NovelRead
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa
Aku Tak Lagi SendiriAku Tak Lagi Sendiri
Oleh: NovelRead

Bab 4

Hari-hari setelah menandatangani surat itu, seperti terendam dalam air hangat yang keruh, kesadaran timbul tenggelam. Efek samping dari pil-pil putih itu terus menyelimuti otakku sepanjang hari. Momen-momen kesadaran sangat singkat. Kartu yang ditinggalkan Harris, tidak pernah kusentuh. Waktu kehilangan makna bagiku. Hingga suatu hari, notifikasi ponsel membanjir. [Pengacara muda Harris dan putri perusahaan Keluarga Asera, Elina, akan mengadakan upacara pertunangan akhir pekan ini.] Pada sore hari upacara pertunangan itu, aku keluar rumah. Air sungai mengalir perlahan. Tanpa ada keraguan, aku memanjat pagar. Tiba-tiba, sebuah tangan menarik pergelangan tanganku dengan kuat. Seorang remaja berseragam sekolah, sekitar 17 atau 18 tahun, wajahnya masih terlihat kekanak-kanakan. "Kenapa harus diselesaikan dengan seperti ini? Hidup harus punya tujuan, punya harapan, bukan?" "Aku harus pulang, kamu jangan lakukan hal bodoh lagi!" "Pikirkan apa yang masih ingin kamu lakukan. Orang harus punya mimpi, siapa tahu terwujud, 'kan?" Aku duduk sendiri di tepi sungai, gemetar di tubuh tak kunjung berhenti. Namun, kata-kata polos itu terus bergema di kepalaku. Mimpi ... Bukan Harris, bukan Elina, bukan rumah mewah Keluarga Asera, bukan masa lalu di Kota Seruni. Melainkan gadis yang dalam banyak malam larut, mengerjakan soal, buku catatan penuh coretan. Surat penerimaan Universitas Mandala yang disembunyikan, dan akhirnya dirobek. Itulah keinginanku yang paling awal dan yang paling murni. Tidak terkait siapa pun, hanya milikku sendiri. Keesokan harinya, aku membakar gaun lama yang basah kuyup itu. Membeli satu set materi belajar paling dasar. Tanpa terasa, beberapa bulan telah berlalu. Berita tentang pernikahan megah Harris dan Elina memenuhi judul utama berbagai media lokal. Di hari yang sama, sebuah paket kilat dari Kota Bipura tiba di tanganku. Kubuka, di dalamnya ada surat penerimaan baru. Universitas Mandala. ... Teringat kejadian masa lalu, aku semakin meremehkan kata-kata Harris. Vivi tanpa belas kasihan berkata. "Kak Harris, hati-hati. Kamu anggap dia keponakan, tapi dia belum tentu." Terdengar suara tawa riuh di sekeliling. Jari-jariku mengetuk meja resepsionis di pintu keluar rumah hantu, tetapi hatiku gelisah sekali. Alvin sebenarnya keluar dari pintu mana? Padahal dia paling takut gelap, paling takut hantu, kenapa belum muncul? Saat aku hendak meminta staf memeriksa kamera CCTV, suara perempuan datang dari belakang. "Harris, kalian jalan terlalu cepat ... aku hampir mati ketakutan." Elina keluar sambil berpegangan dinding. Begitu melihatku, sikap lembutnya itu berubah menjadi benci yang terang-terangan. "Lavina? Kok kamu di sini?" "Kamu membuntuti kami?" Ekspresiku menjadi dingin. "Siapa yang membuntuti kalian? Minggir, aku mau minta tolong staf periksa CCTV untuk cari suamiku." Harris menghalangiku. "Vina, Kak Irwan terus memikirkanmu." Aku tersenyum sinis. "Terus kenapa, dia memikirkan aku, jadi aku harus pulang?" "Aku malah ingin dia mati, kenapa dia nggak mati saja?" Elina mengangkat tangan hendak menamparku. "Bahkan ayah kandungmu kamu kutuk!" "Pantas kamu nggak ada yang mau!" Tamparan itu tidak sempat jatuh. Adik iparku dan Alvin muncul. "Siapa bilang dia nggak ada yang mau? Kak Alvin dan Kak Vina itu pasangan serasi dan mereka akan bahagia selamanya." Yunita menahan tangan Elina, lalu mendorongnya hingga jatuh ke lantai. Alvin dengan sengaja merangkulku erat. Harris tidak peduli pada Elina yang di lantai, terpaku melihat cincin nikah kami yang serasi. "Kamu sudah menikah?" tanya Harris.

© NovelRead, hak cipta dilindungi Undang-undang

Booksource Technology Limited.