NovelRead
Open the NovelRead App to read more wonderful content

Bab 1

Nadia Amrani adalah gadis manis yang tumbuh dengan penuh perhatian dan kasih sayang. Namun dia justru jatuh cinta pada Darian Prasetya, seorang playboy yang terkenal di kalangan mereka. Nadia berjuang keras hingga akhirnya berhasil menjadi kekasih Darian. Demi tetap berada di sisinya, Nadia mempelajari berbagai posisi, memainkan berbagai permainan dengan Darian, dan memenuhi hasrat pria itu siang dan malam. Saat gairah mereka memuncak, Darian kerap membisikkan kata-kata lembut di telinganya ... "Sayang, kamu hebat. Kamu cepat sekali belajar." "Rileks, jangan terlalu tegang." "Ya ... begitu Sayang, aku sangat mencintaimu." Nadia adalah perempuan yang paling lama bertahan di sisinya, hingga semua orang di sekeliling mereka mengira Darian benar-benar telah berubah. Hingga malam ini, setelah momen intim mereka di depan jendela besar, Darian membawa Nadia ke sebuah pesta. Ruang VIP itu dipenuhi lampu gemerlap dan musik keras yang mengentak. Suasananya sama memabukkan seperti biasanya, membuat mata hampir tak bisa menangkap apa-apa. Darian menggenggam tangan Nadia dan menuntunnya duduk di kursi utama. Seorang pria berpakaian rapi mendekat, menatapnya dengan senyum sinis dan penuh main-main. "Darian, sepertinya kamu benar-benar berubah, ya? Sekarang kamu jadi playboy yang bertobat?" Darian tersenyum dan mengangkat tangan mereka yang saling menggenggam. "Dia cinta sejatiku." Kedua pria itu tertawa dan bersulang, namun detik berikutnya mereka mulai berbicara dalam bahasa Presnia. "Darian, kamu benar-benar jatuh cinta?" "Lalu bagaimana dengan tunanganmu? Dia kan putri Keluarga Zaraya yang sepadan denganmu. Apalagi sepuluh hari lagi kalian akan menikah. Apa kamu mau membatalkan pernikahan?" Darian mengangkat alisnya dan tersenyum ringan "Ya, aku memang jatuh cinta ... tapi pada tubuhnya." "Pernikahan tetap akan berlangsung. Aku hanya menikahi istri yang sepadan." "Sedangkan wanita ini? Hanya mainan saja." Nadia yang duduk di samping merasa seluruh darah dalam tubuhnya seolah membeku. Tangan mereka saling menggenggam, dan Nadia masih bisa merasakan hangatnya genggaman Darian. Namun, hatinya jatuh ke jurang es. Tunangan? Telinganya berdenging, pikirannya kosong. Darian ... punya tunangan? Dan dirinya ... hanya sebuah mainan? Tapi yang paling mengejutkan Nadia bukan itu semua, melainkan kata-kata, "Putri Keluarga Zaraya yang sepadan." Sejauh yang dia tahu, satu-satunya keluarga yang sepadan dengan keluarga Darian hanyalah Keluarga Zaraya di Bayura. Keluarga Zaraya di Bayura hanya memiliki seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Sang putri jarang sekali muncul di hadapan publik. Dan Nadia ... adalah putri tunggal Keluarga Zaraya, seorang putri yang terhormat. Hanya saja sejak kecil dia memakai nama belakang ibunya. Nadia duduk pucat di tempatnya. Darian yang menyadari ketegangan di wajahnya, dengan lembut membelai kepalanya. "Sayang, kami sedang membicarakan kerja sama, dan ada beberapa istilah profesional. Bukan maksudku sengaja menggunakan bahasa yang kamu nggak mengerti." Rasa tak berdaya menarik hati Nadia terus jatuh. Tenggorokannya terasa sesak, tapi dia tetap berpura-pura tenang sambil berkata ... "Nggak apa-apa, kalian lanjut saja. Aku ke kamar mandi sebentar." Setelah itu, dia berdiri dan melangkah keluar dari ruang VIP dengan langkah sedikit goyah. Di