NovelRead
Open the NovelRead App to read more wonderful content

Bab 7

Wajah Aluna sempat memucat, namun dia tetap menuruti kata-kata Arga. Dia turun dari mobil dan bertukar posisi dengannya. Dia memaksa dirinya menatap lurus ke depan, fokus menyalakan mesin, lalu kembali menyatu dengan arus lalu lintas. Namun, ruang di dalam mobil begitu sempit. Apa yang terjadi di kursi belakang sama sekali tak mungkin diabaikan. Suara kecupan yang rapat, erangan Salsa yang tak tertahankan, serta napas berat Arga, bagaikan jarum-jarum tak kasatmata yang menusuk telinga Aluna tanpa henti. "Uh ... Arga ... nggak ... jangan ... " Tiba-tiba Salsa menolak sambil terisak, "Ibuku pernah bilang ... sebelum menikah ... aku nggak boleh melakukannya ... dan harus ... harus menunggu malam pertama ... " Lalu Aluna mendengar suara Arga yang begitu lembut, yang belum pernah dia dengar sebelumnya. Dia begitu sabar, dan berkata dengan suara dalam yang tertahan, "Sayang, aku tahu. Aku menghormatimu. Jangan takut. Kita nggak perlu sampai sejauh itu. Aku bantu dengan tanganku saja, ya? Biar kamu merasa lebih nyaman." "Lalu ... lalu bagaimana denganmu? Sepertinya kamu juga sangat tersiksa ... " Suara Salsa terdengar lembut dan menggoda. "Aku nggak apa-apa, yang penting kamu merasa nyaman." Suara Arga begitu lembut, seolah bisa meneteskan air. Setelah itu, terdengarlah suara-suara yang makin membuat wajah memanas. Di bawah sentuhan Arga, Salsa tampak lebih rileks, dan mulai mengeluarkan dengusan-dengusan kecil penuh rasa lega dan nyaman. "Sudah terasa nyaman?" tanya Arga dengan suara rendah, nada suaranya penuh dengan kemesraan. "Mm ... Arga ... enak sekali ..." "Kalau begitu bagus." Arga terkekeh pelan sambil mengecupnya, "Nanti saat kita menikah, aku akan membuatmu merasa lebih nyaman lagi." Aluna teringat saat bersamanya selama lima tahun. Di ranjang, Arga memang pernah berusaha menyenangkannya, tetapi dia lebih sering mementingkan kepuasannya sendiri, dengan sikap menuntut dan sulit ditolak. Arga tidak pernah bersikap sabar dan lembut seperti pada Salsa saat ini, bahkan rela menahan dirinya sendiri demi mendahulukan perasaan dan kenyamanan orang lain. Sepanjang perjalanan, Aluna menyetir dengan tenang dan stabil, hingga akhirnya mobil berhenti di bawah gedung apartemen sewaan tempat dia tinggal. Suasana di kursi belakang akhirnya mulai mereda. Aluna menepikan mobil, dan secara refleks menengok ke kaca spion. Tepat pada saat itu, pandangannya bertemu dengan mata Arga, yang baru saja merapikan pakaian Salsa. Tatapannya masih menyimpan sisa-sisa hasrat yang belum memudar. Ketika melihat mata Aluna yang sedikit memerah, tampak lelah, dan sedih, alisnya langsung berkerut tidak senang. Suaranya menjadi dingin, disertai nada kesal yang tak bisa dijelaskan. "Jangan menatapku seperti itu. Aku dan Salsa adalah pasangan. Melakukan hal ini saat dimabuk cinta adalah hal yang wajar. Simpanlah pikiranmu yang nggak-nggak itu." Hati Aluna tersayat. Dia membuka mulut, ingin menjelaskan bahwa matanya hanya terkena debu dan merasa sedikit perih. Bukan karena dia sedih melihat mereka bercinta. "Arga ... " ucap Salsa lembut, sambil bersandar pada Arga dengan pipi yang masih memerah. "Aku ... aku ingin ke rumah Aluna sebentar, dan pakai kamar mandinya untuk merapikan diri, boleh?" Arga segera menatapnya dan menjawab dengan hangat, "Boleh." Dia menuntun Salsa turun dari mobil, lalu menoleh ke Aluna yang masih duduk di kursi pengemudi, memberi isyarat agar dia memimpin jalan. Aluna menelan kata-kata penjelasannya, dan diam-diam turun dari mobil, lalu membawa mereka naik ke lantai atas. Salsa masuk ke kamar mandi. Baru saat itulah Arga punya kesempatan menatap apartemen kecil tapi rapi itu dengan alis semakin mengerut. "Kamu tinggal di tempat seperti ini?" Dia mengejek dingin sambil menatap tajam ke arah Aluna. "Apa karena jalan ini adalah rute yang harus kulalui setiap hari, dan kamu bisa terus bertemu denganku?" Aluna membuka mulut dan ingin mengatakan kalau tempat ini murah, tapi kalimatnya terhenti karena Arga memotongnya. "Aku tahu kamu masih belum bisa melepaskanku, tapi kita sudah berakhir." "Aku ... " Pintu kamar mandi terbuka, dan Salsa keluar. Meskipun sudah merapikan diri, masih ada sedikit aura manja dan hasrat yang tersisa di wajahnya. Arga langsung menghentikan kata-katanya, menatap Aluna dalam-dalam, lalu memeluk Salsa dan pergi meninggalkan tempat itu. Pintu tertutup rapat, memisahkan Aluna dari dunia luar. Aluna menatap pintu yang tertutup rapat, dan semua keinginan untuk menjelaskan menghilang begitu saja. Sudahlah ... Biarkan Arga berpikir sesuka hatinya. Lagi pula, mereka juga tidak akan bertemu lagi ke depannya. Namun, tak disangka, baru beberapa hari dia menikmati ketenangan, telepon dari Arga kembali datang.

© NovelRead, All rights reserved

Booksource Technology Limited.