

© NovelRead, hak cipta dilindungi Undang-undang

Booksource Technology Limited.