depan wastafel, Nadia menatap bayangan wajahnya yang pucat di cermin, air mata tiba-tiba jatuh tanpa bisa ditahan. Sebagai putri Keluarga Zaraya, dia menguasai delapan bahasa internasional. Mana mungkin dia tidak mengerti bahasa Presnia. Tiga tahun lalu, di sebuah pelelangan, Nadia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Darian. Namun reputasi Darian yang playboy membuat ayahnya sangat menentang hubungan itu. Untuk mendapatkan izin sang ayah, Nadia sampai melakukan aksi mogok makan. Akhirnya, sang ayah yang mencintai putrinya menyerah juga. Ayahnya mengizinkan Nadia mengejar Darian, tapi dengan satu syarat yaitu identitasnya sebagai putri Keluarga Zaraya tidak boleh terbongkar. Ayahnya harus yakin bahwa Darian benar-benar mencintai Nadia sebagai dirinya sendiri, bukan karena status keluarganya. Sejak saat itu, selama tiga tahun penuh, Nadia tidak lagi menghubungi siapa pun dari Keluarga Zaraya. Rasa perih dan kebingungan menyesak dadanya hingga hampir meledak. Setelah ragu beberapa detik, dengan tangan gemetar dia menekan nomor kakaknya, Aldo. Panggilan itu langsung tersambung. Suara pria di seberang terdengar bergetar. [Nadia?] Begitu mendengar suara yang begitu dikenalnya, mata Nadia langsung memerah. Dia membuka mulut, menahan sakit di tenggorokan. "Kak ... ini aku." "Kakak punya adik baru ya? Atau ... Ayah punya anak perempuan lain?" "Kalau begitu ... kalian benar-benar sudah nggak menginginkanku lagi?" Nada panik segera terdengar dari seberang. [Mana mungkin! Aku hanya punya satu adik perempuan, dan itu kamu!] Sebelum Nadia sempat menjawab, terdengar kegaduhan di ujung sana. Lalu suara ayahnya yang serak masuk ke sambungan. [Nadia?] [Nadia, Ayah cuma punya satu anak perempuan. Kamu akan selalu menjadi putri satu-satunya Keluarga Zaraya.] Nada cemas itu seolah menembus jarak dan menarik hati Nadia kembali dari jurang dingin. Dia berusaha keras menahan tangis, tetapi napasnya mulai bergetar. [Nadia, apa pun yang terjadi, pintu rumah selalu terbuka untukmu.] [Ayah selalu menunggumu pulang.] Nadia menyeka air mata di sudut matanya, menarik napas dalam-dalam, lalu akhirnya berkata dengan tekad yang bulat. "Ayah ... aku ingin pulang." Begitu kalimat itu keluar, suara ayahnya di seberang telepon langsung berubah penuh kegembiraan. [Baik! Ayah akan segera mengirim pesawat pribadi untuk menjemputmu!] Nadia menggeleng pelan, lalu teringat bahwa orang di seberang telepon tidak bisa melihat gesturnya. Dengan suara serak karena menahan tangis, dia berkata ... "Nggak perlu, Ayah. Masih ada beberapa hal yang ingin aku selesaikan." "Sepuluh hari lagi, aku akan pulang sendiri." Setelah sambungan terputus, matanya sudah memerah dan sembap. Dia membuka keran dan membasuh wajahnya dengan air dingin, mencoba menenangkan diri. Namun tiba-tiba, pintu di belakangnya terbuka keras, dan sepasang lengan kuat melingkari pinggangnya. Sentuhan hangat yang begitu dikenalnya menembus kain tipis bajunya, membuat tubuhnya yang tegang bergetar tanpa sadar. "Sayang, kamu nggak enak badan? Kenapa lama sekali di sini?" Suara pria itu tetap lembut, dan terselip kekhawatiran. Nadia perlahan berbalik. Dengan mata yang masih basah, dia menatap langsung ke arah Darian, menahan segala perasaan yang bergolak di dadanya. "Darian ... apa kamu akan menikahiku?"
Previous Chapter
1/16Next Chapter

© NovelRead, All rights reserved

Booksource Technology Limited.