NovelRead
Open the NovelRead App to read more wonderful content

Bab 1

Alice dikenal sebagai wanita jelek di kalangan mereka. Poni tebal menutupi setengah wajahnya, kacamata berbingkai hitam setebal dasar botol. Wajahnya selalu dilapisi bedak kusam, bibirnya dipulas lipstik gelap hingga garis bibirnya tampak kabur. Saat berjalan di jalanan, tidak ada seorang pun yang meliriknya lebih lama. Namun tidak ada yang tahu, semua itu dia lakukan dengan sengaja. Semata-mata karena ibunya. Dulu, ibu Alice adalah seorang wanita cantik yang terkenal. Dia dinikahi ayah Alice setelah dikejar tanpa henti, tapi belum genap tiga tahun menikah, ayahnya mulai sering selingkuh. Ibu Alice berubah dari terluka menjadi putus asa, hingga akhirnya meninggal karena depresi. Menjelang ajalnya, ibu Alice menggenggam tangan Alice yang baru berusia sepuluh tahun. Dia menatap wajah putrinya yang meski masih kecil namun sudah memperlihatkan kecantikan luar biasa. Dengan sisa tenaga terakhirnya, dia berkata, "Alice ... ingat kata Ibu ... wanita yang terlalu cantik akan mudah ditipu pria ... nggak akan berakhir baik ... kamu harus melindungi dirimu sendiri ... sembunyikan wajahmu baik-baik ...." Alice mengingatnya. Sejak saat itu, dia mulai berpura-pura jelek. Poninya semakin tebal, kacamatanya semakin berat dan dia selalu memilih warna pakaian yang paling tidak mencolok. Ayahnya mengaturkan tidak terhitung banyaknya kencan buta untuknya, tapi setiap pria langsung kabur begitu melihat penampilannya. Pada kencan buta ke seratus, Alice duduk di sebuah kafe. Di hadapannya duduk seorang pria dengan jas rapi. Begitu pria itu melihatnya, keningnya langsung berkerut. "Nona Alice." Dia membuka mulut, suaranya penuh rasa jijik yang sama sekali tidak disembunyikan, "Orang yang mengenalkan kita nggak bilang kalau ... penampilanmu begini." Alice menunduk, tidak berkata apa-apa. "Terus terang saja, dengan penampilan seperti ini ... bagaimana kamu berani ikut kencan buta?" Pria itu mencibir. "Siapa yang mau menikahimu?" Alice menggenggam cangkir kopinya erat-erat. Pria itu mengangkat cangkir kopinya sendiri dan tiba-tiba menyiramkannya ke wajah Alice. "Riasan luntur lebih cocok denganmu." Cairan dingin mengalir di pipinya, bedaknya luntur, memperlihatkan kulit putih di baliknya. Alice mengangkat kepala dan hendak berdiri .... "Brak!" Sebuah tangan panjang terulur dari samping, mencengkeram pergelangan tangan pria itu dan memelintirnya dengan keras. "Aargh!" Pria itu menjerit kesakitan. "Minta maaf." Sebuah suara rendah dan dingin terdengar. Alice menoleh dan melihat seorang pria mengenakan setelan jas buatan khusus. Tubuhnya tinggi dan tegap, alis serta matanya tegas. Hidungnya mancung, bibirnya tipis terkatup rapat. Seluruh tubuhnya memancarkan aura dingin dan berkelas. Pada saat ini, dia mencengkeram pergelangan tangan pria tersebut, tatapannya sedingin es. "Siapa kamu?" Pria itu meronta. "Minta maaf." Dia mengulanginya. Suaranya tidak keras, tapi penuh tekanan yang tidak bisa dibantah. Pria itu terintimidasi oleh auranya. Dengan gemetar, dia meminta maaf pada Alice, lalu kabur tunggang-langgang. Pria itu melepaskan cengkeramannya, mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya, dan menyerahkannya pada Alice. "Lap dulu." Alice menerimanya dengan linglung. "Wanita nggak seharusnya diperlakukan seperti ini," katanya sambil menatap Alice dengan ekspresi tenang. "Kalau lain kali ketemu hal seperti ini lagi, langsung lapor polisi." Setelah berkata demikian, dia berbalik dan pergi. Alice berdiri di tempat, menatap punggungnya yang tegap hingga menghilang di pintu kafe. Jantungnya berdegup kencang. Dia mengingat pria itu. Setelah pulang, Alice mulai menyelidikinya. Namanya Dicky Tandayu, pewaris termuda Grup Tandayu. Usianya dua puluh enam tahun, telah memegang kendali perusahaan keluarga selama tiga tahun. Cara kerjanya tegas, kemampuannya luar biasa, dan dia diakui sebagai pria sempurna di kalangan mereka. Yang lebih langka lagi, kehidupan pribadinya bersih, tidak pernah terseret gosip. Alice jatuh hati. Namun sebelum