Bab 4
Selama tiga hari dirawat inap, Wenny tidak menelepon satu kali pun. Dokter penanggung jawab sampai tidak tahan melihatnya, lalu berkata dengan pasrah, "Sekalipun ini masa tenang sebelum perceraian, setidaknya datanglah untuk menandatangani dokumen, 'kan?"
Stefano tidak menjawab, hanya menatap ke luar jendela, terdiam tanpa kata.
Terlalu sering kecewa, hatinya sudah lama hancur, mana mungkin masih ada ruang untuk bersedih.
Dokter penanggung jawab menggelengkan kepala, bergumam sendiri. "Seorang istri yang bahkan berharap suaminya mati ... memang, apa bedanya kalau dia datang atau nggak?"
Setelah berkata demikian, dia pun pergi.
Stefano tidak merasa sedih, malah merasa lega. Tidak perlu melayani ibu dan anak yang tak berperasaan itu, juga tidak perlu melihat pemandangan menjijikkan keluarga bertiga tersebut. Sebenarnya, ini cukup baik.
Saat dokter memberi tahu bahwa dia sudah boleh pulang, Stefano justru enggan. Kalau saja bisa tinggal dua puluh hari lagi, maka setelah keluar dari rumah sakit, dia bisa langsung meninggalkan kota ini.
Sayangnya, rumah sakit punya aturan, dia hanya bisa menuruti.
Begitu Stefano pulang ke rumah, dia mendapati vila itu kosong. Susu di lantai sudah berjamur, udara dipenuhi bau busuk.
Noda darah yang tertinggal sudah menghitam, terlihat begitu mengerikan.
Dia pun sadar, Wenny membawa anaknya menemani mantan pacarnya selama beberapa hari dan tidak pulang, pantas saja belakangan ini tidak ada kabar.
Wenny sengaja bersikap dingin padanya. Setiap kali Stefano tidak menuruti kemauannya, dia akan menghilang beberapa hari, menunggu sampai pria itu berlutut memohon damai.
Stefano ingat ekspresi bengis Wenny saat memaksanya menelan bubur seafood, wajah itu masih jelas di depan matanya. Dia menghela napas, ternyata manusia bisa seburuk itu.
Linimasa media sosial Sandy kembali diperbarui, dia memposting sebuah foto.
Tiga orang dalam keluarga kecil itu berjalan menyusuri pantai, tangan orang dewasa menggenggam tangan mungil anak mereka.
Keterangan foto.
[Hari-hari tenang dan indah.]
Kalau dulu, Stefano mungkin sudah cemburu sampai gila. Namun sekarang, hatinya sama sekali tak bereaksi. Mereka bertiga memang pasangan yang sempurna. Setelah dia pergi nanti, sebaiknya mereka saling mengunci satu sama lain dan jangan mencelakai orang lain.
Baru saja Stefano mengunci ponselnya, sebuah rekaman suara masuk.
[Zian, kalau papamu tahu kamu temani Om ke pantai untuk menenangkan pikiran, apa dia akan marah?] Itu suara Sandy, dengan tawa sombong.
[Dia cuma pengasuh nggak berguna, dia nggak berhak mengaturku. Ayah teman-teman di TK semuanya tinggi dan tampan, papaku malah pincang, memalukan.]
Nada bicara Zian dipenuhi kebencian, diucapkannya dengan geram.
Sandy bertanya lagi, [Kalau begitu, kamu lebih suka sama Om atau papamu?]
Zian menjawab dengan penuh semangat, [Tentu saja aku suka Om Sandy. Aku berharap ayah cepat-cepat bercerai dan keluar dari rumah ini, supaya Om Sandy bisa bersama Mama. Mama sebenarnya sangat menyukaimu, aku juga suka kamu. Om Sandy, mau nggak jadi papa baruku?]
Sandy pura-pura ragu. [Nggak boleh begitu. Kalau papamu mendengarnya, dia bisa sangat sedih.]
