NovelRead
Open the NovelRead App to read more wonderful content

Bab 2

Elisa berkata sambil tersenyum mengejek. Raut wajah anggota Keluarga Muran memasam. "Ayah, Elisa datang untuk minta maaf. Ini salahku karena nggak mendisiplinkannya dengan benar dan biarkan dia buat masalah sebesar ini." Kevin sama sekali tidak mengungkit Nita, benar-benar membebaskannya dari tanggung jawab. Situasi langsung berubah. "Dasar memalukan! Waktu itu harusnya aku nggak biarkan kamu masuk ke keluarga ini!" Hasan Muran, ayah Kevin mengambil tongkat, lalu memukulnya. Elisa terjatuh di lantai dengan kepala yang berlumuran darah. Dia teringat dengan kejadian tiga tahun yang lalu saat dia dikirim ke Keluarga Muran untuk belajar tata krama .... Setelah ibunya dibunuh oleh Dito Yanas dan selingkuhannya, Elisa langsung tersesat. Awalnya Elisa membuat masalah di rumah dan sering menampar selingkuhannya. Bahkan kedua anak haramnya yang belum bisa berjalan juga sering dipukul olehnya. Setelah itu Elisa bosan menjadi pengganggu di rumah, ditambah ayahnya juga menyewa pengawal. Jadi dia mulai membuat masalah di luar. Dia merokok, minum alkohol, berkelahi dan balapan mobil. Dia akan melakukan apa pun untuk membuat ayahnya marah, bahkan berlari telanjang di jalanan. Setelah itu, Elisa mulai bermain dengan pria. Karena kecantikannya, terdapat banyak anak orang kaya dan mahasiswa memperebutkannya setiap hari. Di saat yang paling tidak terkendali, pria yang berbeda-beda muncul setengah telanjang dari kamar Elisa selama tiga bulan berturut-turut. Pada ulang tahun Dito yang ke-60, terdapat 120 pria yang secara bersamaan memberinya kue sebagai menantunya. Dito langsung mengalami serangan jantung. Hal pertama yang Dito lakukan setelah keluar dari ruang operasi adalah mengirimnya ke Keluarga Muran untuk belajar tata krama. Bagaimana mungkin Elisa menyetujui hal ini? Pada hari pertamanya, Elisa dipaksa memasak oleh kepala pelayan. Tapi dia membakar dapur. Dia dikurung di ruang bawah tanah karena membantah. Setelah dibebaskan, Elisa segera membeli bahan peledak dan meledakkan seluruh vila. Di sebuah perjamuan, Elisa ditegur oleh seorang tetua karena tidak sopan. Dia langsung menendang orang itu sampai mematahkan tiga tulang rusuknya dan dibawa ke rumah sakit. Elisa seperti seekor anjing gila. Meski dipukul sampai terluka, meski melawan hanya akan mendatangkan hukuman yang lebih berat, Elisa akan membuka mulutnya dan menyerang siapa pun selama dia masih bernapas. Sampai Kevin kembali dari studinya di luar negeri. Pria itu berdiri di tepi pantai, lalu melihat Elisa yang dipaksa merenungkan tindakannya di tengah danau yang dingin. "Mulai hari ini, kamu akan tinggal bersamaku." Itu adalah pertama kalinya Elisa melihat seseorang tersenyum padanya sejak memasuki Keluarga Muran. Mantel Kevin yang masih hangat, menghangatkan tubuhnya dan menenangkan hatinya yang telah lama membeku. Kevin berbeda. Sebagai orang yang berkuasa, Kevin tidak mengendalikan Elisa. Dia sangat toleran terhadap segala hal kecuali masalah prinsip. Bahkan saat mobilnya dirusak dan hewan peliharaannya dimasak, pria itu hanya akan berkata dengan santai, "Jangan lakukan hal itu lagi." Sebagai seorang pria, meski mengetahui masa lalu Elisa yang kacau, Kevin tidak pernah menatapnya dengan tatapan hina. Bahkan saat Elisa sengaja mengenakan pakaian yang terbuka untuk menggodanya, Kevin hanya akan mendesah. Kemudian menyuruh Elisa menyalin kitab suci untuk membersihkan pikirannya. Elisa belum pernah melihat pria seperti ini. Karena dia dikelilingi oleh tipu daya dan pengkhianatan. Para pria menginginkan tubuhnya, para wanita iri dengan kecantikannya. Kerabat menginginkan warisan yang ditinggalkan ibunya. Bahkan ayah yang mengaku bertindak demi kebaikannya, hanya ingin menjualnya dengan harga yang tinggi. Elisa tidak memedulikan hal ini. Dia jatuh cinta pada Kevin yang sangat kolot, jadi Elisa berusaha keras untuk menyenangkan pria itu. Memperlihatkan perutnya dan menyembunyikan cakar tajamnya demi Kevin. Bahkan rela menerima aturan Keluarga Muran dan terkekang seumur hidupnya. Setelah itu mereka bertunangan. Selama dua tahun ini, Kevin tidak pernah bertindak melewati batas. Bahkan saat Kevin terkena obat bius di perjamuan dan Elisa menawarkan bantuan, pria itu lebih memilih untuk mengiris tubuhnya dengan belati agar bisa tetap terjaga daripada menyetujui tawarannya. Elisa mengira pria itu menghormatinya. Sampai 7 hari yang lalu, Elisa terbangun oleh suara guntur di tengah malam dan pergi mencari Kevin yang sedang lembur di ruang kerjanya. Tapi dia malah melihat pria itu berdiri di samping tempat tidur Nita sambil bermasturbasi di depan punggungnya yang telanjang .... Ternyata orang suci juga bisa memiliki keinginan duniawi. Ternyata apa yang disebut pengekangan hanya untuk menunggu seseorang membangkitkan hasratnya.

© NovelRead, All rights reserved

Booksource Technology Limited.