Bab1
Aku adalah wanita dengan dorongan hasrat yang sangat kuat. Begitu lulus dari universitas, aku dan pacarku langsung memulai kehidupan tinggal bersama.
Namun tak disangka, teman baiknya juga pindah ke tempat yang sama bersama pasangannya. Sejak saat itu, alur hidup kami berubah.
Malam itu, seusai mandi, ketika aku hendak mengenakan pakaian, pacarku mendadak masuk dan menekanku di atas ranjang.
"Sayang, aku menginginkanmu."
Suara rendahnya membuat jantungku berdegap lebih cepat. Secara refleks, aku membalas ciumannya, kedua tangan melingkari lehernya dan larut dalam sentuhan yang dia berikan.
"Um ...."
Aku mendesah pelan, sementara gairah menjalar ke sekujur tubuh.
Dia dengan lembut mencengkeram daguku, membuatku sepenuhnya luluh dan berserah dalam dekapannya.
"Pintu belum ditutup ... bisa dilihat orang ...."
Aku berkata lirih, tapi tangannya sudah bergerak bebas, menelusuri tubuhku.
"Tak apa-apa. Biarkan mereka lihat betapa bahagianya kita."
Dia berucap dengan nada menggoda, sementara jarinya bergerak, menyusuri area yang paling peka di tubuhku, membuatku tak kuasa menahan desahan lirih."
"Sayang, apakah kamu ingin mencoba sesuatu yang baru?"
Dia mendekat ke telingaku, lalu berkata dengan suara yang berat dan memikat.
"Hal baru apa?"
Aku merespons dengan kesadaran yang samar, sepenuhnya larut dalam sensasi nikmat yang menguasai diri.
"Hm ... kamu paham maksudku, bersama ... orang lain ...."
Dia terlihat ragu, tapi di balik itu terselip hasrat yang mulai bersemi.
Aku seketika paham maksudnya dan terkejut sampai mata terbelalak.
Aku bukan orang yang tidak memahami tata krama, tapi usulan beraninya tetap membuatku cukup terkejut.
Bahkan sebelum kujawab, dia telah menahanku dengan tubuhnya, menutup mulutku dan mencegahku untuk menolak. Aku hanya mampu mengeluarkan suara lirih yang tak jelas, sepenuhnya berada di bawah kendalinya.
Pada saat yang sama, bayangan besar jatuh ke ranjang. Aku mendongak dan melihat sosok tinggi serta kekar berdiri di ambang pintu.
Dia adalah Wendy Damian, teman baik pacarku.
Dia bersandar pada kusen pintu, sementara pandangannya yang membara menelusuri tubuhku.
"Kimmy, kamu memang sangat cermat. Bahkan perawatan bulu pun dilakukan sangat menyeluruh."
Wendy berseloroh dengan tatapan nakal.
Aku segera mendorong pacarku, lalu meraih rok pendek di ranjang untuk menutupi diri.
Namun tatapan Wendy masih terpaku padaku.
"Sudah, sudah. Jangan lihat lagi. Apakah pacarmu sendiri belum cukup untuk dipandang?"
Meski bukan pertama kali dia melihatku tanpa busana, aku tetap merasa malu dan segera meraih rokku untuk menutupi diriku.
Aku berniat menutup pintu sebelum mengenakan pakaian, tapi Wendy masih berdiri di ambang, sehingga aku hanya dapat memakai rok pendek dulu.
Aku mengeluarkan penutup dada dari tas untuk menutupi bagian dada, tapi mendapati Wendy masih menatapku tanpa teralihkan.
Aku memelototinya. "Masih lihat? Matamu seolah nggak mampu berpaling!"
Wendy tertawa terbahak tanpa sungkan. "Jangan mengancamku, Sayang. Yang sulit dilepas justru menyenangkan, tapi bukan pada mata!"
Pipiku memerah. Aku memalingkan tubuh untuk memasang penutup dada, lalu memilih dan mengenakan celana dalam berpotongan tanga.
Saat ini, pacarku kembali bersikap jahil dan menepuk pelan pantatku.
"Kalau Luna tak mengizinkanmu masuk ke kamarnya, datang saja ke tempat kami. Postur tubuh Kimmy sangat baik. Kebahagiaan lebih bermakna bila dinikmati bersama."
Aku berbalik dan pura-pura marah. "Kamu ini malah merelakan dirimu sendiri dikhianati."
Pacarku berkata sambil tersenyum, "Untuk apa takut? Aku juga nggak rugi. Dia akan menukar Luna denganku."
Mendengar hal itu, wajah dan telingaku memerah. Di dalam hati, timbul debar yang beriak pelan.
Apakah mereka beneran ....