NovelRead
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 2

Meski sudah tahu bahwa aku telah menikah dengan Jason selama lima tahun, bagiku ini tetap pertama kalinya aku melihat wajahnya dari jarak sedekat ini. Harus diakui, ada alasan mengapa dia menjadi pujaan hatiku di masa remaja. Hanya dengan wajah itu terpampang di hadapanku, suasana hatiku sudah jauh membaik. Bahkan ketika dia memasang wajah dingin padaku, aku tidak terlalu membencinya. Mungkin karena melihatku diam saja, dia agak mengerutkan kening. "Yola, apa lagi yang kamu ributkan?" Sambil berbicara, pria itu melangkah santai menuju ruang ganti. Dia bahkan tidak berhenti sejenak saat melewatiku, lalu mengambil sebuah jubah tidur. Aku menoleh menatapnya. "Ribut?" Sejak dia tiba-tiba pulang tadi sampai sekarang, aku tidak mengucapkan sepatah kata pun, lalu dia bilang aku ribut? Sepasang mata hitam Jason melirikku. "Dulu kapan pun aku pulang, kamu selalu menerjang ke arahku. Sekarang ganti jurus lagi?" Aku agak terkejut. Setelah menikah dengan Jason, apa aku seberani itu? Namun, aku tidak menunjukkan ekspresi apa-apa, dan hanya berkata dengan datar, "Oh, ke depannya nggak akan lagi." Awalnya, aku mengira Jason akan menghela napas lega. Tidak disangka, kerut di antara alisnya justru makin dalam, dan dia menatapku dengan makin tidak sabar. "Akhir-akhir ini pekerjaanku sangat melelahkan, aku nggak punya waktu menemanimu bertingkah." Aku terdiam. Melihat aku tidak bersuara, tatapan Jason tiba-tiba menjadi dingin. "Yola, jangan lagi mencoba melakukan apa pun terhadap Ruth. Dia nggak melakukan kesalahan apa pun. Sekalipun kamu mengancam bunuh diri, itu nggak akan berguna." Aku tertegun sejenak, perasaanku bercampur aduk. Soal urusanku dengan Jason, Chandra sudah menceritakan hampir semuanya. Tidak lebih dari kisah aku mencintai Jason, Jason mencintai Ruth, dan aku, badut dalam cinta ini, hanya bisa terus mencari masalah dengan Ruth, hingga makin menimbulkan kejengkelan Jason. Kali ini, keributan bunuh diri juga karena aku cemburu pada segala perhatian Jason terhadap Ruth, sehingga diam-diam aku menyerang perusahaan Ruth dengan gila-gilaan dan mencemarkan nama artis mereka, sementara Jason tanpa ragu memilih berdiri di pihaknya. Itu sama saja dengan memberi tahu seluruh kalangan bahwa aku, Nyonya Lukito, hanya berstatus nama tanpa makna, bahkan di hati Jason aku tidak sebanding dengan seujung jari Ruth. Karena itu mentalku runtuh, dan aku mencoba menggunakan bunuh diri untuk merebut kembali hati Jason. Hasilnya sudah bisa ditebak. Seorang pria yang sejak awal sudah muak padaku tidak akan merasa iba karena aku bunuh diri, dan malah hanya menganggapnya merepotkan. Melihat aku tetap diam, Jason pun kehilangan kesabaran dan langsung masuk ke kamar mandi. Aku menghela napas lega, lalu menjatuhkan diri ke ranjang besar, pikiranku kacau balau. Bagaimanapun juga, aku kehilangan ingatan untuk beberapa tahun ini. Aku benar-benar tidak tahu mengapa aku bisa menjadi sekacau itu. Aku yang berusia 18 tahun dulu justru paling merendahkan orang yang kehilangan nalar demi cinta, tetapi sekarang aku malah ingin mati demi seorang pria. Aku sungguh tidak menyangka, suatu hari aku bisa menjadi seperti ini. Pikiranku bercabang ke mana-mana, dan sebelum sempat memikirkan apa yang seharusnya kulakukan sekarang, selimut di sampingku terangkat, lalu sesosok tubuh tinggi dan kekar berbaring di sisiku. Embusan panas yang menyapu membuat seluruh tubuhku menegang. Aku menoleh dan melihat Jason menatapku dengan sepasang mata hitamnya; dingin dan acuh seperti biasa, tetapi kini terselip tekanan yang tertahan. Aku tergagap. "Aku, kamu ... kamu mau apa?" Meski aku kehilangan ingatan, dari informasi yang kutahu, hubunganku dengan Jason seharusnya sangat buruk, 'kan? Mungkin kami bahkan tidur terpisah, lalu mengapa dia bisa begitu saja berbaring di sisiku? Jason seolah-olah tidak melihat kepanikan dan kebingunganku, satu ayunan tangannya langsung merengkuh pinggangku. Dia menarikku ke dalam pelukannya, tanpa sepatah kata pun menindihku di bawah tubuhnya, jari-jarinya yang berlapis kapalan bergerak dengan sangat terbiasa, menyentuh bagian yang membuatku tidak sanggup menahan sensasi itu, sebuah perasaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. "Jason!" Aku tidak tahan dan menjerit memanggil namanya. "Jangan sentuh aku!"

© NovelRead, hak cipta dilindungi Undang-undang

Booksource Technology Limited.