Zian mencibir. [Lebih baik dia mati saja. Tahun lalu, demi menyelamatkanku, kakinya sampai remuk. Seandainya waktu itu langsung tergilas sampai mati, malah lebih baik.]
Meski sudah kecewa pada anaknya, mendengar kata-kata sekejam itu tetap membuat tubuh Stefano terasa dingin.
Jelas itu suara anak kecil yang masih polos, bagaimana bisa begitu dingin dan kejam?
Sandy mengirim satu rekaman suara lagi.
[Hati Wenny dan anakmu sudah jadi milikku. Masih punya muka untuk bertahan di sini? Cepat angkat kaki!]
Hati Stefano sudah lama hancur, jadi dia sama sekali tidak bereaksi menghadapi provokasi Sandy. Tidak seperti yang diharapkan lawannya, dia tidak histeris, tidak menderita setengah mati.
Dengan wajah tanpa ekspresi, dia merapikan hadiah yang sudah disiapkannya untuk Zian, lalu langsung membuangnya ke tempat sampah.
Istrinya hampir saja membuatnya mati. Wanita itu tidak peduli hidup dan matinya, malah menemani cinta pertamanya pergi bersantai ke Kota Sanyara.
Anak yang dirawatnya selama lima tahun, malah mengutuknya mati demi mendapatkan ayah baru.
Stefano melirik kaki kirinya yang sudah cacat, lalu tersenyum mengejek diri sendiri. Mungkin inilah hukuman terbesar dari Tuhan bagi seorang penjilat cinta.
Dia melihat tanggal, masih ada dua puluh hari lagi sebelum benar-benar bebas.
Dalam dua puluh hari ini, dia harus mencintai dirinya sendiri dengan baik.
Sejak menikah, kehidupan Stefano hanya berputar di sekitar ibu dan anak itu. Hidupnya sama sekali bukan miliknya sendiri, melainkan seperti anjing di rumah. Tidak, bahkan lebih buruk dari seekor anjing.
Maka, dalam beberapa hari berikutnya, Wenny tetap bersikap dingin, memaksanya untuk menunduk.
Stefano mengunjungi sebagian besar tempat wisata di kota itu, menyusuri Sungai Linau yang panjangnya berkilo-kilo meter dengan perahu, berziarah ke Candi Agreya, bahkan pergi ke Gunung Awani untuk menyaksikan matahari terbit.
Berdiri di atas kapal yang melaju di Sungai Linau, dia menikmati pemandangan alam.
Tiba-tiba dia merasa, kehidupan yang dijalaninya dulu sama sekali bukan hidup, melainkan diperlakukan seperti budak. Bukan hanya waktunya, bahkan hidup dan matinya pun tak bisa dia kendalikan sendiri.
Di puncak Gunung Awani, dia menyaksikan matahari yang terbit di timur bersama sekelompok anak muda dan menyadari betapa kecilnya dirinya.
Yang disebut cinta dan kasih sayang keluarga, tak lebih dari kebohongan terbesar di dunia.
Stefano merasa, manusia seharusnya mencintai dirinya sendiri.
Setelah kembali dari Gunung Awani, dia sengaja memilih restoran termahal di tepi danau. Selama bertahun-tahun menikah, Wenny selalu merendahkannya karena dia pincang dan dianggap tidak pantas tampil di depan umum, sehingga tak pernah membawanya keluar.
Saat mendampingi Wenny bangkit kembali dari keterpurukan, dia telah menabung cukup banyak uang. Dia juga memiliki lima persen saham perusahaan.
Dia memilih tempat duduk dekat jendela dengan pemandangan terbaik, menikmati panorama danau sambil mencicipi hidangan lezat.
Dia pun menghela napas dalam, inilah yang disebut hidup.
Sayangnya, perasaan indah itu langsung padam saat dia melihat tiga orang yang masuk.