dia sempat memikirkan cara mendekatinya, Dicky justru datang mencarinya lebih dulu. "Nona Alice." Dia duduk di ruang tamu Keluarga Danoca dan langsung ke inti persoalan. "Aku ingin menjalin pernikahan aliansi denganmu." Alice tertegun. "Kenapa aku?" tanya Alice. "Aku ... nggak cantik." Dicky menatapnya, ekspresinya tenang. "Penampilan nggak penting. Menurutku kamu ... sangat cocok." Cocok. Kata itu tidak romantis, tapi entah kenapa, saat keluar dari mulutnya, jantung Alice justru berdebar lebih cepat. Ibunya pernah berkata, wanita yang terlalu cantik akan mudah ditipu pria. Namun dia berpura-pura jelek, tapi pria ini justru ingin menikahinya. Alice merasa dia telah bertemu orang yang tepat. Selama tiga tahun pernikahan, Dicky memperlakukannya dengan sangat baik. Dia tidak pernah meremehkan penampilan Alice. Sebaliknya, setiap kali orang lain membicarakan rupa Alice, dia akan menggenggam tangannya dengan lembut dan berkata, "Alice, kamu baik-baik saja." Alice menyukai desain, Dicky pun menginvestasikan dana untuk membuka studio baginya. Pencernaan Alice tidak baik, Dicky selalu mengingat makanan pantangannya. Setiap kali pulang dari jamuan, dia pasti membawakan semangkuk bubur hangat. Saat ulang tahun Alice, seberapa sibuk pun Dicky, dia akan menunda pekerjaan dan menemaninya seharian penuh. Bahkan pernah suatu kali Alice mengalami kecelakaan mobil. Mobilnya terbalik ke dalam selokan dan bisa meledak kapan saja. Dicky tetap menerobos tanpa ragu, membongkar pintu mobil yang ringsek dengan tangan kosong, lalu menariknya keluar. Baru berjalan kurang dari sepuluh meter, mobil itu meledak. Dicky melindungi Alice dengan tubuhnya sendiri. Lidah api menyambar punggungnya, meninggalkan luka bakar parah. Saat Alice terbangun di rumah sakit, hal pertama yang dia tanyakan pada perawat adalah, "Di mana, suamiku? Bagaimana keadaannya?" "Luka bakar di punggung Pak Dicky cukup serius, tapi nggak mengancam nyawa," jawab perawat. "Dia ada di ruang sebelah." Alice langsung mencabut jarum infus dan berlari tertatih ke ruang sebelah. Saat hendak membuka pintu, dia mendengar suara Annisa, ibu Dicky dari dalam. "Dicky! Kamu menikahi wanita sejelek itu dan membuat seluruh keluarga kita jadi bahan tertawaan, sekarang kamu bahkan sengaja mempertaruhkan nyawamu demi dia! Sampai kapan kamu mau bertingkah gila seperti ini?" Tangan Alice berhenti di gagang pintu. Di dalam ruangan hening selama beberapa detik, lalu terdengar suara Dicky yang datar, tanpa emosi sedikit pun. "Ibu tahu apa yang aku inginkan." "Aku sudah menduganya! Semua yang kamu lakukan ini tetap demi Kathy!" Suara Annisa bergetar karena marah. "Aku kasih tahu ya, kamu adalah pewaris terbaik keluarga kita. Kathy sama sekali nggak boleh masuk ke keluarga ini! Meski kamu sangat mencintainya, tetap nggak ada gunanya! Sengaja memakai Alice untuk memprovokasi kami juga nggak ada gunanya!" Alice berdiri kaku di tempat, seluruh tubuhnya terasa dingin. Apa yang baru saja mereka ... bicarakan? Demi Kathy? Siapa Kathy? Ketakutan besar dan firasat buruk yang menghancurkan segalanya seketika menelannya seperti gelombang es yang dingin. Dia berpegangan pada dinding, mundur perlahan, lalu kembali bersembunyi di kamarnya. Beberapa detik kemudian, dengan tangan gemetar, dia mengeluarkan ponselnya dan mengirim sebuah pesan pada detektif swasta. [Selidiki Dicky dan Kathy. Semua hubungan yang ada di antara mereka, sedetail mungkin.] Setiap menit dan setiap detik menunggu balasan terasa seperti hukuman sayat. Kepalanya berdengung tanpa henti. Ucapan tajam Annisa tentang "sengaja menikahi yang paling tidak pantas" dan "demi Kathy", juga kalimat tenang Dicky, "Kamu tahu apa yang aku inginkan", terus terngiang di telinganya. Seperti pisau beracun yang mengoyak hatinya yang baru saja sedikit terasa hangat, hingga berdarah-darah. Akhirnya, data itu dikirim padanya. Alice membukanya dengan tangan gemetar. Di dalamnya terdapat setumpuk dokumen tebal, lengkap dengan banyak foto.
Previous Chapter
1/22Next Chapter

© NovelRead, All rights reserved

Booksource Technology Limited.