Bab 5
Arga secara refleks meraih tubuh Aluna yang ambruk.
Darah hangat langsung mengalir deras, membasahi tangannya.
Aluna membuka mulutnya, tapi tak bisa mengeluarkan suara apa pun. Kesadarannya perlahan terseret ke dalam kegelapan.
Saat Aluna sadar, dia sudah berada di atas ranjang rumah sakit.
Rasa sakit tajam di perutnya mengingatkannya akan apa yang terjadi.
Begitu membuka mata, dia melihat Arga duduk di tepi ranjang.
Ekspresinya terlihat rumit, matanya merah karena kurang tidur. Begitu melihat Aluna terbangun, dia langsung berbicara dengan nada serius seperti belum pernah terdengar sebelumnya.
"Kenapa kamu menahan pisau untukku?"
Aluna merasa tenggorokannya kering, dan dengan susah payah ingin menjelaskan bahwa itu hanyalah kecelakaan, karena dia didorong dari belakang.
Namun Arga memotong ucapannya. Tatapannya dipenuhi kegelisahan dan keyakinan yang tak bisa Aluna pahami. "Aluna, aku tahu kamu masih menyukaiku, bahkan sampai rela mempertaruhkan nyawa untukku. Tapi aku sudah bilang dengan jelas. Sekarang, aku hanya mencintai Salsa."
Seolah telah mengambil keputusan, Arga mengeluarkan buku cek dari sakunya, menulis satu cek lagi, lalu meletakkannya di meja samping ranjang, berdampingan dengan cek sebelumnya.
"Karena kemarin nggak kamu ambil, kali ini aku tambah 20 miliar lagi," katanya sambil berdiri, tanpa menatap Aluna lagi. "Ambil uang ini. Ke depannya ... jangan pernah muncul lagi di hadapan kami. Salsa itu polos dan mudah merasa nggak aman. Aku nggak mau dia sedih karena kamu."
Setelah itu, Arga berbalik dan pergi tanpa ragu.
Aluna menatap dua lembar cek yang terasa menyilaukan itu. Namun, rasa sakit di perutnya bercampur dengan perih di hati, membuatnya tak punya tenaga untuk tersenyum pahit.
Dia memejamkan mata dan hanya merasakan rasa lelah yang tak berujung.
Beberapa hari kemudian, luka Aluna mulai membaik, dan dia sudah bisa keluar dari rumah sakit.
Saat mengurus administrasi, dia secara tak sengaja bertemu Arga yang sedang mengantar Salsa untuk mengurus keluar rumah sakit juga.
Saat melihatnya, Salsa segera melangkah mendekat, wajahnya memancarkan kepedulian, sekaligus sedikit rasa superior yang sulit disembunyikan. "Aluna, lukamu sudah sembuh? Terima kasih sudah menahan pisau untuk Arga waktu itu. Aku tahu perasaan selama lima tahun itu sulit dilupakan, tapi sekarang dia adalah pacarku. Aku harap kamu bisa mengerti. Merusak hubungan orang lain itu nggak baik."
Aluna tak bisa menjelaskan bahwa itu hanyalah kesalahpahaman, apalagi soal perjanjian antara dia dan Jordan.
Dia hanya bisa menjawab dengan wajah pucat, "Tenang saja, aku nggak akan mengulanginya lagi."
Arga, yang berdiri di samping, mendengar ucapan itu sambil menatap Aluna. Melihat wajahnya yang begitu tenang, seolah benar-benar sudah melepaskan segalanya, tiba-tiba muncul rasa kesal yang tak jelas di dadanya.
Setelah selesai mengurus administrasi, Aluna berbalik hendak pergi.
"Aluna!" Salsa tiba-tiba menahannya, nadanya terdengar ramah. "Kamu mau pulang? Kebetulan kami juga. Sekalian saja kami antar. Di sini susah dapat taksi, lagi pula hujan. Nggak aman kalau kamu sendirian."
Secara refleks Aluna mencoba menarik tangannya. "Nggak perlu, terima kasih."
"Ah, jangan sungkan, kebetulan searah kok ... "
Saat mereka tarik-menarik, tas yang tersampir di lengan Aluna terlepas dan jatuh ke lantai, isinya langsung berhamburan.
Di antara barang-barang yang berserakan, dokumen yang selama ini Aluna simpan dengan sangat hati-hati yaitu perjanjian kerahasiaan yang ditandatangani bersama Jordan, ikut terjatuh dan meluncur tepat ke kaki Arga.
"Apa ini?"
Suara Arga terdengar dingin. Dia membungkuk dan mengambil dokumen itu.
Jantung Aluna seakan berhenti sesaat. Hampir tanpa sadar, dia langsung menerjang ke depan dan merebut kembali berkas itu dari tangan Arga.
"Bukan apa-apa ... cuma kontrak rumah yang baru saja aku beli," katanya gugup.
Alis Arga langsung mengerut. Tatapannya tajam seperti pisau, menyapu wajah Aluna yang pucat.
Kepanikan Aluna saat itu jelas tidak terlihat seperti reaksi seseorang yang hanya menjatuhkan kontrak pembelian rumah biasa.