Bab 5
[Putri tersayang:]
[Saat kamu membaca surat ini, seolah-olah kita sedang saling menatap. Semoga saat membuka surat ini, wajahmu tersenyum.]
[Saat kamu melihat surat ini, apakah kamu sudah tumbuh besar? Maaf, Ibu berbohong padamu, nggak bisa menemanimu tumbuh dewasa. Sebenarnya Ibu pergi menemui kakek dan nenekmu ....]
Sebastian menutup surat itu dengan keras.
Dengan tatapan agak kosong, dia memandang putriku. "Karena ini surat yang dia tinggalkan untukmu, sebaiknya aku nggak membacanya."
Sebastian bergumam, "Sifatnya keras, dia pasti akan menyalahkanku."
Meski berkata begitu, tangannya justru mencengkeram surat itu erat-erat.
Aku terdiam.
Asal dia mau melihatnya sedikit saja, dia akan tahu kenapa dulu aku pergi.
Karena sekarang di sisinya sudah ada orang yang menemaninya, itu berarti dia sudah keluar dari bayang-bayang masa lalu.
Kalaupun tahu kebenaran saat itu, mungkin dia tidak akan terlalu terluka.
Asal ke depannya dia bisa memperlakukan putri kami dengan baik.
Aku tidak apa-apa.
M

Locked chapters
Download the NovelRead App to unlock even more exciting content
Turn on the phone camera to scan directly, or copy the link and open it in your mobile browser
Click to copy link